yang saya ketahui, kenapa bahasa Jawa, atau bahasa politik
di Jakarta hari ini cenderung bias, penuh intrik, kamuflase, tidak jelas dan
tegas karena sejak zaman nenek moyang kita, bahasa di Jawa itu dekat dengan
kekuasaan. jadi, jika salah omong sekecil apapun bisa menyebabkan pembunuhan,
tidak hanya dirinya saja, tapi juga keluarga dan anak keturunannya..
lain dengan bahasa di tepi pantai, pusat perdagangan lama,
pelabuhan seperti bahasa di Pantura, Pantai Timur Sumatera (Medan), Palembang
dan Surabaya,, bahasa yang mereka gunakan cenderung lugas, tegas dan apa adanya..
terbuka dan jujur..
karena bahasa mereka dekat dengan pasar.. jika sedikit saja
berbohong bisa gagal transaksi bisnisnya.. jika gagal transaksi bisnis bisa
dipancung oleh Raja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar