Pages

Jumat, 20 September 2013

Renungan M. Roem untuk PII

Melimpahkan KASIH
(untuk Adinda).*

Mungkin Adinda terkejut, mengapa Kanda tuliskan soal kasih. Berkali-kali sudah, Kanda membicarakan bermacam-macam acara kepada Adinda. Semuanya berobject manusia sebagai machluk budaya. Adinda maklum bukan, manusia sebagai machluk budaya banyak cabang rantingnya. Kali ini Kanda kemukakan soal kasih, salah satu ranting dari pada object manusia sebagai machluk budaya itu.

Tetapi tahukah Adinda akan maksud Kanda tentang manusia sebagai machluk budaya? Maksud Kanda yakni: manusia yang berbudi, mempunjai kesedaran jiwa. Segala tindakannya disedari. Tidak seperti machluk hewani, segala perbuatanya adalah instinctief.

Adinda, kasih yang kanda maksudkanpun kasih akibat kesedaran jiwa. Jadi kasih yang diperbuat oleh manusia sebagai machluk budaya, manusia yang berbudi.

Mungkin Adinda telah merasa-rasakan, hanya belum lagi merumuskannya.

Cobalah Adinda ikuti sejenak uraian Kanda, kalau-kalau ada persesuaian dengan pendapat Adinda.

Ingatkah Adinda akan ceritera Ardjuna Wiwaha dalam lakon Mintaraga. Ketika Ardjuna sedang bertapa, bersemadi, digunung Inderakila. Apakah maksudnya? Dia mencari jalan, berdaya upaya akan mewujudkan kasihnya kepada keluarganya, kepada negaranya, kepada dunia. Adakah yang diharapkan olehnya? Sesuatupun tidak. Ia sekadar menunaikan kewajiban, melaksanakan hakiki hidupnya, lain tidak. Benarkah demikian? Andaikata dalam hatinya terkandung sesuatu kebalikan dari pada yang Kanda katakan diatas, masakan dia meninggalkan masyarakat ramai, menyiksa diri malahan menolak segala kenikmatan, kabahagiaan dunia, yang telah tersaji dihadapannya! Tidakkah Adinda ingat, sembilan bidadari pilihan para dewa, yang dikirimkan untuk membelokkan niat suci Ardjuna?

Ada yang merayu, mencumbu, melarai, malahan memeluk, tetapi semuanya itu tidak menggerakkan hati Ardjuna. Kesuciannya tidak ternodai. Jalan mencari kasih lebih mulia baginya, lebih diutamakan. Kasih yang sedang ditunaikan adalah lebih dari pada semuanya.

Adinda, ingatkah Adinda ketika Ardjuna didatangi Sang Pendeta, jelmaan Batara Indera. Sabda Sang Pendeta: "Tuan tertarik oleh segala yang tuan pikirkan. Berbahaya sekali anakku, kalau tuan membebaskan pikiran saja. Tuan jadi yang teramat durjana, kalau tuan menyuburkan hawa dan nafsu."

Sahut Ardjuna dengan tiada ragu: "benar sabda paduka pendeta. Tetapi hamba terikat oleh kasih dan bakti kepada kakanda Seri Darma Atmadja yang hendak memperbaiki dan memakmurkan dunia. Hanyalah kasih dan bakti itu yang cucunda tuju bertapa ini. Kalau tidak dikabulkan Sang Hiang Sjiwa, lebih baik hamba mati saja, tidak pulang.

Demikian Adinda, Ardjuna menunaikan kasih adalah sebagai suatu kemestian. Bukan karena mengharapkan balasan, apa lagi karunia untuk kenikmatan dirinya sangat jauh. Itulah Adinda, sebahagian kasih yang Kanda maksudkan!

Sebaliknya Adinda, bidadari sembilan yang merayu, mencumbu itu tidakkah mereka memberikan kasihnya kepada Ardjuna? Kanda tidak membantah. Tetapi kasih yang diberikannya itu adalah kasih palsu, tidak sejati. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari pada Ardjuna, untuk kenikmatan dirinya. Entah mengharapkan gagahnya, tangkasnya, saktinya, Dinda boleh terka. Kasih bidadari kepada Ardjuna demikian itu bagi Kanda tidak dapat menghargainya.

Adinda, tahukah Adinda arti pengharapan. Berharap yakni menginginkan sesuatu dari pada orang lain. Bilamana seseorang menginginkan sesuatu dari pada orang lain? Apabila ia kekurangan. Adakah orang kecukupan menginginkan sesuatu. Tidak mungkin, barang mustahil. Jadi bagi mereka jang memberikan kasihnya karena berharap akan balasan sesuatu bagi dirinya, sebenarnya mereka tidak memberi, tetapi minta-minta, karena dirinya kekurangan. Nah Adinda, lebih tinggi mana nilainya, minta-minta atau memberi. Kukira Adindapun akan sepakat dengan Kanda, bahwa memberi mempunjai nilai lebih dari pada minta-minta. Jadi dapatkah kita menghargai seseorang yang memberikan kasihnya dengan mengharapkan sesuatu balasan untuk dirinya? Adinda boleh renungkan dahulu!

Memang Dinda, didalam masyarakat ini banyak kita jumpai orang mencurahkan kasihnya. Tetapi kebanyakan ada terkandung sesuatu harapan. Dimuka telah Kanda kemukakan bahwa maksud Kanda ialah: Kasih dari pada manusia sebagai mahluk budaya. Rasa-rasanja Kanda dapat memastikan, barang siapa kebudajaannya makin luhur, kasih yang Kanda maksudkan itu benar-benar akan merupakan suatu kemestian!

Adinda pernah mentelaah ajaran Agama kita bukan.

Ajarannya adalah diatas segala keluhuran kebudayaan. Kita temui pada tiap-tiap permulaan surat kitab suci Agama kita: "Demi Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih."

Adinda kita ini adalah hamba dari Tuhan yang telah memberi dasar ajaran hidup diatas segala keluhuran budaya manusia. Kita maklum bahwa Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya dengan tiada terhingga kepada segenap mahluk-Nya dan sesuatupun tidak ada yang diharapkan oleh-Nya.

Nah itulah yang menjadi pedoman kita. Bukan karena ada harapan, bukan karena terpaksa, melainkan karena kita sebagai mahluk budaya yang telah mendapat ajaran diatas segala keluhuran budaya manusia, maka kita berikan kasih kita.

Achirnya Adinda masih adakah keraguan dalam hatimu? Atu barangkali menyesali sikap Kanda ini?

Adinda, Kanda kira Adinda tidak akan ragu lagi dalam hati Dinda dan tak akan menyesalkan Kanda. Malahan pasti Adinda akan sanggup mencurahkan kasihmu berlebih-lebih, sebab Adinda telah maklum, bahwa Tuhan jua yang Maha Kasih.


M. Roem.

---------------ooOoo--------------

*) Adinda = peladjar-peladjar semua.


Ditulis lagi dari madjalah TUNAS. Edisi Djanuari Th. IV 1952



Tidak ada komentar: