Pages

Minggu, 28 Juli 2013

Makrifat DAUN - DAUN Makrifat

Isi Buku

Sajak-sajak yang dimulai dengan bait Al-Barzanji
Storrs – New York, 1973-1974
Menjadi saksi pemogokan
Aku cemas bumi semakin menyusut
Pertentangan ialah hukum surgawi

1.0
Sajak-sajak yang dimulai dengan bait Al-Barzanji

1.1
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Nabi yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Sesudah membuka pintu-pintu
aku keluar menuju ladang
dan di antara pohon kutemukan
senyum, danau dan ayat Tuhan

1.2
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Muhammad yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Seperti butir salju
ruhku menggigit rumput
menghisap putik makrifat
dan setangkai mawar

1.3
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Matahari yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
meletakkan sekuntum sajak
di makam Nabi
supaya sejarah menjadi jinak
dan mengirim sepasang merpati

1.4
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Purnama yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku jatuh cinta
karena matematik
mengajar manusia
lebih mulia dari malaikat
demikian kutulis musik & puisi
dan menanti mutmainah di sudut rumah
sambil menatap kuncup rahmat mekar di halaman

1.5
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Cahaya yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Dengan ikhlas
kutanam pohon untuk burung
yang sanggup
memuji Tuhan dengan sempurna

1.6
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Rasul yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Batuputih, Madura
Di mata air
mukaku bergoyang di antara pohon dan awan
dan aku terbenam
di pasir subhanallah

1.7
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Tercinta yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
jadi pencuri
yang lupa menutup jendela
ketika menyelinap
ke rumah Tuhan
dan tertangkap

2
(Storrs—New York, 1973-1974)

Tuhan menjaga diriku
dari kejahatan bayang-bayang
gedung pencakar, batu granit
lorong bawah tanah
dan gerbong usang
Dan Tuhan menjaga diriku
dari kejahatan angan-angan
Dari gadis dengan seekor anjing
dan rimah roti di tangan
Ketika musim semi
dan rumput menawarkan bunga
dan kebebasan burung-dara

3
Semoga abadi dinihari
yang menurunkan bulan
dan menumbuhkan seribu rindu

Subhanallah
Alhamdulillah
Allahuakbar

4
(Menjadi saksi pemogokan)

Kusucikan waktu dengan kata
sehingga para pekerja
kembali ke pabrik

Aku tak pernah sangsi
kemerdekaan, tangan gaib semesta
mengalir lewat benang elektronik
dan kesadaran yang mulia

5
(Aku cemas bumi semakin menyusut)

Aku cemas hujan tidak akan datang
tetapi angin mengingatkan
Sedangkan petani menabur benih di tangan
Demikian kuperoleh kembali kepercayaan
dan menunggu matahari dengan senyum
Aku percaya kepada malam
aku percaya kepada siang

6
Bahkan kapal mencair di batas min
karena pantai semakin jauh
Tetapi tidak Engkau
Subhanallah biru
Subhanallah ungu
Subhanallah rindu

7
O, matahari pemantau camar
jangan biarkan
dukaku tersapu sebelum hari petang
dan mendapat kepastian
Kemenangan, seperti laut, menunggu pasang

8
Bidadari yang cerdik
mengirim buahan
untuk mata yang selalu menatap langit
dan hari esok semata pelangi
Maka senyumlah
karena duka terakhir bergegas mengundurkan
Dan engkau, bagai sutera, diterbangkan angin

9
Demikianlah gelas yang pecah
tak kembali ke laut
Dan sayap yang patah
hanya menulis huruf-huruf mati
Tanpa makna
Kecuali jika engkau percaya mukjizat
Dan, kun fayakun

10
Dari hukum gaya berat
kita mengerti
kemiskinan selalu bercumbu dengan maut
Sampai keabadian
berubah secara sempurna dan memuliakan semesta
Jangan serahkan bukit-bukit
jika mereka hanya menbagi nestapa
Karena engkau pun

11
Aku mendukung
maksud pohon zaitun
menggugurkan ranting di istana
Supaya segala yang suci menjadi sejarah
dan membuka halaman baru
Bagi yang haus dan lapar

12
Duka itu doa
Doa itu iman
Iman itu kebenaran
Kebenaran itu sayap awan
yang mengabarkan kebun bunga
selagi engkau menunggu hari yang membeku
seolah tidak ada tangan gaib
Yang jari-jemarinya selalu merangkaimu
Dan tak pernah melepaskan tanggung-jawab
Percayalah

13
Di sini
kata akhir daun yang gugur
tidak lagi mendapat pengesahan
dan pergi bagai bayang samar
Kecuali engkau
karena ruhmu telah disucikan dengan nafas-Nya

Tidak akan
tidak akan

14
Bertentangan
dengan kebijaksanaan para wali
Siti Jenar memotong api menjadi tujuh
sehingga dapat berenang sepuasnya
melepas rindu yang disimpan
Kemudian ia kehilangan atas bawah
yang disangka kebenaran
dan mengundang tetangga ke pesta

15
Perangkat yang membebaskan engkau
dari kenyataan ialah mimpi
dan kematian
Tetapi tidak kurang dari itu
ialah ruh dan kesadaran
karena mereka sebagian dari kenyataan surgawi
Yang pada saatnya
memberimu kehidupan baru

16
Aku mengundang makna
untuk melebur darahku jadi putih
sehingga mataku tidak lepas dari keabadian
Selalu aku berharap
supaya burung membagi sayap
Dan menerbangkan ruhku – melayang
siapa tahu
jika batas telah menghilang
aku dapat bertemu
Tidak akan
tidak akan kulepaskan lagi wajahku

17
Menyambut pagi
adalah kerja mulia bagi pemabuk
yang cinta kepada sepi
Yang memandang dunia
dengan mata malaikat
Dan tak pernah lupa
menafsirkan tanda-tanda
Kadang-kadang sebutir kebijaksanaan
puncak pengetahuan
keluar dari rahimnya
Menghias matahari

18
Seorang kawan mengatakan
bahwa selain memburu lalat
kucing juga dapat mengangkap tangkap – yang sejati
hakekat segala gerak
Aku sangsi
kebijaksanaan terakhir sudah lepas
ketika orang tidak lagi pandai berdoa
Karena kita tidak punya
waktu bagi kekosongan
manusia bukan milik manusia

19
Engkau dapat membujuk
awal menjadi akhir
dan akhir menjadi awal
karena engkau pencipta lambang-lambang
Tetapi, engkau kehilangan jejak
Lebih baik serahkan laut kepada airnya
daun kepada hijaunya
bintang kepada cahayanya
Sebab pada mulanya
hanyalah kun fayakun

20
Yang paling puncak
dari kenyataan adalah keabadian
namun ia lengkap pada dini hari
dan tak menjaga manusia
itu sebabnya
aku menentang pembangunan kapal-kapal
Karena satu-satunya jalan menyeberang
ialah berenang mengikuti air sungai
Dan begitulah engkau sampai ke ujung

21
Permainan yang tak habis pakai
ialah denyut darah ketika ia menyentuh kalimat
Engaku akan menjadi tua tanpa mengerti hakekat kata
jika tidak mengenal abjad
Satu-satunya cara ialah menekan nadimu
dan dengarkan bagaimana ia memuji Tuhan
Ikutlah
seperti anak-anak bermain di atas pasir

22
Yang membeku bukan hanya es
Kau tahu semua yang bergerak akan berhenti
Engkau penguasa mata angin
usirlah senja
Sebagai orang merdeka
engkau pun punya hak

23
Dari segala yang terbang
kupu-kupu ialah yang kuning
dirahmati beludru
Kadang-kadang ia melepas sayap
Karena bunga-bunga
seperti kebijaksanaan
gugur bersama angin
hanya yang bersayap
sanggup menangkap
Dan engkau

24
Awan tempat burung-burung singgah
menyambutmu sebagai tamu
Sebagai fakir
engkau tak mengidamkan singgasana
Karena itu semesta
laut dari laut
adalah sahabat
Sebab
mereka pun memuji Tuhan
Dan merendah

25
Pelabuhan akhir
ialah yang awal tempat engkau berangkat
Engkau tidak lupa
cakrawala penghabisan ialah yang pertama
Karena bumi
begitu sumpah galileo galilei
adalah sebuah bayang-bayang
engkau tidak akan lupa

26
Luluhkan ruhmu pada mutmainah
dan mutmainah pada laku
Karena persenyawaan baru itu
tidak tunduk pada newton
maka semestamu ialah keabadian
Yang takkan kembali
kecuali kepada sepi

27
(Pertentangan ialah hukum surgawi)

Kepada matahari
kau tak pernah menyatakan tidak
Setiap pagi kau menuai
dan mengelompokkan energi ke dalam makna
Namun selalu saja kau lupa
bahwa rindu juga tenaga
Ingat pepatah
yang sempurna ialah yang rindu
dan rindu yang sempurna ialah yang lupa

28
Selain sepi kun fayakun
juga menjelma menjadi putih
Segala yang tidak jatuh
sebagaimana langit
menghapus dendam pada yang putih
Dan dari yang putih
engkau yang memukau
Engkau, mozaik, juga berwarna biru
Yang biru ialah yang putih
Tidak akan memudar, aku bersaksi

29
Kepada optika
engkau mengharap lebih dari sinar
tetapi tidak tanpa matahari
Hak penghuni malam ialah yang lembut
lebih dari sekedar langit
Namun, hanya bintang sanggup bertaburan
Dan ruhmu, insyaallah

30
Semua yang kemilau adalah yang hijau
Engkau berdoa supaya warna
tetap memikat dan air mewangi
Dan sungia mengalirkan rindu
Maka daun yang lepas
dari dahan menjatuhkan makrifat
Lalu engkau pun

31
Milik bulan ialah yang lembut
sebab salju selalu berkilau
Dan engkau, sahabat mata air
lebih bulan dari kuning
Karena mutmainah, bagai bayang-bayang
mekar dalam sunyi

32
Semoga Tuhan memberi karunia rumput
Yang menawarkan semi sejati
Karena musim pelaut menaburkan benih
Yang menyuburkan semesta
Dan sunyi menjanjikan mimpi yang mawar

33
Atas perintah
cahaya menjadi bunyi
Di atas pohon cakrawala
Di antara para pemabuk
Setelah perahu kembali ke sauh
engkau pun berpihak
Kepada lautan kabut

34
Di ujung makrifat
bersama malaikat
ketika angin
dan ruh
dan hu
terjatuh

Dan engkau

35
Bersama rindu pohon
Aku percaya pada yang merah
dan Engkau. Bersama ombak, buih, dan nelayan
aku percaya pada yang jingga
dan Engkau. Bersama burung, rumput, dan petani
aku percaya pada yang kuning
dan Engkau. Bersama angin dan bintang
aku percaya pada yang hijau
dan Engkau. Bersama sauh, perahu, dan pelaut
aku percaya pada yang biru
dan Engkau. Bersama rebana dan kecapi
aku percaya pada yang api
dan Engkau. Bersama kabut dan hutan
aku percaya pada yang ungu
dan Engkau

36
Aku cinta keajaiban
karena bersama bulan bunga mengenal mawar
Aku cinta keajaiban
karena Hu pun

37
Khutbah-khutbah burung
mengikat langit dan awan
memberi warna putih
kepada mawar
dan kepada ruhmu
38
Tuhan dan malaikat mencuci pagi
lalu awan pun membuka ujung langit
dan engkau, wakil yang serba kuning, mengurai kabut

Ya nabi salam’alaik
Ya rasul salam’alaik
Ya habib sama’alaik

39
Di antara nama-nama indah
aku pilih Al-Hayyu
yang mengalirkan oksigen ke ujung pohon
dan menggoda kerisik cemara

Ya Hayyu

40
Kusapa angin pagi di Ann Arbor
ditawarkannya kalau-kalau aku suka keliling kota
Hari itu mendung
dan ia berjanji sungguh-sungguh
takkan membiarkan aku kehujanan
Habis, kami berdua adalah ayat Tuhan

41
Aku percaya keajaiban O2
yang mengalir lewat darah
dan menyebarkan virus makrifat

42
Ya Allah
Ya Rasulullah
Ya malaikat
Ya bukit-bukit
Ya batu-batu
Ya daun melayang
Ya burung mengigau
Ya tumbuh
Ya berkembang
Ya menghilang

43
Yang selalu ialah alif lam mim
yang sempurna ialah kabut
ketika menyebut nun
lalu, menyelinap ke laut
Marhaban. Ahlan wa sahlan

44
Burung murai
menanam rumput makrifat dan Hu
berisik di daun Hu
beratap di kutub Hu
berumah di rantau Hu
berteduh di ranting Hu

45
Makrifat sungai pohon
Makrifat bunga mawar
Makrifat batu-batu
merangkai tasbih danau
melebur danau jadi kemilau
melebur kemilau jadi ruh
melebur ruh jadi aku
melebur aku jadi nafas-Mu

46
Ketika salju mencair
Ketika zikir mengalir
Ketika benam membenam
Ketika engkau dan Hu
Melepas rindu

47
Suatu hari kutemukan
burung di sangkar termenung membungkam
aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka yang melupakan Tuhan
tak berhak mendengar burung bernyanyi

48
Sebagai hadiah malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
Sampai dhuafa dan mustadhafin
diangkat Tuhan dari penderitaan