Pada pertengahan 2010, sempat diadakan diskusi terbuka oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota
Yogyakarta dengan pembicara Prof. Hyung-Jun Kim dari Korea Selatan. Kesempatan
diskusi saya gunakan untuk bertanya tentang resep kenapa Korea Selatan pada
dekade 60-an jauh tertinggal dengan Indonesia karena dampak perang, sedangkan
sekarang Indonesia malah jauh tertinggal dari Korea Selatan dalam segala hal.
Bahkan Korea Selatan adalah negara penghasil title Ph.D terbanyak di dunia.
Jawab Prof Hyung sangat mengejutkan. Walaupun tidak semua
resep kemajuan dijelaskan, tapi Beliau menjelaskan bahwa di Korea Selatan
sampai sekarang tiap Desa memiliki perpustakaan lengkap berkaitan dengan
sejarah, kondisi sosial, ekonomi, politik desa masing-masing. Juga dilengkapi
dengan buku-buku referensi yang lengkap dari manapun. Tradisi membaca memang
sangat kuat di Korea Selatan dan itu ditradisikan.
Saya jadi ingat film Korea pada permulaan booming F-K yang
ditayangkan di Indosiar adalah film Jewel In The Palace, kisah perempuan dengan
obsesi belajar sangat tinggi, kehausan ilmu yang luar biasa sampai menjadi
dokter bedah pertama Korea. Tokoh utama Jang Geum adalah prototipe perempuan
tidak wajar, karena berani mencuri buku demi mengetahui kebenaran, dengan resiko
di penjara.
Di Indonesia, membaca adalah barang langka. Kalau toh banyak
yang hobi membaca hanya untuk kebutuhan emosional. Hal ini menggejala sejak
paruh 2005 saat dominasi non intelektual (baca: politik) memberangus tradisi
berfikir anak muda kita. Kebutuhan emosional bisa dilihat dengan makin larisnya
buku-buku motifasi, terapi spikologis, how to, tips, novel berbasis emosi, dan
buku “mirip biografi”. Sedangkan buku-buku pemikiran, ilmiah yang berat dan
tebal makin tidak diminati, kalau toh kalangan mahasiswa membutuhkan buku itu
hanya untuk referensi kuliah yang dibaca sebentar saja. Sangat jarang, atau
bisa dibilang langka sekali tiap rumah, desa, mahasiswa punya perpustakaan.
Minimal menyimpan semua referensi kuliah. Entahlah apa yang mereka pelajari
selama ini.
Sementara para pemilik modal dan kalangan intelektual
sekarang banyak memilih berinvestasi pada manusianya. Membangun human risources,
dengan mendirikan sekolah. Setelah berdiri, sekolah itu berbiaya sangat mahal.
Lihat saja, pak Amien Rais mendirikan SMA Budi Mulya dengan biaya termahal di
Jogja. Juga banyak contoh lain. Sementara investasi fisik dan butuh biaya
operasional seperti perpustakaan tidak ada yang mendirikan. Saya kira inilah
yang secara perlahan menghancurkan tradisi intelektual bangsa kita. Pendidikan
yang baik adalah yang berbiaya mahal. Karena berbiaya mahal maka tiap orang tua
dan siswa dipaksa memenuhi kebutuhan membayar. Caranya..? terserah. Bagi yang
tidak mampu, jangan berani-berani daftar sekolah.
Padahal Muhammadiyah dan Taman Siswa mendirikan sekolah dulu
dengan gratis hanya untuk mencerdaskan bangsa. Tidak jarang guru, pemilik
sekolah membanting tulang menutupi biaya operasional dengan menggadaikan barang
pribadi atau meminta donor pada pengusaha. Yang penting generasi bangsa menjadi
cerdas. Dan banyak pengusaha waktu itu mau membantu. Pada tradisi NU,
mendirikan pesantren dengan biaya seikhlasnya dari pada orang tua santri. Yang
punya beras menyumbang beras, yang punya ketela disumbang ketela. Dan
masing-masing ikhlas menerima. Masalah kualitas, jelas unggulan karena guru,
kyai memiliki integritas dalam mendidik, mencerdaskan. Bangga jika murid,
santri menjadi cerdas, walaupun tanpa digaji.
Kembali pada tradisi adanya perpustakaan desa di Korea
Selatan. Di Indonesia, kayaknya hal yang hampir mustahil. Lihat saja, mana ada
orang dengan kemampuan modal tinggi punya motifasi beramal dengan mendirikan
perpustakaan. Jangankan akan menghasilkan cash back, malah tiap bulan kita
dituntut mengeluarkan biaya operasional. Sampai-sampai pada paruh 2008,
perpustakaan Hatta yang sangat lengkap terpaksa tutup. Semua buku disumbangkan
ke UGM, tapi lacur, ¾ buku yang disumbangkan berhasil dicuri.
Ada contoh tradisi dalam umat Islam pada abad pertengahan
yang sekarang sudah ditinggalkan. Pada zaman kekhalifahan Abbasiyah dikenal
dengan kemajuan intelektual yang sangat tinggi. Masing-masing pengusaha punya
obsesi dan berlomba-lomba dalam mendirikan perpustakaan. Di tiap kota berdiri
perpustakaan megah dengan jutaan koleksi. Perpustakaan pribadi pengusaha mencapai
ratusan ribu koleksi. Perlombaan antar pengusaha dan mengoleksi buku
sampai-sampai tiap buku dihargai dengan seberat timbangan emas. Apakah itu buku
terjemahan atau karangan sendiri.
Muhallab bin Abi Sur’ah, salah seorang Jenderal yang ternama
dari dinasti Abbasiyah pernah berpendapat bahwa untuk mencapai kemenangan dan
kemerdekaan umat hendaklah jangan lupakan dua perkara, yaitu: persenjataan dan
perpustakaan. Oleh karena itu pada suatu hari, tatkala anaknya hendak keluar
berjalan-jalan, dinasehatkan jika hendak pergi ke pasar, janganlah menoleh
kekanan dan kekiri, jangan berhenti, melainkan pada dua tempat, yaitu tempat
orang menjual senjata dan pada tempat orang menjual buku. “iza waqaftum fil aswaqi, fala taqifu illa
‘ala man jabi’us silaha au jabi’ul kutub".
Abad ke-10 M adalah zaman keemasan dalam sejarah Spanyol
dan Asbania. Masa pemerintahan khalifah ‘Abd al-Rahman III digantikan oleh
Hakam II, bangsa yang mulanya terpecah belah, bersatu menuju kemajuan. Hakam II
adalah pecinta ilmu pengetahuan bandingannya. Diutus orang-orang membeli
manuskrip kemana-mana, dan dalam istanannya terkumpul 400.000 naskah. Istananya
penuh dengan pegawai perpustakaan, tukang salin dan tukang jilid. Dan sebagian
besar koleksi sudah dibaca dengan memberikan catatan didalamnya. Abdul Faradj,
pengarang kitab Al-Aghani dihadiahi 1000 dinar untuk bisa memiliki naskah
kitabnya.
Demikian Muslimin 10 abad yang lalu memandang tak ada amal
yang ditinggikan lebih dari pada mendirikan gedung perpustakaan tau mewakafkan
buku.
Zaman Belanda, terdapat beberapa perpustakaan seperti
“bataviaasch Genootschap” dengan kekayaan kitab tidak kurang dari 200.000 jilid
banyaknya. Sekarang yang bisa dijadikan rujukan berburu buku di perpustakaan
Petra Surabaya, perpustakaan Ignatius Yogyakarta, Perpustakaan Nasional. pun
jumlahnya sedikit sekali dibandingkan dengan perpustakaan Biblictheque
Nationale di Paris yang lebih dari 4.500.000 jilid kitab. Perpustakaan umum di
Leningrad kekayaannya mencapai 4.300.000 jilid kitab dan Congres Library di
Washingthon tidak kurang dari 4.200.000 buku.
Amati saja, tiap film Hollywood, film Korea, Mandarin selalu
tersedia buku di ruang tamu, kamar. Film apapun.
Nah, pertanyaannya, berapa banyak buku yang kita koleksi..??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar