Pages

Rabu, 07 Desember 2016

Lain Ladang, Lain Ikannya..

yang saya ketahui, kenapa bahasa Jawa, atau bahasa politik di Jakarta hari ini cenderung bias, penuh intrik, kamuflase, tidak jelas dan tegas karena sejak zaman nenek moyang kita, bahasa di Jawa itu dekat dengan kekuasaan. jadi, jika salah omong sekecil apapun bisa menyebabkan pembunuhan, tidak hanya dirinya saja, tapi juga keluarga dan anak keturunannya..

lain dengan bahasa di tepi pantai, pusat perdagangan lama, pelabuhan seperti bahasa di Pantura, Pantai Timur Sumatera (Medan), Palembang dan Surabaya,, bahasa yang mereka gunakan cenderung lugas, tegas dan apa adanya.. terbuka dan jujur..

karena bahasa mereka dekat dengan pasar.. jika sedikit saja berbohong bisa gagal transaksi bisnisnya.. jika gagal transaksi bisnis bisa dipancung oleh Raja..

Indonesia Negara Hafidz

beberapa waktu lalu, ketika suasana politik masih tenang saya meyakini bahwa 20 tahun mendepan Indonesia akan menjadi negara yang memiliki hafidz sangat besar.. minimal tiap anak yang sekarang sekolah di sekolah yang memiliki program tahfidz akan hapal 1juz.. itu minimal.. ini trend kebudayaan Islam.

Islam yang sangat menggembirakan.. bahwa kebudayaan Islam akan berjaya di Indonesia, Al-Qur'an akan menjadi hafalan bagi tiap Muslim.

optimisme Indonesia menjadi negara tahfidz menjadi harapan ketika dunia pemikiran Islam di Indonesia digerus oleh tsunami politik yang melanda pasca reformasi. hampir tidak ada yang bertahan, semua pemikir Islam di Indonesia masuk ke dunia politik. mereka lebih terpanggil memperjuangkan persoalan politik daripada persoalan pemikiran Islam di Indonesia yang sekarang mati suri.

hampir semua pengamat politik Islam di Indonesia semua menyatakan bahwa secara konstitusional, perjuangan mengusung Islam sebagai dasar negara selalu kalah, minimal perjuangan mengusung calon pemimpin Islam selalu kandas.. baru beberapa waktu yang lalu, ketika mekanisme Pilkada mengalami perubahan, beberapa calon dari tokoh Islam bisa menjadi pemimpin daerah.

ketika banyak tokoh Islam memimpin daerah, muncul trend pemberlakuan syariat Islam secara formal, tapi ini terkesan hanya menjadi trend, pemberlakuan Perda syariat Islam karena aspeknya sangat luas jadi tidak bisa menjangkau semua sendi kehidupan masyarakat. sedangkan trend politik makin mengarah pada kebijakan aturan formal, sedangkan arah syariat Islam lebih kepada habit, ranah kultural, pembiasaan. konflik yang muncul bukan pada ketidakmampuan merumuskan aturan penerapan syariat Islam lewat PERDA, tetapi pada kesadaran masyarakat menjalankan syariat Islam. akhirnya yang muncul adalah hukuman, pada pelanggar Perda.

kembali pada trend sekolah tahfidz yang berkembang lima tahun terakhir, sekolah tahfidz sekarang tidak hanya menjadi otoritas pesantren yang sejak dulu membuka program tahfidz, tapi tiap sekolah agama sekarang juga membuka program tahfidz. seperti sekolah Muhammadiyah, ada kecenderungan sebagai salah satu program unggulan untuk menarik minat siswa belajar membuka program tahfidz. juga sekolah lainnya. sekolah umum negeri sebagian juga membuka program tahfidz dalam bentuk ekstra kulikuler.


arah kebudayaan Islam di Indonesia sekarang kita memiliki optimisme, memang pada wilayah politik masih jadi PR serius. semoga ada treslnd positif juga melihat kondisi hari ini. Aamiin.

Kenapa Saudara Jahat

"serpihan-serpihan ingatan mengerumuni pikirannya, namun tak satu pun yang bertahan lama di benaknya, pikiran dan perasaannya gundah karena tindakan yang baru saja dilakukannya . . ." (Dostoyevsky: Kejahatan dan Hukuman, hlm 74)

Dostoyevsky dikenal sebagai guru Leo Tolsyoy, novelis sekaligus ideolog Komunisme Soviet. lewat novel Kejahatan dan Hukuman, Dosto mencoba menjelaskan bahwa kejatahan akibat keserakahan kaum berpunya, pemodal, kelompok borjuis. tokoh utama Raskololnikov merasionalkan kondisi kemiskinan dan kegagalan kuliah dengan membenci dan ingin melenyapkan kelompok sekarah dan licik terhadap orang miskin.

konflik batin kemudian terus muncul, se-rasional apapun alasan kejahatan, bayangan Siberia sebagai simbol hukuman Soviet terus hadir. hukuman yang betul-betul di rasakan Raskolnikov adalah rasa bersalah, terus dihantui kejahatan yang dilakukan. dalam puncak kesadaran, orang baik yang melakukan kejahatan kemudian mampu bertobat dan kembali menjalani kehidupan normal setelah melewati hukuman.

Dostoyevsky lewat Raskolnikov juga menggugat cara hukum meletakkan motif kejahatan. orang jahat adalah orang miskin yang melakukan pembunuhan, melacur, menipu. sedangkan orang besar yang melakukan kejahatan, selama kepentingan yang menjadi alasan adalah untuk kepentingan orang banyak bukan merupakan kejahatan, mereka terbebas dari perbuatan jahat.

". . . temperamen seseorang adalah bukti yang cukup penting dalam suatu tindak kejahatan, dan yang paling mengagumkan dari semua ini adalah menyaksikan bagaimana si penjahat kehilangan kendali."

puncak kesadaran, permohonan maaf dan memperbaiki diri muncul setelah hadir sosok Sonia sebagai perwujudan dunia penuh cinta-kasih, pengampunan dan kesediaan menolong sesama. bisa jadi ini pengalaman spiritualitas tiap orang yang sudah sampai pada puncak kesadaran.

"Apakah kamu akan meninggalkanku, Sonia?" tanyanya penuh harap.

"Tidak, tidak, tidak akan pernah!" teriak Sonia.

"Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Mengapa, mengapa baru sekarang aku tahu? Mengapa kamu tidak katakan itu sebelumnya?"

"Aku sudah ingin mengatakannya."


"Sudahlah ... Sekarang kita harus mencari jalan keluarnya ... bersama ... kita berdua!" Sonia memeluknya lagi. "Aku akan ikut meskipun sampai ke Siberia!"

Kecanduan Kopi















Ntah sudah sampe taraf apa aku kecanduan kopi, mungkin sampe tidak lagi mendengarkan omongan dokter jika menjelaskan dampak buruk kopi. seharian bisa 4 gelas kopi kental pahit. cuman, kebiasaan ngopinya pelan, bisa satu gelas habis berjam-jam. kakak iparku, kak Ita yang kadang membuatkan kopi waktu pulang ke tanjungbalai sampe bilang "kopinya gak enak ya No..?"

mirip juga seperti kecanduan rokok dan buku. sampe istriku bilang, "istri pertama mas itu rokok ya..? dan istri keduanya buku.." kalau rokok aku percaya itu kecanduan. kalau buku..?? kadang berfikir juga kecanduan. beberapa tahun lalu, selalu saat pusing banyak pikiran, obatnya beli buku. tidak ku baca, ku biarkan numpuk aja di sudut kostan. untuk gaya aja.. buku, oh buku.. sampe kadang heran kok bisa beli banyak buku, padahal utangku aja malah gak dilunasi sampe sekarang.. pernah istriku cemburu..? sering sekali..

masalah candu, sempat menjadi istilah heboh di Indonesia ketika Karl Marx bilang agama itu candu. gagasan moyangnya komunisme ini menjadi legitimasi untuk mencap bahwa jamaah komunisme itu atheis, anti agama dan kafir kaffah. di Indonesia, komunisme sebagai ideologi kawin lari dengan politik melahirkan PKI, yang ujung-ujungnya memang untuk berkuasa.

mengenai candu, ada beberapa buku yang bisa kita baca, misalnya tulisan Peter Carey tentang "orang cina, bandar tol, candu dan perang jawa" yang menjelaskan salah satu sebab perang Diponegoro dan sebab kekalahan Diponegoro adalah perdagangan candu. uniknya, beberapa sumber tentang revolusi kemerdekaan Indonesia menjelaskan bahwa dengan "candu" beberapa kesatuan militer Indonesia bisa memiliki senjata dan logistik tempur yang membuat Indonesia bisa bertahan dari gempuran NICA Belanda. ceritanya, beberapa pedagang Tionghoa menawarkan jasa untuk mengekspor candu di jakarta dan jogja ke Singapura, ditukar dengan senjata. dalam kondisi kepepet perang, ada tawaran baik ya mau saja. selang beberapa waktu, pasukan siliwangi dan diponegoro akhirnya punya senjata baru yang membuat Belanda terheran-heran.


ya.. candu, bisa jadi kata sifat, bisa jadi kata benda.. agar tidak berkonotasi negatif, pakailah istilah CINTA, biar seburuk apapun kondisimu tetap bahagia.

CINTA DAN SANDAL JEPIT




















Sandal jepit, memang kelas jelata, tapi bisa diajak berjalan jauh, melewati gunung dan lembah. bahkan mungkin sampai ke surga. Lihat anak-anak berjalan jauh dari Ciamis, banyak ibu-ibu menangis, terketuk hatinya. Sepanjang jalan disambut, mistis sekali. Doa-doa dipanjatkan, bahkan space saff terdepan di Monas untuk acara dzikir, doa dan shalat jum’at bersama disediakan khusus untuk santri-santri Ciamis, gara-gara viral sandal jepit.

Dunia santri memang tidak jauh dari sandal jepit, kopiah, baju koko dan sarung yang sudah bau lecit. Bahkan para ustad dan kyai pun kadang pakai sandal jepit. Bisa jadi ini keteladanan, walaupun kadang karena sering muncul ketakutan saat shalat sandal jepit lah yang mudah ketuker. Baik ukuran, kualitas dan rasanya. Pasangannya sarung lecit yang sangat multi fungsi, untuk shalat dan selimut saat tidur dan mimpi.

Tentang sandal jepit, bisa juga ini jadi referensi bagi para jomblo yang gak laku-laku sampe nunggu musim rambutan. Carilah pasangan pemakai sandal jepit. Hanya sandal jepit yang siap menjalani kehidupan penuh kerikil dan duri. Sebab, dalam cinta, jalan masih teramat jauh, agar bisa berlabuh di bahtera rumah tangga.


karena cinta dan rumah tangga adalah perjalanan jauh

Selasa, 06 Desember 2016

I'll be Back, Adalah Hantu Orde Baru

Bapak presiden negeri kita, Presiden Jokowi memang selalu tidak kehabisan akal mempopulerkan dirinya sebagai orang nomor satu. Pernah beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi memberikan gimmick-gimmick menarik dalam pidatonya di forum US-ASEAN Business Council (US-ABC) di San Francisco California. Jokowi mengutip kata-kata khas mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger ketika membintangi film Terminator, I'll be back. Semua media online kita heboh dan menulis fenomena unik dan menarik ini. Lagi-lagi presiden kita yang terhormat, punya selera khas. Pada kesempatan lain, baju khas dan jaket Presiden Jokowi langsung jadi trend dunia persilatan di Nusantara.

Pada momentum gelar sajadah koran 212, Presiden Jokowi kembali menjelaskan makna I’ll be back. Selalu memberikan kejutan dan pasti akan membuat semua makhluk Jakarta akan terkejut. Saat embun pagi belum lagi menguap di lahan beton Batavia, tiba-tiba serdadu kerajaan, menggaruk preman-preman Jakarta yang konon menurut kabar embun, dia akan berbuat makar. Saat mbah Riziq dan tulang Bahtiar Nasir baru siap-siap ngambil sendal mujahid Ciamis, ada kabar seburuk embun. Entah, apakah engkong Ebiet akan protes dan ikut menggalang rumput cinta bergoyangnya, karena lirik cinta sebening embun menjadi kabar seburuk embun.

Nah, cerita menggaruk preman, beda saat Presiden Jokowi pernah menggaruk para pemain sirkus topeng monyet. Dalilnya beda. Mantra yang dipakai untuk menggaruk preman Jakarta bukan mantra penjinak ular versi Kuntowijoyo, tapi mantra membangunkan hantu, ritualnya pake jelangkung. Hantu yang dipanggil oleh serdadu Presiden Jokowi tidak sembarangan, jaelangkung Presiden Jokowi berhasil membangunkan hantu eyang Harto. Datang dimik-dimik, sambil senyam-senyum sejuta arti, membisiki adinda Jokowi, “penak jamanku to”. Buhul-buhul eyang Harto sepertinya masuk alam bawah sadar. Akhirnya mulailah misi baru, garuk preman.

Saat menggaruk pemain sirkus topeng monyet, Jokowi saat menjabat Gubernur Jakarta hanya dapat apresiasi para pelindung binatang dan dapat label baru gubernur topeng monyet. Nah, saat menggaruk preman ini mau dapat apresiasi apa?

Saya bingung, ini fenomena mirip sekali zaman enaknya eyang Harto. Bisa main garuk. Kayaknya akan muncul meme baru,

“Mirip zamanku to”

“penak to”

“iya to”

“sini saya kasih mantra baru penjinak preman”

Joko. “baik, eyang.. apa eyang?”

Sambil mendekat, eyang Harto bisik-bisik sama Presiden Jokowi, menurunkan cahaya wahyu keprabon, warna jingga. Senyum mengembang di wajah adinda Joko, sambil manggut-manggut setuju dan puas.

“baik eyang, perintah eyang Harto siap kami laksanakan, saya jamin beres eyang”

Sampai siang hari saat gelar sajadah aksi super damai, rombongan Yang Mulia Okoj datang dengan gagah. Hujan mengguyur deras. Tanda malaikat sedang menurunkan rahmat. Dengan tenang Presiden Jokowi ikut menggelar sajadah dan tidak lupa karpet merah. “Allohuakbar.. Allohuakbar.. Allohuakbar” teriak takbir Presiden Jokowi membahana seantero langit dan bumi.

“terimakasih saudara-saudaraku sudah menggelar do'a dan dzikir bersama untuk keselamatan dan kebaikan Indonesia, semoga bangsa Indonesia tetap jaya”

Diam sebentar sambil liat catatan kecil di secarik kertas. “Allohuakbar.. Allohuakbar.. Allohuakbar”.

Senin, 05 Desember 2016

BETARA GURU PRAKTEK DUKUN PALSU


Persiapan Perang Baratayuda Jayabinangun memang memerlukan dana yang besar. Selain itu, ribuan nyawa wayang harus dikorbankan untuk merebut kembali Kerajaan Ngastina dari tangan Prabu Suyudana. Maka ketika Begawan Kilatbuwana menawarkan jasa sanggup membatalkan perang Baratayuda dengan imbalan minta besanan dengan Prabu Suyudana, keluarga Ngastina dan Pandawa pun serentak setuju. Lebih dari itu, sebagai bentuk penghormatan dan balas jasa, pendita dari Ngatasangin tersebut langsung diangkat sebagai guru kebatinan dan dukun ahli.

Begitu percayanya mereka, Arjuna yang terkenal suka laku prihatin dan sudah mirip dukun, belum-belum sudah bayar uang pangkal gedung untuk tempat mangkal Perguruan Kilatbuwana yang berstatus dukun honorer itu.

Untuk dua agenda tersebut, keluarga Pandawa dan Ngastina sepakat mengadakan sidang kabinet darurat di tempat Prabu Duryudana. Mereka menunggu Prabu Kresna dari Dwarawati, selaku sesepuh dan penasehat Ngamarta. Batal atau tidaknya Perang Baratayuda memang sangat tergantung legalisasi dan tanda tangan Prabu Kresna.

Ternyata dunia perwayangan juga mengenal jam karet. Direncanakan pukul 10.00 Prabu Kresna tiba, prakteknya jam 12.00 pesawat baru mendarat di alun-alun kerajaan. Begitu pesawat Garuda Ngamarta mencium bumi, langsung disambut dengan upacara kenegaraan oleh Prabu Suyudana dan Puntadewa.

“Sorry kang.., pemeriksaan imigrasi tadi terlalu bertele-tele...!” kata Kresna pada Suyudana dan Puntadewa menyadari kesalahannya dan kedongkolannya pada petugas kontrak bandara. “masak orang se populer saya gak merek kenal..!” Sidang segera berlangsung setelah pada pemimpin tertingg itu minum jamuan air mineral “Legenayoga” produk khas Banyumas.

Soal Prabu Bramangkara anak Begawan Kilatbuwana dikawinkan dengan Dewi Lesmanawati putri Prabu Suyudana, Prabu Krena tidak keberatan. Tetapi begitu soal pembatalan Perang Baratayuda masuk agenda perundingan, dia langsung menolak mentah-mentah.

“Wah nggak bisa. Nggak enak sama Bank Dunia dan Tiongkok yang terlanjur meminjami kredit biaya perang itu. Apalagi skenario Perang Baratayuda sudah mau dipesan ke Mas Hanung Bramantio....!” tegas Prabu Kresna.

Naskah berita acara pembatalan Perang Baratayuda segera ditarik bagian protokol karena Prabu Kresna mogok tandatangan. Suyudana, Puntadewa, Pandita Durna kembali membujuk, tetapi Raja Dwarawati tetap pada pendiriannya. Suasana makin kacau ketika dukun honorer Begawan Kilatbuwana ikut campur masalah pembatalan perang.

“Solusinya hanya satu...!” tegas Begawan Kilatbuwana, “kita tanding..!”. tiba di luar istana, Kresna dibantu aspri Setyaki berkelahi mati-matian melawan Begawan Kilatbuwana. Meskipun Begawan Kilatbuwana tampangnya sudah pantas masuk Panti Werda Kaliurang, namun ternyata masih wudhu tanding (tak ada yang bisa mengalahkan). Kresna dan Setyaki hanya dalam beberapa gebrakan bisa terpental sampai jauh.

Setelah mengusir kedua oposan itu, akhirnya Begawan Kilatbuwana mengeluarkan kebijaksanaan baru di bidang Hankam. Soal ketidaksetujuan Kresna pada pembatalan Perang Baratayuda dikesampingkan saja, yang terpenting 4 orang wulucumbu (pembantu kesayangan) Ngamarta bisa dibinasakan. Maka dengan mengendarai Fortuner, Arjuna yang mendapat mandat segera mencari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong untuk dibinasakan. Tak lupa, Prabu Bramangkara calon mantu Prabu Suyudana ikut pula menyertai.

Tiba di Karangkebolotan tempat tinggal Lurah Semar bersama ketiga putranya, ternyata di sana telah ada pula Gatutkaca dan Abimanyu. Dengan berat hati Arjuna menyatakan maksud kedatangannya.

“kami berempat rela dipati (dibunuh). Tapi minya syarat, disamping hak pensiun dan taspen segera diurus, kami berempat dibakar saja di krematorium Cilincing...!” sayarat Lurah Semar yang tiga kali berturut-turut memperoleh penghargaan lurah wayang teladan nasional.

Saat abu empat punokawan Semar dkk itu dibawa Arjuna ternyata kardusnya bolong, sehingga abunya tercecer di mana-mana. Sementara keluarga Ngastina dan Pandawa merayakan pernikahan sambil jaipongan dan pesta minum-minum. sedangkan di Puri Kadilengan nampak Dewi Lesmanawati sedang manangis karena menolak dikawinkan secara paksa. Kendati pun Bramangkara sudah punya rumah dan mobil bagus, sama sekali Lesmanawati tidak tertarik. Dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu di Teknik Jamu UGM yang tinggal skripsi.

Abimanyu putra Arjuna yang bertamu ke Puri Kadilengan ikut membujuk dan memberi pengertian pada sang Dewi Lesmanawati, tapi tetap menolak. Bahkan kepada Abimanyu dia mengajak kabur saja dari Ngastina.  

“Saya ndak berani Mbak, nanti apa kata wayang-wayang.. Abimanyu bawa kabur perempuan. Kalau dilaporkan polisi gimana? Nanti saya cari SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) jadi susah..??” Abimanyu mencoba memberikan penjelasan.

Meskipun cewek, putri raja, Dewi Lesmanawati bandel juga.. sehingga Abimanyu pun mengalah. Biar aman dalam pelarian Lesmanawati ganti pake celana kulot, pake jubah hitam dan bercadar. Beraneka aksesori dikenakan. Tapi sial, kepergian Lesmanawati-Abimanyu ketahuan hansip, sehingga ia dilaporkan kepada Prabu Suyudana yang kala itu masih sibuk menjamu tamu.

“Celaka, ada saja yang mencoba mengganggu stabilitas perwayangan. Tangkap dan usut dia, jangan-jangan ada unsur terorisme atau makar..!!”

Maka Arjuna dan Werkudara yang saat itu masih goyang pinggul mengikuti irama gendang, segera membuang selendang masing-masing dan memburu Lesmanawati-Abimanyu. Werkudara-Harjuna memang pelari ulung, segera dalam tempo beberapa menit saja buruannya sudah tertangkap.

“Lho kok kamu ikut-ikutan sih, Abimanyu? Sunat aja belum.. berani bawa lari cewek..??” tegur Werkudara sengit.

“Maaf pakde dan papi, ini bukan maunya Abimanyu.. tapi ini semua atas perintah Eyang Abiyasa..!!” jelas Abimanyu berapi-api, meskipun di rumah makanannya singkong dan tempe.

Werkudara-Arjuna “mati kutu” mendengan penjelasan putranya. Eyang Abiyasa memang tokoh wayang kharismatik dan apa yang diperintahkan selalu penuh kebijaksanaan. Sadarlah keduanya, bahwa tindakannya selama ini salah, sehingga Werkudara-Arjuna kini justru memihak pada Abimanyu.

Tentu saja Begawan Kilatbuwana semakin keki, kenapa tokoh wayang andalannya membelot, apakah kena suap macam anggota DPR..? Untuk memberantas wayang plin-plan, dia segera turun langsung mengejar Werkudara-Arjuna.

Karena kalah kasekten (kalah ilmu) mereka lari terbirit-birit, sampai kesasar ke pertapaan Begawan Purbabuwana yang masih asing baginya. Ketika Arjuna tiba, Begawan Purbabuwana ditemani ketiga putranya Cahyabuwana, Sanggabuwana dan Lintang Trenggana juga sedang menjamu Betara Kresna. Krena sowan tidak hanya sekedar mencari nomer togel, tapi sekaligus minta tolong bagaimana membinasakan Begawan Kilatbuwana.

Dengan honor memikat, BMW SS Clas bebas pajak dan rumah tiga lantai serta uang segepok, Begawan Purbabuwana tak ada alasan menolak. Cuma kepada Arjuna, begawan memarahi habis-habisan.

“kenapa ente malah berguru pada Begawan Kilatbuwana? Ente tak tau kalau dia ajazahnya aspal, perguruannya pun sekedar papan nama? Ente harus berhati-hati Arjuna, tingkatkan kewaspadaan wayangmu.. dan hati-hati terhadap ekstrem kanan dan ektrem kiri..!!” indoktrinasi Begawan Purbabuwana, seakan mblenceti (menelanjangi) segala isi jerohan Arjuna.

Arjuna yang mengetahui kesalahannya, milih diam saja dan minta maaf. Namun, belum sempat Begawan Purbabuwana melanjutkan kultum, Begawan Kilatbuwana keburu datang amuk punggung (mengamuk membabi-buta). Perkelahian seru sekali antara Begawan Purbabuwana dan anak-anaknya melawan Begawan Kilatbuwana dan asprinya.

Pukul 03.00 dini hari pertempuran baru selesai, Begawan Purbabuwana dan Begawan Kilatbuwana berubah menjadi Betara Guru dan Ki Lurah Semar. Sementara Prabu Bramangkara yang melawan Sanggabuwana berubah menjadi Betara Brahma dan Gareng. Indrayekti lawan Cahya buwana menjadi Batara Indra dan Petruk, sementara Lintang Trenggana lawan Tumenggung Jayalawa berubah menjadi Betara Wisnu dan Bagong.

“Eee lha dalah..., kok ini Mas Guru, pukul 03.00 udah di jalan.. ngajar SD di mana sampean?” tegur Lurah Semar. Betara Guru dan putra-putranya yang sudah ketahuan menjadi dukun palsu, cuma bisa minta maaf kepada Lurah Semar. Mereka segera kembali ke Kahyangan naik KA Parahyangan kelas eksekutif.

Semar dan ketiga putranya kembali ke Karang Kebolotan.


Selasa, 15 Maret 2016

BAKAR PECINAN, Konflik Pribumi Vs Cina di Kudus tahun 1918

Penulis: Masyhuri.
Editor: Hasyim Asy’ari.
Penerbit: Pensil-324, Jakarta.
Cetakan I, 2008, xii + 118 halaman.
ISBN: 979-3622-17-2.

Buku ini awalnya adalah skripsi sarjana sejarah UGM pada tahun 1981 dengan judul Konflik Sosial di Kudus 1918: Terlibatnya Sarekat Islam Kudus dalam Konflik Sosial Ekonomi. Ditulis menarik oleh Drs. Masyhuri, MA, PhD, yang sekarang bekerja sebagai peneliti pada Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan (PEP) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Penerbitan hasil skripsi ini sepertinya cukup terlambat setelah mendekam selama 25 tahun dalam arsip. Bobot buku ini sangat berharga, melengkapi kekosongan kajian konflik Tionghoa yang kembali muncul setelah tragedi tahun 1740. Didukung oleh dokumen primer, arsip Belanda dan wawancara langsung dengan pelaku Peristiwa Kudus dari pengurus Sarekat Islam (SI). Memang dirasa kurang berimbang jika tidak mewawancarai pelaku peristiwa Kudus dari etnis Tionghoa.

Buku yang menurut perspektif penulisan sejarah lokal merupakan masterpiece, yang mengulas secara mendetail latarbelakang terjadinya “peristiwa Kudus”. Menurut kesimpulan Leo Suryadinata merupakan puncak provokasi dan ketegangan antara Sarekat Islam (SI) dan pedagang Tionghoa. Ketegangan dipengaruhi beberapa faktor: pertumbuhan nasionalisme, persaingan ekonomi dan penghinaan agama. Peristiwa Kudus, merupakan konflik terbuka setelah kejadian tahun 1740 dan Perang Jawa yang digelorakan oleh Pangeran Diponegoro 1825-1830. Dua peristiwa itu menjadi akhir polemik keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia pada pertengahan abad ke-18 dan abad ke-19.

Selama masa damai dalam kekuasaan Belanda yang sangat menindas rakyat karena berlakunya tanam paksa dan berkembangnya perkebunan, kadang muncul riak-riak yang lebih bersifat kriminal. Menurut Sartono Kartodirjo, kriminalitas yang muncul berupa perampokan, pembegalan pedagang Tionghoa. Di wilayah selatan Jawa, daerah Yogyakarta dan Surakarta, pada tahun 1840 timbul kerusuhan dibawah pimpinan Sarip Prawirosentono alias Amat Sleman yang bekerjasama dengan seorang Tionghoa bernama Boen Seng. Mereka memakai gelar-gelar raja dan merasa telah mendapat ilham untuk mendirikan kerajaan baru.

Pada periode yang sama juga berkembang perampokan-perampokan yang dilakukan oleh benggolan-benggolan ulung, seperti Gobang Kinosek, Kandang Djinongkeng, Dadung Sinedel, Pentung Pinanggul, yang melakukan perampokan pada orang Tionghoa dan Belanda. Kemiskinan petani menyebabkan mereka mengambil jalan pintas dengan menjadi kecu dan begal yang sasaran kejahatannya adalah orang-orang kaya, para pedagang klontong Tionghoa, rentenir, Tionghoa mindering dan orang Eropa (Belanda). Kemarahan kolektif ini juga dilampiaskan dengan melakukan pembakaran lahan perkebunan Tionghoa dan Belanda.

Konflik Pribumi-Tionghoa Pertama
Awal abad ke-20 merupakan periode kebangkitan dan pertumbuhan nasionalisme Indonesia. awalnya dimotori oleh Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo dengan tujuan untuk melawan monopoli perdagangan etnis Tionghoa. SDI kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam (SI) dibawah kepemimpinan HOS. Tjokroaminoto. Berdirinya SI mempercepat proses pertumbuhan nasionalisme, kesadaran kebangsaan yang tidak hanya pada wilayah ekonomi saja, juga wilayah agama, sosial dan politik. Keanggotaan SI sangat luas, dari kelompok elite agama, para haji-haji, guru, santri, petani dan buruh serta beberapa pegawai pemerintah (lihat halaman 33). Mereka menjadi pengurus Inti dan banyak sekali yang menjadi anggota. Pengurus inti kebanyakan terdiri dari para haji dan guru agama, dengan ketua H. Jufri (pengusaha rokok kretek) wakil ketua H. Moh. Mufid dan sekretaris H. Zuhdi.

Kesadaran agama dan kebangsaan yang berkembang diberbagai lapisan masyarakat Kudus menemukan ilmu alat, berupa aksi-aksi protes dan propaganda yang lebih radikal karena pengaruh faham sosialisme Semaun. Mereka kemudian mendirikan cabang PKBT (Perkumpulan Kaum Buruh dan Tani) Kudus yang dipimpin oleh Surorejo dan Zaid Muhammad. Gerakan buruh dan petani desa berupa penghapusan lumbung-lumbung desa, membagi harta lumbung desa, penghapusan retribusi pasar (lihat halaman 42). Propaganda terbuka dengan mengadakan rapat terbuka yang mengkampanyekan perbaikan petani dan buruh dengan menentang penindasan kapitalis, industri perkebunan asing yang memproduksi gula, kopi dan teh. Seperti penjelasan penulis buku, Masyhuri bahwa radikalisme petani dan buruh tidak menjadi sebab utama “peristiwa Kudus”, namun kesadaran protes mendorong keberanian rakyat kecil semakin bersikap radikal untuk melawan dan melakukan konflik terbuka (lihat halaman 44). Penjelasan di atas, bahwa rentenir Tionghoa menghisap sangat dalam kekayaan rakyat sampai bertambah miskin dan terus semakin miskin, sedangkan etnis Tionghoa terus bertambah kaya (Leo Suryadinata, Minoritas, halaman 9).

Kronologi “peristiwa Kudus” sebagai berikut:

“tanggal akhir Oktober 1918 orang-orang Tionghoa di Kudus mengadakan upacara keagamaan dengan pawai keliling mengarak Toa Pek Kong untuk menolak penyakit influenza. Mereka harus melalui Masjid Menara apabila menginginkan mengitari pecinan di Kudus Kulon dan Wetan. Sejak awal pawai, beberapa peserta mengenakan pakaian haji dan berteriak “Ya Allah ya Nabi, Allah hanyalah satu”. Pada pawai yang kedua, sudah ada lagi orang Tionghoa yang berpakaian haji, bahkan masing-masing membawa tambur. Sampai pada pawai terakhir tanggal 30 Oktober peserta pawai berpakaian haji ditemani dua perempuan dengan pakaian “perempuan nakal” naik pedati dan saling “berpegangan”. Kerumunan orang banyak yang menonton dan pekerja yang sedang memperbaiki Masjid Menara menjadi marah yang melihat perilaku orang berpakaian haji. Ketika pekerja sedang mengangkut batu dari Kali Gelis, berpapasan dengan pawai dan bertabrakan dengan pedati pembawa pakaian haji. H. Sanusi yang membawa gerobak batu dipukul kepalanya oleh seorang Tionghoa. Ketika kerumunan orang mengetahui H. Sanusi dipukul orang Tionghoa, serentak menyerang peserta pawai dengan teriakan “Yaa Rasulullah Sabil”. Peristiwa kerusuhan berlangsung selama tiga hari dengan korban jiwa dan harta yang banyak”

“Peristiwa Kudus” merupakan kejadian yang dipicu oleh ketersinggungan agama. Bahwa Islam di hina oleh “orang kafir” (lihat Leo Suryadinata, halaman 8) yang mengenakan pakaian suci “haji” dan berperilaku dosa dengan “memegang” perempuan “berpakaian nakal”. Mereka bergerak berdasarkan seruan agama “Allahu Akbar”, ditengah himpitan ekonomi yang terus semakin miskin. Keberanian menyerang secara terbuka terhadap pecinan oleh rakyat biasa menjadi satu jenis konflik baru, karena tidak lagi bergantung pengaruh elite kekuasaan lokal. Pengaruh haji dan ulama hanya pada kerusuhan awal saat pawai. Malam kedua dan ketiga saat penyerangan dan pembakaran pecinan Kudus Kulon, massa sudah bergerak sendiri berdasarkan propaganda anggota SI.

Awal Yang Berulang
Peristiwa Kudus memang tidak sempat menyebar ke daerah lain karena kemauan para pemimpin dari kedua golongan untuk mencapai persetujuan damai. Kedua, karena tindakan tegas pemerintah Belanda menangkap para perusuh. Kerusuhan memang sudah selesai, dan kondisi Kota Kudus kembali tenang. Berbeda dengan kesimpulan Leo Suryadinata bahwa ada problem rasial bahwa etnis Tionghoa dianggap orang asing. Keberadaan mereka yang sudah sangat lama di Indonesia, tetapi konflik terbuka antara rakyat dengan etnis Tionghoa baru muncul pada abad ke-20. Pada saat Perang Diponegoro, identitas yang melekat pada etnis Tionghoa murni agama, mereka adalah “orang kafir”. Karena jika persoalan ekonomi, kenapa Pangeran Diponegoro tidak menyerang semua pecinan di wilayah Bagelen dan Kedu. Menurut Lombard, penilaian “orang kafir” merupakan ideologi berbahaya yang disebarluaskan Pangeran Diponegoro. Sepertinya, ideologi itu memang masih bertahan sampai sekarang.

Persoalan agama, jika digunakan sebagai alat analisis konflik sebenarnya hanya sebagai pemicu saja. Apalagi alasan rasialisme, yang menurut ajaran agama Islam tidak dikenal, bahkan bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Sedangkan faktor ekonomi, penghisapan kekayaan rakyat lewat perilaku rentenir Tionghoa, pajak jalan dan pasar yang sangat membebani, penguasaan tanah yang tiba-tiba dan penduduk yang ada didalamnya dianggap hanya sebagai pekerja, kekayaan etnis Tionghoa yang mencolok mata. Dan yang terpenting, kesadaran rakyat melawan penindasan menjadi modal utama rakyat menyerang. Perut yang lapar, bekerja tanpa upah yang cukup untuk makan sehari, perampasan tanah mendorong kemarahan terus memuncak. Ketika rakyat mengetahui siapa yang menyebabkan kemiskinan mereka, dan tahu cara melawannya, ketika ada momentum-pemicu penghinaan agama, kemarahan rakyat pada etnis Tionghoa dilampiaskan tanpa batasan, bahkan tanpa pengaruh elite lokal.

Konflik terbuka Pribumi dengan etnis Tionghoa memang sempat berhenti sampai sesudah kemerdekaan Indonesia. Dalam tempo beberapa bulan setelah kemerdekaan, beberapa kerusuhan, penyerangan, perampokan pecinan muncul di beberapa kota: Kebumen, Tanggerang, Bagan siapiapi dan Medan. Kejadian yang hampir serupa dengan “peristiwa Kudus”. Yang kembali terulang pada tahun 1963 di Cirebon, menjalar ke beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Timur, kemudian berakhir di Yogyakarta pada 21-22 Mei 1963. Pada kerusuhan sosial 1965/1966. Peristiwa 5 Agustus 1973 di Bandung dan peristiwa Aceh, peristiwa November yang bermula di Solo selama seminggu, kemudian Semarang dan hampir menjalar ke kota-kota di Jawa Timur. Peristiwa di Tanjung Priok pada tahun 1984. Peristiwa Surabaya yang dimulai pada 16 September 1986, yang nyaris dikhawatirkan menjadi “eksplosif”. Peristiwa Pekalongan pada akhir tahun 1989. Terkahir, peristiwa kerusuhan etnis Tionghoa terbesar kembali terulang pada bulan Mei 1998.


Apakah sekarang konflik yang serupa “peristiwa Kudus” akan berulang? Pertanyaan yang sulit dijawab, tapi kita hanya bisa berharap tidak akan terjadi lagi. Riak-riak kadang muncul, seperti perseteruan beberapa elite di Jakarta, walaupun tidak sampai menimbulkan gelombang besar.