Sajak-sajak
yang dimulai dengan bait Al-Barzanji
Storrs
– New York, 1973-1974
Menjadi
saksi pemogokan
Aku
cemas bumi semakin menyusut
Pertentangan
ialah hukum surgawi
1.0
Sajak-sajak
yang dimulai dengan bait Al-Barzanji
1.1
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Nabi yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Sesudah
membuka pintu-pintu
aku
keluar menuju ladang
dan
di antara pohon kutemukan
senyum,
danau dan ayat Tuhan
1.2
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Muhammad yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Seperti
butir salju
ruhku
menggigit rumput
menghisap
putik makrifat
dan
setangkai mawar
1.3
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Matahari yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Aku
ingin
meletakkan
sekuntum sajak
di
makam Nabi
supaya
sejarah menjadi jinak
dan
mengirim sepasang merpati
1.4
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Purnama yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Aku
jatuh cinta
karena
matematik
mengajar
manusia
lebih
mulia dari malaikat
demikian
kutulis musik & puisi
dan
menanti mutmainah di sudut rumah
sambil
menatap kuncup rahmat mekar di halaman
1.5
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Cahaya yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Dengan
ikhlas
kutanam
pohon untuk burung
yang
sanggup
memuji
Tuhan dengan sempurna
1.6
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Rasul yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Batuputih,
Madura
Di
mata air
mukaku
bergoyang di antara pohon dan awan
dan
aku terbenam
di
pasir subhanallah
1.7
Ya,
Allah. Taburkanlah wangian
di
kubur Tercinta yang mulia
dengan
semerbak salawat
dan
salam sejahtera
Aku
ingin
jadi
pencuri
yang
lupa menutup jendela
ketika
menyelinap
ke
rumah Tuhan
dan
tertangkap
2
(Storrs—New York, 1973-1974)
(Storrs—New York, 1973-1974)
Tuhan menjaga diriku
dari
kejahatan bayang-bayang
gedung
pencakar, batu granit
lorong
bawah tanah
dan
gerbong usang
Dan
Tuhan menjaga diriku
dari
kejahatan angan-angan
Dari
gadis dengan seekor anjing
dan
rimah roti di tangan
Ketika
musim semi
dan
rumput menawarkan bunga
dan
kebebasan burung-dara
3
Semoga
abadi dinihari
yang
menurunkan bulan
dan
menumbuhkan seribu rindu
Subhanallah
Alhamdulillah
Allahuakbar
4
(Menjadi
saksi pemogokan)
Kusucikan
waktu dengan kata
sehingga
para pekerja
kembali
ke pabrik
Aku
tak pernah sangsi
kemerdekaan,
tangan gaib semesta
mengalir
lewat benang elektronik
dan
kesadaran yang mulia
5
(Aku
cemas bumi semakin menyusut)
Aku
cemas hujan tidak akan datang
tetapi
angin mengingatkan
Sedangkan
petani menabur benih di tangan
Demikian
kuperoleh kembali kepercayaan
dan
menunggu matahari dengan senyum
Aku
percaya kepada malam
aku
percaya kepada siang
6
Bahkan
kapal mencair di batas min
karena
pantai semakin jauh
Tetapi
tidak Engkau
Subhanallah
biru
Subhanallah
ungu
Subhanallah
rindu
7
O,
matahari pemantau camar
jangan
biarkan
dukaku
tersapu sebelum hari petang
dan
mendapat kepastian
Kemenangan,
seperti laut, menunggu pasang
8
Bidadari yang cerdik
Bidadari yang cerdik
mengirim
buahan
untuk
mata yang selalu menatap langit
dan
hari esok semata pelangi
Maka
senyumlah
karena
duka terakhir bergegas mengundurkan
Dan
engkau, bagai sutera, diterbangkan angin
9
Demikianlah
gelas yang pecah
tak
kembali ke laut
Dan
sayap yang patah
hanya
menulis huruf-huruf mati
Tanpa
makna
Kecuali
jika engkau percaya mukjizat
Dan,
kun fayakun
10
Dari
hukum gaya berat
kita
mengerti
kemiskinan
selalu bercumbu dengan maut
Sampai
keabadian
berubah
secara sempurna dan memuliakan semesta
Jangan
serahkan bukit-bukit
jika
mereka hanya menbagi nestapa
Karena
engkau pun
11
Aku
mendukung
maksud
pohon zaitun
menggugurkan
ranting di istana
Supaya
segala yang suci menjadi sejarah
dan
membuka halaman baru
Bagi
yang haus dan lapar
12
Duka
itu doa
Doa
itu iman
Iman
itu kebenaran
Kebenaran
itu sayap awan
yang
mengabarkan kebun bunga
selagi
engkau menunggu hari yang membeku
seolah
tidak ada tangan gaib
Yang
jari-jemarinya selalu merangkaimu
Dan
tak pernah melepaskan tanggung-jawab
Percayalah
13
Di
sini
kata
akhir daun yang gugur
tidak
lagi mendapat pengesahan
dan
pergi bagai bayang samar
Kecuali
engkau
karena
ruhmu telah disucikan dengan nafas-Nya
Tidak
akan
tidak
akan
14
Bertentangan
dengan
kebijaksanaan para wali
Siti
Jenar memotong api menjadi tujuh
sehingga
dapat berenang sepuasnya
melepas
rindu yang disimpan
Kemudian
ia kehilangan atas bawah
yang
disangka kebenaran
dan
mengundang tetangga ke pesta
15
Perangkat
yang membebaskan engkau
dari
kenyataan ialah mimpi
dan
kematian
Tetapi
tidak kurang dari itu
ialah
ruh dan kesadaran
karena
mereka sebagian dari kenyataan surgawi
Yang
pada saatnya
memberimu
kehidupan baru
16
Aku
mengundang makna
untuk
melebur darahku jadi putih
sehingga
mataku tidak lepas dari keabadian
Selalu
aku berharap
supaya
burung membagi sayap
Dan
menerbangkan ruhku – melayang
siapa
tahu
jika
batas telah menghilang
aku
dapat bertemu
Tidak
akan
tidak
akan kulepaskan lagi wajahku
17
Menyambut
pagi
adalah
kerja mulia bagi pemabuk
yang
cinta kepada sepi
Yang
memandang dunia
dengan
mata malaikat
Dan
tak pernah lupa
menafsirkan
tanda-tanda
Kadang-kadang
sebutir kebijaksanaan
puncak
pengetahuan
keluar
dari rahimnya
Menghias
matahari
18
Seorang
kawan mengatakan
bahwa
selain memburu lalat
kucing
juga dapat mengangkap tangkap – yang sejati
hakekat
segala gerak
Aku
sangsi
kebijaksanaan
terakhir sudah lepas
ketika
orang tidak lagi pandai berdoa
Karena
kita tidak punya
waktu
bagi kekosongan
manusia
bukan milik manusia
19
Engkau
dapat membujuk
awal
menjadi akhir
dan
akhir menjadi awal
karena
engkau pencipta lambang-lambang
Tetapi,
engkau kehilangan jejak
Lebih
baik serahkan laut kepada airnya
daun
kepada hijaunya
bintang
kepada cahayanya
Sebab
pada mulanya
hanyalah
kun fayakun
20
Yang
paling puncak
dari
kenyataan adalah keabadian
namun
ia lengkap pada dini hari
dan
tak menjaga manusia
itu
sebabnya
aku
menentang pembangunan kapal-kapal
Karena
satu-satunya jalan menyeberang
ialah
berenang mengikuti air sungai
Dan
begitulah engkau sampai ke ujung
21
Permainan
yang tak habis pakai
ialah
denyut darah ketika ia menyentuh kalimat
Engaku
akan menjadi tua tanpa mengerti hakekat kata
jika
tidak mengenal abjad
Satu-satunya
cara ialah menekan nadimu
dan
dengarkan bagaimana ia memuji Tuhan
Ikutlah
seperti
anak-anak bermain di atas pasir
22
Yang
membeku bukan hanya es
Kau
tahu semua yang bergerak akan berhenti
Engkau
penguasa mata angin
usirlah
senja
Sebagai
orang merdeka
engkau
pun punya hak
23
Dari
segala yang terbang
kupu-kupu
ialah yang kuning
dirahmati
beludru
Kadang-kadang
ia melepas sayap
Karena
bunga-bunga
seperti
kebijaksanaan
gugur
bersama angin
hanya
yang bersayap
sanggup
menangkap
Dan
engkau
24
Awan
tempat burung-burung singgah
menyambutmu
sebagai tamu
Sebagai
fakir
engkau
tak mengidamkan singgasana
Karena
itu semesta
laut
dari laut
adalah
sahabat
Sebab
mereka
pun memuji Tuhan
Dan
merendah
25
Pelabuhan
akhir
ialah
yang awal tempat engkau berangkat
Engkau
tidak lupa
cakrawala
penghabisan ialah yang pertama
Karena
bumi
begitu
sumpah galileo galilei
adalah
sebuah bayang-bayang
engkau
tidak akan lupa
26
Luluhkan
ruhmu pada mutmainah
dan
mutmainah pada laku
Karena
persenyawaan baru itu
tidak
tunduk pada newton
maka
semestamu ialah keabadian
Yang
takkan kembali
kecuali
kepada sepi
27
(Pertentangan
ialah hukum surgawi)
Kepada
matahari
kau
tak pernah menyatakan tidak
Setiap
pagi kau menuai
dan
mengelompokkan energi ke dalam makna
Namun
selalu saja kau lupa
bahwa
rindu juga tenaga
Ingat
pepatah
yang
sempurna ialah yang rindu
dan
rindu yang sempurna ialah yang lupa
28
Selain
sepi kun fayakun
juga
menjelma menjadi putih
Segala
yang tidak jatuh
sebagaimana
langit
menghapus
dendam pada yang putih
Dan
dari yang putih
engkau
yang memukau
Engkau,
mozaik, juga berwarna biru
Yang
biru ialah yang putih
Tidak
akan memudar, aku bersaksi
29
Kepada
optika
engkau
mengharap lebih dari sinar
tetapi
tidak tanpa matahari
Hak
penghuni malam ialah yang lembut
lebih
dari sekedar langit
Namun,
hanya bintang sanggup bertaburan
Dan
ruhmu, insyaallah
30
Semua
yang kemilau adalah yang hijau
Engkau
berdoa supaya warna
tetap
memikat dan air mewangi
Dan
sungia mengalirkan rindu
Maka
daun yang lepas
dari
dahan menjatuhkan makrifat
Lalu
engkau pun
31
Milik
bulan ialah yang lembut
sebab
salju selalu berkilau
Dan
engkau, sahabat mata air
lebih
bulan dari kuning
Karena
mutmainah, bagai bayang-bayang
mekar
dalam sunyi
32
Semoga
Tuhan memberi karunia rumput
Yang
menawarkan semi sejati
Karena
musim pelaut menaburkan benih
Yang
menyuburkan semesta
Dan
sunyi menjanjikan mimpi yang mawar
33
Atas
perintah
cahaya
menjadi bunyi
Di
atas pohon cakrawala
Di
antara para pemabuk
Setelah
perahu kembali ke sauh
engkau
pun berpihak
Kepada
lautan kabut
34
Di
ujung makrifat
bersama
malaikat
ketika
angin
dan
ruh
dan
hu
terjatuh
Dan
engkau
35
Bersama
rindu pohon
Aku
percaya pada yang merah
dan
Engkau. Bersama ombak, buih, dan nelayan
aku
percaya pada yang jingga
dan
Engkau. Bersama burung, rumput, dan petani
aku
percaya pada yang kuning
dan
Engkau. Bersama angin dan bintang
aku
percaya pada yang hijau
dan
Engkau. Bersama sauh, perahu, dan pelaut
aku
percaya pada yang biru
dan
Engkau. Bersama rebana dan kecapi
aku
percaya pada yang api
dan
Engkau. Bersama kabut dan hutan
aku
percaya pada yang ungu
dan
Engkau
36
Aku
cinta keajaiban
karena
bersama bulan bunga mengenal mawar
Aku
cinta keajaiban
karena
Hu pun
37
Khutbah-khutbah
burung
mengikat
langit dan awan
memberi
warna putih
kepada
mawar
dan
kepada ruhmu
38
Tuhan
dan malaikat mencuci pagi
lalu
awan pun membuka ujung langit
dan
engkau, wakil yang serba kuning, mengurai kabut
Ya
nabi salam’alaik
Ya
rasul salam’alaik
Ya
habib sama’alaik
39
Di
antara nama-nama indah
aku
pilih Al-Hayyu
yang
mengalirkan oksigen ke ujung pohon
dan
menggoda kerisik cemara
Ya
Hayyu
40
Kusapa
angin pagi di Ann Arbor
ditawarkannya
kalau-kalau aku suka keliling kota
Hari
itu mendung
dan
ia berjanji sungguh-sungguh
takkan
membiarkan aku kehujanan
Habis,
kami berdua adalah ayat Tuhan
41
Aku
percaya keajaiban O2
yang
mengalir lewat darah
dan
menyebarkan virus makrifat
42
Ya
Allah
Ya
Rasulullah
Ya
malaikat
Ya
bukit-bukit
Ya
batu-batu
Ya
daun melayang
Ya
burung mengigau
Ya
tumbuh
Ya
berkembang
Ya
menghilang
43
Yang
selalu ialah alif lam mim
yang
sempurna ialah kabut
ketika
menyebut nun
lalu,
menyelinap ke laut
Marhaban.
Ahlan wa sahlan
44
Burung
murai
menanam
rumput makrifat dan Hu
berisik
di daun Hu
beratap
di kutub Hu
berumah
di rantau Hu
berteduh
di ranting Hu
45
Makrifat
sungai pohon
Makrifat
bunga mawar
Makrifat
batu-batu
merangkai
tasbih danau
melebur
danau jadi kemilau
melebur
kemilau jadi ruh
melebur
ruh jadi aku
melebur
aku jadi nafas-Mu
46
Ketika
salju mencair
Ketika
zikir mengalir
Ketika
benam membenam
Ketika
engkau dan Hu
Melepas
rindu
47
Suatu
hari kutemukan
burung
di sangkar termenung membungkam
aku
bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka
yang melupakan Tuhan
tak
berhak mendengar burung bernyanyi
48
Sebagai
hadiah malaikat menanyakan
apakah
aku ingin berjalan di atas mega
dan
aku menolak
karena
kakiku masih di bumi
sampai
kejahatan terakhir dimusnahkan
Sampai
dhuafa dan mustadhafin
diangkat
Tuhan dari penderitaan
