Melimpahkan KASIH
(untuk Adinda).*
Mungkin Adinda terkejut, mengapa
Kanda tuliskan soal kasih. Berkali-kali sudah, Kanda membicarakan
bermacam-macam acara kepada Adinda. Semuanya berobject manusia sebagai machluk
budaya. Adinda maklum bukan, manusia sebagai machluk budaya banyak cabang
rantingnya. Kali ini Kanda kemukakan soal kasih, salah satu ranting dari pada
object manusia sebagai machluk budaya itu.
Tetapi tahukah Adinda akan
maksud Kanda tentang manusia sebagai machluk budaya? Maksud Kanda yakni:
manusia yang berbudi, mempunjai kesedaran jiwa. Segala tindakannya disedari.
Tidak seperti machluk hewani, segala perbuatanya adalah instinctief.
Adinda, kasih yang kanda
maksudkanpun kasih akibat kesedaran jiwa. Jadi kasih yang diperbuat oleh
manusia sebagai machluk budaya, manusia yang berbudi.
Mungkin Adinda telah merasa-rasakan,
hanya belum lagi merumuskannya.
Cobalah Adinda ikuti sejenak
uraian Kanda, kalau-kalau ada persesuaian dengan pendapat Adinda.
Ingatkah Adinda akan ceritera
Ardjuna Wiwaha dalam lakon Mintaraga. Ketika Ardjuna sedang bertapa, bersemadi,
digunung Inderakila. Apakah maksudnya? Dia mencari jalan, berdaya upaya akan
mewujudkan kasihnya kepada keluarganya, kepada negaranya, kepada dunia. Adakah yang
diharapkan olehnya? Sesuatupun tidak. Ia sekadar menunaikan kewajiban,
melaksanakan hakiki hidupnya, lain tidak. Benarkah demikian? Andaikata dalam
hatinya terkandung sesuatu kebalikan dari pada yang Kanda katakan diatas,
masakan dia meninggalkan masyarakat ramai, menyiksa diri malahan menolak segala
kenikmatan, kabahagiaan dunia, yang telah tersaji dihadapannya! Tidakkah Adinda
ingat, sembilan bidadari pilihan para dewa, yang dikirimkan untuk membelokkan
niat suci Ardjuna?
Ada yang merayu, mencumbu,
melarai, malahan memeluk, tetapi semuanya itu tidak menggerakkan hati Ardjuna.
Kesuciannya tidak ternodai. Jalan mencari kasih lebih mulia baginya, lebih
diutamakan. Kasih yang sedang ditunaikan adalah lebih dari pada semuanya.
Adinda, ingatkah Adinda ketika Ardjuna
didatangi Sang Pendeta, jelmaan Batara Indera. Sabda Sang Pendeta: "Tuan
tertarik oleh segala yang tuan pikirkan. Berbahaya sekali anakku, kalau tuan
membebaskan pikiran saja. Tuan jadi yang teramat durjana, kalau tuan menyuburkan
hawa dan nafsu."
Sahut Ardjuna dengan tiada ragu:
"benar sabda paduka pendeta. Tetapi hamba terikat oleh kasih dan bakti
kepada kakanda Seri Darma Atmadja yang hendak memperbaiki dan memakmurkan
dunia. Hanyalah kasih dan bakti itu yang cucunda tuju bertapa ini. Kalau tidak
dikabulkan Sang Hiang Sjiwa, lebih baik hamba mati saja, tidak pulang.
Demikian Adinda, Ardjuna
menunaikan kasih adalah sebagai suatu kemestian. Bukan karena mengharapkan
balasan, apa lagi karunia untuk kenikmatan dirinya sangat jauh. Itulah Adinda,
sebahagian kasih yang Kanda maksudkan!
Sebaliknya Adinda, bidadari
sembilan yang merayu, mencumbu itu tidakkah mereka memberikan kasihnya kepada
Ardjuna? Kanda tidak membantah. Tetapi kasih yang diberikannya itu adalah kasih
palsu, tidak sejati. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari pada Ardjuna,
untuk kenikmatan dirinya. Entah mengharapkan gagahnya, tangkasnya, saktinya,
Dinda boleh terka. Kasih bidadari kepada Ardjuna demikian itu bagi Kanda tidak
dapat menghargainya.
Adinda, tahukah Adinda arti
pengharapan. Berharap yakni menginginkan sesuatu dari pada orang lain. Bilamana
seseorang menginginkan sesuatu dari pada orang lain? Apabila ia kekurangan.
Adakah orang kecukupan menginginkan sesuatu. Tidak mungkin, barang mustahil. Jadi
bagi mereka jang memberikan kasihnya karena berharap akan balasan sesuatu bagi
dirinya, sebenarnya mereka tidak memberi, tetapi minta-minta, karena dirinya
kekurangan. Nah Adinda, lebih tinggi mana nilainya, minta-minta atau memberi.
Kukira Adindapun akan sepakat dengan Kanda, bahwa memberi mempunjai nilai lebih
dari pada minta-minta. Jadi dapatkah kita menghargai seseorang yang memberikan
kasihnya dengan mengharapkan sesuatu balasan untuk dirinya? Adinda boleh
renungkan dahulu!
Memang Dinda, didalam masyarakat
ini banyak kita jumpai orang mencurahkan kasihnya. Tetapi kebanyakan ada
terkandung sesuatu harapan. Dimuka telah Kanda kemukakan bahwa maksud Kanda
ialah: Kasih dari pada manusia sebagai mahluk budaya. Rasa-rasanja Kanda dapat
memastikan, barang siapa kebudajaannya makin luhur, kasih yang Kanda maksudkan
itu benar-benar akan merupakan suatu kemestian!
Adinda pernah mentelaah ajaran
Agama kita bukan.
Ajarannya adalah diatas segala
keluhuran kebudayaan. Kita temui pada tiap-tiap permulaan surat kitab suci
Agama kita: "Demi Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih."
Adinda kita ini adalah hamba
dari Tuhan yang telah memberi dasar ajaran hidup diatas segala keluhuran budaya
manusia. Kita maklum bahwa Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya dengan tiada
terhingga kepada segenap mahluk-Nya dan sesuatupun tidak ada yang diharapkan
oleh-Nya.
Nah itulah yang menjadi pedoman
kita. Bukan karena ada harapan, bukan karena terpaksa, melainkan karena kita
sebagai mahluk budaya yang telah mendapat ajaran diatas segala keluhuran budaya
manusia, maka kita berikan kasih kita.
Achirnya Adinda masih adakah keraguan
dalam hatimu? Atu barangkali menyesali sikap Kanda ini?
Adinda, Kanda kira Adinda tidak
akan ragu lagi dalam hati Dinda dan tak akan menyesalkan Kanda. Malahan pasti
Adinda akan sanggup mencurahkan kasihmu berlebih-lebih, sebab Adinda telah
maklum, bahwa Tuhan jua yang Maha Kasih.
M. Roem.
---------------ooOoo--------------
*) Adinda = peladjar-peladjar semua.
Ditulis lagi dari madjalah
TUNAS. Edisi Djanuari Th. IV 1952