Pages

Rabu, 26 Juni 2013

Sang Primadona

Cerpen A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***

Rizal dan Mbah Hambali

Cerpen: A. Mustofa Bisri

Sebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin. Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu. Seolah-olah bersekongkol dengan kawan-kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum.

Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek. Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa?

"Terus teranglah, Zal. Sebenarnya cewek seperti apa sih yang kau idamkan?" tanya Andik menggoda, saat mereka berkumpul di rumah Pak Aryo yang biasa dijadikan tempat mangkal para aktivis LSM kelompoknya Rizal itu. "Kalau tahu maumu, kita kan bisa membantu, paling tidak memberikan informasi-informasi."

"Iya, Zal," timpal Budi, "kalau kau cari yang cantik, adikku punya kawan cantik sekali. Mau kukenalkan? Jangan banyak pertimbanganlah! Dengar-dengar kiamat sudah dekat lho, Zal."

"Mungkin dia cari cewek yang hafal Quran ya, Zal?!" celetuk Eko sambil ngakak. "Wah kalau iya, kau mesti meminta jasa ustadz kita, Kang Ali ini. Dia pasti mempunyai banyak kenalan santri-santri perempuan, termasuk yang hafizhah."

"Apa ada ustadz yang rela menyerahkan anaknya yang hafizhah kepada bujang lapuk yang nggak bisa ngaji seperti Rizal ini?" tukas Edy mengomentari.

"Tenang saja, Zal!" ujar Kang Ali, "kalau kau sudah berminat, tinggal bilang saja padaku."

"Jangan-jangan kamu impoten ya, Zal?" tiba-tiba Yopi yang baru beberapa bulan kawin ikut meledek. Rizal meninju lengan Yopi, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecut.

"Tidak sumbut dengan tampilannmu," celetuk Pak Aryo ikut nimbrung sehabis menyeruput kopinya. "Tampang boleh, sudah punya penghasilan lumayan, sarjana lagi; sama cewek kok takut! Aku carikan bagaimana?"

"Jawab dong, Zal!" kata Bu Aryo yang muncul menghidangkan pisang goreng dan kacang rebus, mencoba menyemangati Rizal yang tak berkutik dikerubut kawan-kawannya.

"Biar saja, Bu," jawab Rizal pendek tanpa nada kesal. "Kalau capek kan berhenti sendiri."

Memang Rizal orangnya baik. Setiap kali diledek dan digoda kawan-kawannya soal kawin begitu, dia tidak pernah marah. Bahkan diam-diam dia bersyukur kawan-kawannya memperhatikan dirinya. Dan bukannya dia tidak pernah berpikir untuk mengakhiri masa lajangnya; takut pun tidak. Dia pernah mendengar sabda Nabi yang menganjurkan agar apabila mempunyai sesuatu hajat yang masih baru rencana jangan disiar-siarkan. Sudah sering --sampai bosan-- Rizal menyatakan keyakinannya bahwa jodoh akan datang sendiri, tidak perlu dicari. Dicari ke mana-mana pun, jika bukan jodoh pasti tidak akan terwujud. Jodoh seperti halnya rezeki. Mengapa orang bersusah-payah memburu rezeki, kalau rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya dari Atas. Harta yang sudah di tangan seseorang pun kalau bukan rezekinya akan lepas. Dia pernah membaca dalam buku "Hikam"-nya Syeikh Ibn ’Athaillah As-Sakandarany sebuah ungkapan yang menarik, "Kesungguhanmu dalam memperjuangankan sesuatu yang sudah dijamin untukmu dan kesambalewaanmu dalam hal yang dituntut darimu, membuktikan padamnya mata-hati dari dirimu."

Setiap teringat ungkapan itu, Rizal merasa seolah-olah disindir oleh tokoh sufi dari Iskandariah itu. Diakuinya dirinya selama ini sibuk --kadang-kadang hingga berkelahi dengan kawan-- mengejar rezeki, sesuatu yang sebetulnya sudah dijamin Tuhan untuknya. Sementara dia sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan.
"Suatu ketika mereka akan tahu juga," katanya dalam hati.
***
Syahdan, pada suatu hari, ketika kelompok Rizal berkumpul di rumah Pak Aryo seperti biasanya, Kang Ali bercerita panjang lebar tentang seorang "pintar" yang baru saja ia kunjungi. Kang Ali memang mempunyai kesukaan mengunjungi orang-orang yang didengarnya sebagai orang pintar; apakah orang itu itu kiai, tabib, paranormal, dukun, atau yang lain. "Aku ingin tahu," katanya menjelaskan tentang kesukaannya itu, "apakah mereka itu memang mempunyai keahlian seperti yang aku dengar, atau hanya karena pintar-pintar mereka membohongi masyarakat sebagaimana juga terjadi di dunia politik." Karena kesukaannya inilah, oleh kawan-kawannya Kang Ali dijuluki pakar "orang pintar".

"Meskipun belum tua benar, orang-orang memanggilnya mbah. Mbah Hambali. Orangnya nyentrik. Kadang-kadang menemui tamu ote-ote, tanpa memakai baju. Kadang-kadang dines pakai jas segala. Tamunya luar biasa; datang dari segala penjuru tanah air. Mulai dari tukang becak hingga menteri. Bahkan menurut penuturan orang-orang dekatnya, presiden pernah mengundangnya ke istana. Bermacam-macam keperluan para tamu itu; mulai dari orang sakit yang ingin sembuh, pejabat yang ingin naik pangkat, pengusaha pailit yang ingin lepas dari lilitan utang, hingga caleg nomor urut sepatu yang ingin jadi. Dan kata orang-orang yang pernah datang ke Mbah Hambali, doa beliau memang mujarab. Sebagian di antara mereka malah percaya bahwa beliau waskita, tahu sebelum winarah."

Pendek kata, menurut Kang Ali, Mbah Hambali ini memang lain. Dibanding orang-orang "pintar" yang pernah ia kunjungi, mbah yang satu ini termasuk yang paling meyakinkan kemampuannya.

"Nah, kalau kalian berminat," kata Kang Ali akhirnya, "aku siap mengantar."

"Wah, ide bagus ini," sahut Pak Aryo sambil merangkul Rizal. "Kita bisa minta tolong atau minimal minta petunjuk tentang jejaka kasep kita ini. Siapa tahu jodohnya memang melalui Mbah Hambali itu."

"Setujuuu!" sambut kawan-kawan yang lain penuh semangat seperti teriakan para wakil rakyat di gedung parlemen. Hanya Rizal sendiri yang, seperti biasa, hanya diam saja; sambil senyum-senyum kecut. Sama sekali tak ada tanda-tanda dia keberatan. Apakah sikapnya itu karena dia menghargai perhatian kawan-kawannya dan tak mau mengecewakan mereka, atau sebenarnya dia pun setuju tapi malu, atau sebab lain, tentu saja hanya Rizal yang tahu. Tapi ketika mereka memintanya untuk menetapkan waktu, dia tampak tidak ragu-ragu menyebutkan hari dan tanggal; meski seandainya yang lain yang menyebutkannya, semuanya juga akan menyetujuinya, karena hari dan tanggal itu merupakan waktu prei mereka semua.
***
Begitulah. Pagi-pagi pada hari tanggal yang ditentukan, dipimpin Kang Ali, mereka beramai-ramai mengunjungi Mbah Hambali. Ternyata benar seperti cerita Kang Ali, tamu Mbah Hambali memang luar biasa banyaknya. Pekarangan rumahnya yang luas penuh dengan kendaraan. Dari berbagai plat nomor mobil, orang tahu bahwa mereka yang berkunjung datang dari berbagai daerah. Rumahnya yang besar dan kuno hampir seluruh ruangnya merupakan ruang tamu. Berbagai ragam kursi, dari kayu antik hingga sofa model kota, diatur membentuk huruf U, menghadap dipan beralaskan kasur tipis di mana Mbah Hambali duduk menerima tamu-tamunya. Di dipan itu pula konon si mbah tidur. Persis di depannya, ada tiga kursi diduduki mereka yang mendapat giliran matur.

Ternyata juga benar seperti cerita Kang Ali, Mbah Hambali memang nyentrik. Agak deg-degan juga rombongan Rizal cs melihat bagaimana "orang pintar" itu memperlakukan tamu-tamunya. Ada tamu yang baru maju ke depan, langsung dibentak dan diusir. Ada tamu yang disuruh mendekat, seperti hendak dibisiki tapi tiba-tiba "Au!" si tamu digigit telinganya. Ada tamu yang diberi uang tanpa hitungan, tapi ada juga yang dimintai uang dalam jumlah tertentu.

Giliran rombongan Rizal cs diisyarati disuruh menghadap. Kang Ali, Pak Aryo, dan Rizal sendiri yang maju. Belum lagi salah satu dari mereka angkat bicara, tiba-tiba Mbah Hambali bangkit turun dari dipannya, menghampiri Rizal. "Pengumuman! Pengumuman!" teriaknya sambil menepuk-nepuk pundak Rizal yang gemetaran. "Kenalkan ini calon menantu saya! Sarjana ekonomi, tapi nyufi!" Kemudian katanya sambil mengacak-acak rambut Rizal yang disisir rapi, "Sesuai yang tersurat, kata sudah diucapkan, disaksikan malaikat, jin, dan manusia. Apakah kau akan menerima atau menolak takdirmu ini?"

"Ya, Mbah!" jawab Rizal mantap.
"Ya bagaimana? Jadi maksudmu kau menerima anakku sebagai istrimu?"

"Ya, menerima Mbah!" sahut Rizal tegas.
"Ucapkan sekali lagi yang lebih tegas!"

"Saya menerima, Mbah!"
"Alhamdulillah! Sudah, kamu dan rombonganmu boleh pulang. Beritahukan keluargamu besok lusa suruh datang kemari untuk membicarakan kapan akad nikah dan walimahnya!"

Di mobil ketika pulang, Rizal pun dikeroyok kawan-kawannya.
"Lho, kamu ini bagaimana, Zal?" kata Pak Aryo penasaran. "Tadi kamu kok ya ya saja, seperti tidak kau pikir."

"Kau putus asa ya?" timpal Budi. "Atau jengkel diledek terus sebagai bujang lapuk, lalu kau mengambil keputusan asal-asalan begitu?"
"Ya kalau anak Mbah Hambali cantik," komentar Yopi, "kalau pincang atau bopeng, misalnya, bagaimana?"

"Pernyataanmu tadi disaksikan orang banyak lho," kata Eko mengingatkan. "Lagi pula kalau kau ingkar, kau bisa kualat Mbah Hambali nanti!"
"Jangan-jangan kau diguna-gunain Mbah Hambali, Zal!" kata Andik khawatir.

Seperti biasa, Rizal hanya diam sambil senyum-senyum. Kali ini tidak seperti biasa, Kang Ali juga diam saja sambil senyum-senyum penuh arti. ***
Rembang, 2004

Konvensi

Cerpen A. Mustofa Bisri

Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini --sejak seorang sahabatku membawa pembesar dari Jakarta ke rumah-- martabatku meningkat. Aku kini dikenal sebagai "orang pintar" dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, "memagari" sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.

Tuhan kalau mau memberi rezeki hamba-Nya memang banyak jalannya. Syukur kepada Tuhan, kini rumahku pun sudah pantas disebut rumah. Sepeda onthel-ku sudah kuberikan pembantuku, kini ke mana-mana aku naik mobil Kijang. Pergaulanku pun semakin luas.

Nah, di musim pemilihan kepala daerah atau pilkada saat ini, tentu saja aku ikut sibuk. Dari daerahku sendiri tidak kurang dari sepuluh orang calon yang datang ke rumah. Tidak itu saja. Para pendukung atau tim sukses mereka juga datang untuk memperkuat. Mereka umumnya minta restu dan dukungan. Sebetulnya bosan juga mendengarkan bicara mereka yang hampir sama satu dengan yang lain. Semuanya pura-pura prihatin dengan kondisi daerah dan rakyatnya, lalu memuji diri sendiri atau menjelekkan calon-calon lain. Padahal, rata-rata mereka, menurut penglihatanku, hanya bermodal kepingin. Beberapa di antara mereka bahkan bahasa Indonesianya saja masih baikan aku. Tapi ada juga timbal-baliknya. Saat pulang, mereka tidak lupa meninggalkan amplop yang isinya lumayan.
***
Pagi itu dia datang ke rumah sendirian. Tanpa ajudan. Padahal, kata orang-orang, ke mana-mana dia selalu dikawal ajudan atau stafnya. Pakaian safari --kata orang-orang, sejak pensiun dari dinas militer, dia tidak pernah memakai pakaian selain stelan safari-- yang dikenakannya tidak mampu menampil-besarkan tubuhnya yang kecil. Demikian pula kulitnya yang hitam kasar, tak dapat disembunyikan oleh warna bajunya yang cerah lembut. Bersemangat bila berbicara dan kelihatan malas bila mendengarkan orang lain. Mungkin karena aku justru termasuk orang yang agak malas bicara dan suka mendengar, maka dia tampak kerasan sekali duduk lesehan di karpetku yang butut.

Dia cerita bahwa sebentar lagi masa jabatannya sebagai bupati akan habis. Tapi dia didorong-dorong --dia tidak menyebutkan siapa-siapa yang mendorong-dorongnya-- untuk maju mencalonkan lagi dalam pilkada mendatang. Sebetulnya dia merasa berat, tapi dia tidak mau mengecewakan mereka yang mengharapkannya tetap memimpin kabupaten yang terbelakang ini.

"Nawaitu saya cuma ingin melanjutkan pembangunan daerah ini hingga menjadi kabupaten yang makmur dan berwibawa," katanya berapi-api. "Saya sedih melihat kawan-kawan di pedesaan, meski saya sudah berbuat banyak selama ini, masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perjuangan saya demi rakyat daerah ini khususnya, belum selesai."

"Saya sudah menyusun rencana secara bertahap yang saya perkirakan dalam masa lima tahun ke depan, akan paripurna pengentasan kemiskinan di daerah ini. Saya tahu, untuk itu hambatannya tidak sedikit." Dia menyedot Dji Sam Soe-nya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara yang sengaja dilirihkan. "Njenengan tahu, orang-orang yang selama ini ada di sekeliling saya, yang resminya merupakan pembantu-pembantu saya, justru malah hanya mengganggu. Sering menjegal saya. Mereka sering mengambil kebijaksanaan sendiri dengan mengatasnamakan saya. Lha akhirnya saya kan yang ketiban awu anget, terkena akibatnya. Sekarang ini beredar isu katanya bupati menyelewengkan dana ini-itu; bupati menyunati bantuan-bantuan untuk masyarakat; bupati membangun rumah seharga sekian miliar di kampung asalnya; dan isu-isu negatif lain. Ini semua sumbernya ya mereka itu."

"Namun itu semua tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap maju demi rakyat daerah ini yang sangat saya cintai. Saya mohon restu dan dukungan Panjenengan. Saya berjanji dalam diri saya, kalau nanti saya terpilih lagi, akan saya sapu bersih sampah-sampah yang tak tahu diri itu dari lingkungan saya."

Dia menyebut beberapa nama yang selama ini memang aku kenal sebagai pembantu-pembantu dekatnya. Aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali memperlihatkan ekspresi heran atau kagum. Sikap yang ternyata membuatnya semakin bersemangat.

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" tanyaku untuk pantas-pantas saat dia sedang menghirup tehnya.

Buru-buru dia letakkan gelas tehnya dan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah melakukan pendekatan kepada Pak Kiai Sahil. Bahkan beliau mengikhlaskan putranya, Gus Maghrur, untuk mendampingi saya sebagai cawabup."

Kiai Sahil adalah seorang tokoh sangat berpengaruh di daerah kami. Partai terbesar di sini tak bakalan mengambil keputusan apa pun tanpa restu dan persetujuan kiai yang satu ini. Sungguh cerdik orang ini, pikirku.

"Kiai Sahil sudah memanggil pimpinan partai Anu dan dipertemukan dengan saya. Dan tanpa banyak perdebatan, disepakati saya sebagai calon tunggal bupati dan Gus Maghrur pendamping saya sebagai cawabup. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang kuat ini dan mampu mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih layak."
***
Sesuai pembicaraan di telepon sebelumnya, malam itu sekda datang bersama istrinya. Sementara istrinya ngobrol dengan istriku, dia langsung menyampaikan maksud tujuannya.

"Langsung saja, Mbah; maksud kedatangan kami selain bersilaturahmi dan menengok kesehatan Simbah, kami ingin mohon restu. Terus terang kami kesulitan menolak kawan-kawan yang mendorong kami untuk mencalonkan sebagai bupati. Lagi pula memang selama periode kepemimpinan bupati yang sekarang, Panjenengan tahu sendiri, tak ada kemajuan yang berarti. Saya yang selama ini mendampinginya setiap saat merasa prihatin, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus tutup mata dan telinga bila melihat dan mendengar tentang penyelewengan atasan saya itu."

"Jadi, selama ini, Sampeyan tidak pernah mengingatkan atau menegurnya bila melihat dia berbuat yang tidak semestinya?" tanyaku.

"Ya tidak sekali dua kali," sahutnya, "tapi tak pernah didengarkan. Mungkin dia pikir saya kan hanya bawahannya. Setiap kali saya ingatkan, dia selalu mengatakan bahwa dialah bupatinya dan saya hanya sekretaris; dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Lama-lama saya kan bosan. Ya akhirnya saya diamkan saja. Pikir saya, dosa-dosanya sendiri."

"Tapi akibatnya kan bisa juga mengenai orang banyak?!"
"Lha, itulah, Mbah, yang membuat saya prihatin dan terus mengganggu nurani saya. Tapi ke depan hal ini tidak boleh berulang. Saya dan kawan-kawan sudah bertekad akan menghentikannya. Bila nanti saya terpilih, saya tidak akan biarkan praktek-praktek tidak benar seperti kemarin-kemarin itu terjadi. Saya akan memulai tradisi baru dalam pemerintahan daerah ini. Tradisi yang mengedepankan kejujuran dan tranparansi. Pemerintahan yang bersih. Kasihan rakyat yang sekian lamanya tidak mendapatkan haknya, karena kerakusan pemimpinnya. Saya tahu persis data-data potensi daerah ini yang sebenarnya tidak kalah dari daerah-daerah lain. Seandainya dikelola dengan baik, saya yakin daerah ini akan menjadi maju dan tidak mustahil bahkan paling maju di wilayah propinsi."

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" Aku mengulang pertanyaanku kepada bosnya tempo hari.
"Ya, mayoritas pimpinan partai saya, Partai Polan, dan pengurus-pengurus anak cabangnya sudah setuju mencalonkan saya sebagai bupati dan Drs Rozak dari Partai Anu sebagai cawabupnya. Jadi nanti koalisi antara Partai Polan dan Partai Anu. Menurut hitungan di atas kertas suara kedua partai besar ini sudah lebih dari cukup."

"Lho, aku dengar Partai Anu sudah mencalonkan bos Sampeyan berpasangan dengan Gus Maghrur?" selaku.
"Ah, itu belum resmi, Mbah. Beberapa tokoh dari Partai Anu yang ketemu saya, justru menyatakan tidak setuju dengan pasangan itu. Pertama, karena mereka sudah mengenal betul bagaimana pribadi bos saya dan meragukan kemampuan Gus Maghfur. Itu kan akal-akalannya bos saya saja. Gus Maghfur hanya dimanfaatkan untuk meraup suara mereka yang fanatik kepada Kiai Sahil."
***
Konferensi Cabang Partai Anu yang digelar dalam suasana demam pilkada, meski sempat memanas, namun berakhir dengan mulus. Drs Rozak terpilih sebagai ketua baru dengan perolehan suara cukup meyakinkan, mengalahkan saingannya, Gus Maghrur.

Drs Rozak bergerak cepat. Setelah kelengkapan pengurus tersusun, langsung mengundang rapat pengurus lengkap. Di samping acara perkenalan, rapat pertama itu juga memutuskan: DPC akan mengadakan konvensi untuk penjaringan calon-calon bupati dan wakil bupati. Drs Rozak menyatakan dalam konferensi pers bahwa selama ini partainya belum secara resmi menetapkan calon dan inilah saatnya secara resmi partai pemenang pemilu kemarin ini membuka pendaftaran calon dari mana pun. Bisa dari tokoh independen, bisa dari partai lain. Ditambahkan oleh ketua baru ini, bahwa dia sudah berkonsultasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Partai dan diizinkan melakukan konvensi tidak dengan sistem paket. Artinya, masing-masing mendaftar sebagai calon bupati atau wakil bupati dan baru nantinya ditetapkan siapa berpasangan dengan siapa.

Tak lama setelah diumumkan, banyak tokoh yang mendaftar, baik sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. Termasuk di antara mereka yang mendaftar sebagai cabup: bupati lama dan sekdanya. Menurut keterangan panitia konvensi, agar sesuai dengan prinsip demokrasi, calon-calon akan digodok, dipilih, dan ditetapkan melalui pertemuan antara pengurus cabang lengkap, pengurus-pengurus anak cabang, dan organisasi-organisasi underbow partai; dengan ketentuan partai hanya akan mencalonkan satu cabup dan satu cawabup.

Semua orang menunggu-nunggu hasil konvensi partai terbesar di kabupaten itu. Maklum Partai Anu merupakan partai yang diyakini menentukan. Apalagi sebelumnya sudah ramai dan simpang siur berita mengenai calon-calon dari partai ini. Orang-orang tak ingin terus menduga-duga apakah benar partai yang katanya menyesal dulu mendukung bupati yang sekarang akan mencalonkannya lagi berpasangan dengan Gus Maghrur, putra Kiai Sahil sesepuh partai. Dan apakah sekda yang konon dicalonkan oleh Partai Polan benar akan berpasangan dengan Drs Rozak yang kini menjadi ketua Partai Anu.

Singkat cerita, konvensi berjalan dengan mulus. Sesuai kesepakatan, calon bupati dipilih sendiri dan calon wakil bupati dipilih sendiri pula. Kemudian yang terpilih sebagai cabup dipasangkan dengan yang terpilih sebagai cawabup. Hasilnya sungguh mengejutkan banyak orang, terutama bupati lama dan sekdanya. Ternyata yang terpilih dan disepakati menjadi calon-calon partai ialah Drs Rozak sebagai cabup dan Ir Sarjono, ketua Partai Polan sebagai cawabupnya.
***
"Itulah politik," kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. "Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku --dan kamu ikut mendorong-dorongku-- untuk ikutan maju sebagai cawabup!" ***

Wabah

Cerpen A. Mustofa Bisri

Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, "Bau apa ini?" Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar "kelompok" dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. "Kau mencium sesuatu, nek?"

"Ya. Bau aneh yang tak sedap!" jawab nenek.
"Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?"

"Mungkin anakmu."
"Belum tentu; boleh jadi cucumu!"

"Atau salah seorang pembantu kita."
Ayah berbisik-bisik dengan ibu. "Kau mencium sesuatu, Bu?"

"Ya. Bau aneh yang tak sedap!" jawab ibu.
"Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?"

"Mungkin ibumu."
"Belum tentu; boleh jadi menantumu."
"Atau salah seorang pembantu kita."

Demikianlah para menantu pun berbisik-bisik dengan istri atau suami masing-masing. Anak-anak berbisik antarmereka. Para pembantu berbisik-bisik antarmereka. Kemudian keadaan berkembang menjadi bisik-bisik lintas "kelompok". Kakek berbisik-bisik dengan ayah atau menantu laki-laki atau pembantu laki-laki. Nenek berbisik-bisik dengan ibu atau menantu perempuan atau pembantu perempuan. Para menantu berbisik-bisik dengan orang tua masing-masing. Ibu berbisik-bisik dengan anak perempuannya atau menantu perempuannya atau pembantu perempuan. Ayah berbisik-bisik dengan anak laki-lakinya atau menantu laki-lakinya atau pembantu laki-laki. Akhirnya semuanya berbisik-bisik dengan semuanya.

Bau aneh tak sedap yang mula-mula dikira hanya tercium oleh masing-masing itu semakin menjadi masalah, ketika bisik-bisik berkembang menjadi saling curiga antarmereka. Apalagi setiap hari selalu bertambah saja anggota keluarga yang terang-terangan menutup hidungnya apabila sedang berkumpul. Akhirnya setelah semuanya menutup hidung setiap kali berkumpul, mereka pun sadar bahwa ternyata semuanya mencium bau aneh tak sedap itu.

Mereka pun mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan masalah yang mengganggu ketenangan keluarga besar itu. Masing-masing tidak ada yang mau mengakui bahwa dirinya adalah sumber dari bau aneh tak sedap itu. Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu.

Untuk menghindari pertengkaran dan agar pembicaraan tidak mengalami deadlock, maka untuk sementara fokus pembicaraan dialihkan kepada menganalisa saja mengapa muncul bau aneh tak sedap itu.

Alhasil, didapat kesimpulan yang disepakati bersama bahwa bau itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan. Oleh karena itu diputuskan agar semua anggota keluarga meningkatkan penjagaan kebersihan; baik kebersihan diri maupun lingkungan. Selain para pembantu, semua anggota keluarga diwajibkan untuk ikut menjaga kebersihan rumah dan halaman. Setiap hari, masing-masing mempunyai jadwal kerja bakti sendiri. Ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan seterusnya. Sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Menumpuk atau merendam pakaian kotor dilarang keras.

Juga disepakati untuk membangun beberapa kamar mandi baru. Tujuannya agar tak ada seorang pun anggota keluarga yang tidak mandi dengan alasan malas. Siapa tahu bau itu muncul justru dari mereka yang malas mandi. Di samping itu, semua anggota keluarga diharuskan memakai parfum dan menyemprot kamar masing-masing dengan penyedap ruangan. Semua benda dan bahan makanan yang menimbulkan bau seperti trasi, ikan asin, jengkol, dan sebagainya dilarang dikonsumsi dan tidak boleh ada dalam rumah. Setiap jengkal tanah yang dapat ditanami, ditanami bunga-bunga yang berbau wangi seperti mawar, melati, kenanga, dan sebagainya.

Ketika kemudian segala upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil dan justru bau aneh tak sedap itu semakin menyengat, maka mereka menyepakati untuk beramai-ramai memeriksakan diri. Jangan-jangan ada seseorang atau bahkan beberapa orang di antara mereka yang mengidap sesuatu penyakit. Mereka percaya ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan bau seperti sakit gigi, sakit lambung, paru-paru, dan sebagainya. Pertama-tama mereka datang ke puskesmas dan satu per satu mereka diperiksa. Ternyata semua dokter puskesmas yang memeriksa mereka menyatakan bahwa mereka semua sehat. Tak ada seorang pun yang mengidap sesuatu penyakit. Tak puas dengan pemeriksaan di puskesmas, mereka pun mendatangi dokter-dokter spesialis; mulai dari spesialis THT, dokter gigi, hingga ahli penyakit dalam. Hasilnya sama saja. Semua dokter yang memeriksa tidak menemukan kelainan apa pun pada kesemuanya.

Mereka merasa gembira karena oleh semua dokter --mulai dari dokter puskesmas hingga dokter-dokter spesialis-- di kota, mereka dinyatakan sehat. Setidak-tidaknya bau aneh dan busuk yang meruap di rumah mereka kemungkinan besar tidak berasal dari penyakit yang mereka idap. Namun ini tidak memecahkan masalah. Sebab bau aneh tak sedap itu semakin hari justru semakin menyesakkan dada. Mereka pun berembug kembali.

"Sebaiknya kita cari saja orang pintar;" usul kakek sambil menutup hidung, "siapa tahu bisa memecahkan masalah kita ini."
"Paranormal, maksud kakek?" sahut salah seorang menantu sambil menutup hidung.

"Paranormal, kiai, dukun, atau apa sajalah istilahnya; pokoknya yang bisa melihat hal-hal yang gaib."
"Ya, itu ide bagus," kata ayah sambil menutup hidung mendukung ide kakek, "Jangan-jangan bau aneh tak sedap ini memang bersumber dari makhluk atau benda halus yang tidak kasat mata."

"Memang layak kita coba," timpal ibu sambil menutup hidung, "orang gede dan pejabat tinggi saja datang ke "orang pintar" untuk kepentingan pribadi, apalagi kita yang mempunyai masalah besar seperti ini."

Ringkas kata akhirnya mereka beramai-ramai mendatangi seorang yang terkenal "pintar". "Orang pintar" itu mempunyai banyak panggilan. Ada yang memanggilnya Eyang, Kiai, atau Ki saja. Mereka kira mudah. Ternyata pasien "orang pintar" itu jauh melebihi pasien dokter-dokter spesialis yang sudah mereka kunjungi. Mereka harus antre seminggu lamanya, baru bisa bertemu "orang pintar" itu. Begitu masuk ruang praktik sang Eyang atau sang Kiai atau sang Ki, mereka terkejut setengah mati. Tercium oleh mereka bau yang luar biasa busuk. Semakin dekat mereka dengan si "orang pintar" itu, semakin dahsyat bau busuk menghantam hidung-hidung mereka. Padahal mereka sudah menutupnya dengan semacam masker khusus. Beberapa di antara mereka sudah ada yang benar-benar pingsan. Mereka pun balik kanan. Mengurungkan niat mereka berkonsultasi dengan dukun yang ternyata lebih busuk baunya daripada mereka itu.

Keluar dari ruang praktik, mereka baru menyadari bahwa semua pasien yang menunggu giliran ternyata memakai masker. Juga ketika mereka keluar dari rumah sang dukun mereka baru ngeh bahwa semua orang yang mereka jumpai di jalan, ternyata memakai masker.

Mungkin karena beberapa hari ini seluruh perhatian mereka tersita oleh problem bau di rumah tangga mereka sendiri, mereka tidak sempat memperhatikan dunia di luar mereka. Maka ketika mereka sudah hampir putus asa dalam usaha mencari pemecahan problem tersebut, baru mereka kembali membaca koran, melihat TV, dan mendengarkan radio seperti kebiasaan mereka yang sudah-sudah. Dan mereka pun terguncang. Dari siaran TV yang mereka saksikan, koran-koran yang mereka baca, dan radio yang mereka dengarkan kemudian, mereka menjadi tahu bahwa bau aneh tak sedap yang semakin hari semakin menyengat itu ternyata sudah mewabah di negerinya.

Wabah bau yang tak jelas sumber asalnya itu menjadi pembicaraan nasional. Apalagi setelah korban berjatuhan setiap hari dan jumlahnya terus meningkat. Ulasan-ulasan cerdik pandai dari berbagai kalangan ditayangkan di semua saluran TV, diudarakan melalui radio-radio, dan memenuhi kolom-kolom koran serta majalah. Bau aneh tak sedap itu disoroti dari berbagai sudut oleh berbagai pakar berbagai disiplin. Para ahli kedokteran, ulama, aktivis LSM, pembela HAM, paranormal, budayawan, hingga politisi, menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing. Mereka semua --seperti halnya keluarga besar kita-- mencurigai banyak pihak sebagai sumber bau aneh tak sedap itu. Tapi --seperti keluarga besar kita--tak ada seorang pun di antara mereka yang mencurigai dirinya sendiri.

Hingga cerita ini ditulis, misteri wabah bau aneh tak sedap itu belum terpecahkan. Tapi tampaknya sudah tidak merisaukan warga negeri --termasuk keluarga besar itu-- lagi. Karena mereka semua sudah terbiasa dan menjadi kebal. Bahkan masker penutup hidung pun mereka tak memerlukannya lagi. Kehidupan mereka jalani secara wajar seperti biasa dengan rasa aman tanpa terganggu. ***
Rembang, 6 Juni 2003

Selasa, 25 Juni 2013

Merubah Masyarakat Menurut Ibn Khaldun


“sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai 40 tahun, dia berdoa: ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tua ku, dan agar aku dapat berbuat kepajikan yang Engkau ridai” (Q.S Al-Ahqaf (46) ayat 15)

Perubahan sosial dalam konsep sosiologi yang kita kenal sementara ini ada 2 jenis: perubahan struktural fungsional yang dikenalkan oleh Talcot Parson, perubahan sosial Marx dengan pendekatan konflik.

Atau menurut nalar masyarakat yang saat ini berkembang dengan pendekatan bidimensional, pada masyarakat tua, tradisional yang penuh dengan mitos dan simbol (Islam, Kristen, Yahudi, Majusi) setiap kali timbul permasalahan cenderung kembali mencari petunjuk dan inspirasi ke masa lampau. Masa lampau identik dengan masa keemasan. “kembali kepada warisan leluhur”, itulah jaminan ketentraman dan kebahagiaan.

Menurut Ibn Khaldun sendiri, perubahan sosial merupakan kenyataan sejarah, jadi bukan perubahan sosial sebagai tujuan, karena itu merupakan fakta sejarah. Tetapi apakah, siapakah dan mengapa perubahan sosial itu mesti terjadi? Semua teori sosiologi selalu memasukkan unsur terpenting dalam perubahan sosial yaitu para-penguasa, pemimpin yang memegang peran sentral dalam menentukan perubahan sosial. Dari gagasan Plato, Kong Fu Tse, Machiavelli, Mosca, Suzanne Keller, Bottomore semua menjelaskan peran sentral elite dalam perubahan sosial.

Gagasan Ibn Khaldun tentang perubahan sosial terjadi selama 120 tahun, terangkai atas tiga generasi yang masing-masing berumur selama 40 tahun. Peradaban yang bersangkutan akan berakhir pada generasi keempat untuk kemudian sirna pada generasi kelima. Itulah gagasan perubahan sosial Ibn Khaldun yang biasa kita kenal dengan teori daur sejarah. Khaldun mendapat inspirasi dari Al-Qur’an surat Al-Ahqaf (46) ayat 15. Gagasan daur sejarah sebagai fakta sosial harus ditopang dengan penjelasan kualitas warga masyarakatnya yang kita kenal dengan konsep ashabiyyah.

Ashabiyyah biasa kita kenal dengan solidaritas sosial dengan serba aneka bentuk dan tahapannya, sesuai dengan peradaban yang ada. dengan ashabiyyah yang tinggi maka kontrol sosial akan menguat. Jadi tanpa mengabaikan elite yang juga berfungsi sebagai kontrol sosial (istilah Susanne Keller) juga dibutuhkan warga yang memiliki ashabiyyah tinggi yang ditandai dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi. Rasa harga diri, kehormatan hidup, namus, muru’ah, rujuliyah, saja’ah (membela kehormatan, nilai harga hidup, kejantanan, kegagahan), semua sifat ini ada pada bangsa Arab jahiliyah. Mereka menyembah berhala, tapi pantang berkhianat terhadap amanat. Mereka mengubur hidup anak perempuannya, bukan takut karena sandang dan pangan. Tapi takut sekali kalau nanti membawa aib, dan dari pada aib mending hangus jadi debu (naar wala aar).

Hormat pada tamu ini satu tradisi jahiliyah yang peka. Biar diri sendiri lapar tidak makan, tamu harus dihormati. Bukan terbatas cuma pada menghormati tamu dengan makan minum, tapi tanggung jawab moral dan etik begitu kuat dalam menjaga keselamatan tamu. Kalau ada tamu terancam atau dikejar musuh, tuan rumah lebih dahulu sedia mati demi keselamatan tamu. Orang Arab merasa hina dan aib sekali menikam musuh dari belakang, membunuh musuh yang sedang tidur, atau membunuh musuh yang sudah menyerah.

Inilah saja’ah, ghirah dan namus bangsa Arab pra Islam. Secara kultural, spiritual, identikal, mereka yang bernama Arab jahiliyah mempunyai pribadi yang tinggi. Bayangkan, orang yang tadinya menyembah berhala dan selalu siap dengan pedang terhunus untuk membunuh anak perempuan. Sesudah mengenal Tuhan, orang itu menggigil gemetar dan pedangnya jatuh, karena dia mendengar anak perempuan sedang membaca kalimat Tuhan. Siapa tidak kenal Umar Bin Khatab yang beringas, berani, tinggi hati, tidak kenal kompromi dan tegas? Umar itulah yang semula menjadi musuh Nabi, kemudian menjadi sahabat Nabi yang paling setia dan gigih. Kenapa bangsa yang semula jahil, kemudian dalam waktu yang relatif singkat menggemparkan seluruh peradaban manusia yang ada?

Menurut Dr. Steyn Parve, Islam muncul cepat sebagai peradaban paripurna karena ada dua hal. Pertama, karena bangkitnya rasa harga diri manusia. bangkit dari belenggu kegelapan, bangkit dari penindasan akal dan piki- ran, bangkit dari ikatan dan kurungan penindasan dogma dan kredo sempit. Kedua, identifikasi dan personifikasi kultural jahiliyah yang tinggi, disepuh dan disublimasikan oleh Islam sehingga timbul mumbudaya karak- ter ghirah, syaraf, namus dan izzun nafs.

Ketinggian nilai lain dari identitas jahiliyah Arab, di sepuh gemilang oleh ghirah (cemburu), syaraf, namus dan izzun nafs dari Islam. Tamadun jahiliyah di sublimasi oleh tamadun islamiyah, dari sinilah lahir apa yang oleh Gibb dikatakan sebagai not only a system of religion, but a complete civilization. Izzun nafs adalah sense of self respect. Inilah yang dinamai pemuda di Minangkabau dengan ”Arang tercoreng di kening, malu tergaris di muka”. Kalau rasa malu menimpa diri, tidak ada penebusnya kecuali nyawa. Hal ini juga yang melatarbelakangi tradisi ”carok” di Madura dan tradisi ”balas darah” di Sulawesi Selatan.

Apabila seorang pemuda dibuang karena membunuh, menebus kehormatan yang tersinggung, maka sampai dalam penjara, dia merasa lebih mulia daripada teman sesama orang hukuman yang dibuang karena merampok dan menyamun. Dan bila dia telah dikeluarkan dari penjara, dia dibelikan oleh keluarganya pakaian baru, dan dia merasa bangga sebab dia telah menyelsaikan tugasnya, membela kehormatan diri dan keluarganya. Harga diri akan ada, kalau kita sendiri mampu memberikan harga itu pada diri sendiri. Nabi Muhammad saw berhasil selam 23 tahun merubah bangsa yang semula jahiliyah menjadi bangsa yang menggemparkan ”umam, muluk wal tarich” (ummat sedunia, kerajaan dan sejarah).

Masyarakat ashobiyyah baru bisa digerakkan menjadi gelombang dahsyat yang mampu melakukan perubahan sosial memang sangat ditentukan oleh pemimpin se kaliber Nabi Muhammad. Caranya? Sederhana: Tiga jalur kepemimpinan Muhammad begitu sederhana dan berhasil dalam dimensi yang total. Pertama, Nabi memperbaiki diri dan keluarga. Kedua, Nabi memperbaiki lingkungan dan ketiga, baru masyarakat luas. Sedang dalam metode dan tehniknya, Nabi langsung memberikan contoh segala hal dari dirinya dulu. Pola kepemimpinan itu terkenal dengan sebutan ”Ibda binafsik”, mulailah dengan dan dari diri sendiri dulu.


Memilih, Dengan Diskon 50%


Seperti sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia saja, ketika membeli barang, apapun itu, baik membeli makanan, pakaian, atau berbagai perabot rumah tangga; orang Indonesia akan datang berbondong-bondong ketika ada diskon; apalagi yang mencapai 50%

Laksana rumah semut kejatuhan gula, dimana ada pusat perbelanjaan dengan diskon gede-gedean, akan menyedot warga untuk mengunjunginya. Inilah salah satu strategi marketing dalam perdagangan dan pemasaran salah satu produk. Apakah harganya mahal? Ya kita ga tau ya, yang jelas masyarakat taunya ada diskon 50%, itu sudah menggembirakan. Selanjutnya apakah awalnya harga barang dinaikkan dulu atau tidak itu persoalan belakangan. Inilah fenomena masyarakat konsumtif, yang sudah sangat menggejala. Fenomena ini banyak melanda kota-kota besar di Indonesia. Berbondong-bondong masyarakat datang, bahkan rela mengantri untuk mendapatkan barang.

Kebutuhan akan fashion, food, dan fan yang berdiskon menjadi semacam gula yang akan memikat banyak semut, yang cepat-cepat akan mengerubunginya. Masyarakat melihat, memilih dan membayar barang, sedang penjual menunggui dengan setia dan murah senyum. Apakah pedagang untung? Jelas untung, mana mau berjualan kok merugi. Sedang masyarakat apa senang? Jelas senang, mana mau masyarakat benci kok mau-maunya membeli.

Sebenarnya apa manfaat, atau apa maksudnya ada diskon bagi penjualan produk? Secara ekonomis jelas ini demi pemasaran produk dan memperoleh keuntungan yang besar. Apakah hanya itu? Atau ada maksud terselubung, tersembunyi? Untuk menganalisis hal ini kita bisa meminjam istilah Muchtar Lubis yang mengatakan bahwa manusia Indonesia itu munafik. Apa yang diucapkan tidak sama dengan apa yang dilakukan. Ekspresi pada konsumen, sebagai perilaku berbelanja, tampaknya kita sulit mengekspresikan isi pikiran dan isi kantong. Sekalipun pesimistis, kalau perangsang-perangsang penggoda belanja cukup besar, misal dengan diskon mencapai 50% goyah juga imannya untuk menghabiskan uang.

Dengan diskon yang dipepetkan waktunya (misal 3 jam atau maksimal 1 minggu) dan dibatasi pasokannya biasanya menimbulkan persepsi kelangkaan dan biasanya malah melipat gandakan harga barang tersebut. Opini masyarakat digiring menikmati barang murah, namun terlebih dahulu dinaikkan harga produk baru di diskon mencapai 50%. Konsumen laksana raja di gurun pasir, kebutuhan membeli karena diskon yang dikiranya besar, mau menukarkan barang dengan mahkota.

Nah pada kasus yang lain, misal pemilu, pemilih diajarkan oleh politisi untuk bertransaksi. Siapa yang memberi diskon paling besar maka dia lah yang akan dikejar oleh konstituen. Lebih parah dari pada memilih kucing dalam karung, karena pemilih sudah tau siapa yang dipilihnya. Namun, iming-imingan uang lebih menggiurkan. Padahal mereka harus melepaskan kualitas pemerintahan selama 5 tahun mendepan. Bonus payung, jam dinding bahkan iming-imingan deposito menjadi strategi para politisi untuk mencari massa.

Kiranya asumsi masyarakat yang sudah kritis, menjadi semakin kerdil dan picik pikirannya karena nampaknya kita memaklumi kejadian ini. Memang menjadi sangat dilematis dengan tiadanya, atau mulai menurunnya politik aliran di Indonesia. Prinsip dan orientasi partai menjadi limbung. Yang ada hanya keinginan untuk selalu melakukan kompromi dengan keadaan.

Inilah yang bisa kita saksikan bahwa pemilu 2009 menjadi akhir politik ideologi yang selama ini menjadi karakter pemerintahan Indonesia. Indikasinya jelas, kompromi politik dan bagi-bagi kue selalu mewarnai setiap manuver para politisi kita. Mereka laksana para Robin Hood yang membawa harta bagi orang miskin dengan  merampok orang kaya. Padahal mereka sebenarnya tetap pencuri, meresahkan. Gejala ini diperparah dengan kepentingan pribadi dan kelompok yang lebih diutamakan dulu sebelum memikirkan rakyat.

                                                                                                            Yogya, 06 mei 2009
                                                                                                            Nan..

Memahami Antagonisme Masyarakat


Dalam perkembangan demokrasi, kajian tentang kemajemukan masyarakat merupakan hal yang pokok[1]. Dalam setiap doktrin sosial yang berkembang, kemungkinan adanya antagonisme di masyarakat akan selalu ada. Sehingga diupayakan bagaimana mencapai integrasi sosial. Perbedaan doktrin sosial yang menjadi acuan dalam merumuskan perubahan sosial inilah yang menyuburkan antagonisme dalam masyarakat. Dalam kasus konflik yang muncul dan berkembang, perbedaan doktrin dan perspektif perubahan sosial selalu memainkan peran yang menentukan.

Hal itulah yang selalu muncul pada tiap konflik dan kemelut yang berkembang di Indonesia. konflik adalah benturan dua kelompok yang berkembang di masyarakat. Dalam tiap kelompok yang berkembang, selalu memiliki empat unsur pokok yang menyertainya. Pertama, Ideologi (doktrin) yang mendasari terbentuknya kelompok. Doktrin ini akan menetukan arah kemana kelompok akan berubah dan berkembang. Kedua, elite kelompok yang memiliki peran menyampaikan (mendakwahkan) ajaran yang menjadi keyakinan. dengan adanya elite kelompok ini, memegang posisi sangat strategis dalam menentukan tafsir dan pemaknaan ajaran. Ketiga, massa, yang menjadi basis dakwah. mereka adalah anggota kelompok yang mempercayai ajaran yang disampaikan elite kelompok. Keempat, kawasan, atau teritorial dimana kelompok ini berdomisili. Teritorial ini bisa berkembang sangat luas, karena pengaruh media informasi dan komunikasi. Jadi asumsi teritorial yang tersekat dalam pulau atau batas wilayah tertentu sudah tidak berlaku lagi. 

Dengan empat komponen diatas, tingkat konflik bisa sangat meluas. partisipasi anggota masyarakat (kelompok) bisa darimanapun. hal ini seperti pada kasus konflik internal Mesir, saat penggulingan kekuasaan Mursi oleh militer, demo penentangan kudeta tersebut sangat meluas sampai di Indonesia. Model protes bisa sangat bermacam-macam. Sehingga model konflik yang muncul juga berbeda-beda.

Misalkan pada contoh mahasiswa dengan idealismenya mengacu pada landasan nilai-nilai yang benar. Tuntutan ini mengacu pada pemikiran dan doktrin kerap dijadikan dasar bagi proses pelembagaan sosial-politik tertentu, bahkan ekonomi dalam masyarakat. Proses ini berlangsung terus menerus, sehingga setiap muncul generasi baru dengan membawa doktrin (yang berangkat dari tafsir norma yang ada) selalu hendak melakukan perubahan terhadap lembaga sosial-politik yang sudah ada. Pada sisi yang lain “kelompok tua” pemegang kekuasaan dan doktrin lama, merasa bahwa doktrin yang sudah ada adalah benar dan harus dipertahankan dalam situasi dunia yang terus berubah. Konsepsi inilah yang terus menerus mendasari munculnya elite baru setelah berhasil mengukuhkan doktrin mereka dalam struktur kekuasaan.

Bagi kaum konservatif tradisional, perjuangan untuk merebut kekuasaan menempatkan “elite” mereka yang mampu melaksanakan kekuasaan, melawan dalam jumlah besar masyarakat yang menolak untuk mengakui superioritas alami dari elite dan haknya untuk memerintah. Gagasan inilah yang selalu disuarakan oleh Darwin dalam buku The Origin Of Species sebagai acuan teori evolusi[2]. Konsepsi ini mengacu pada tiga konsep, yaitu struggle of life, survival of the fittest, natural selection. Segelintir orang berusaha mempertehankan ras superior yang ditentukan untuk berkuasa.

Kaum liberal menolak paham ketidaksamaan alami dikalangan kelompok sosial dan ras. Mereka berpendapat bahwa perjuangan politik sama dengan perjuangan ekonomi, di masyarakat, dimana tidak cukup benda-benda komsumsi untuk memuaskan permintaan umum, ada persaingan yang konstan di antara manusia, dimana setiap orang mencoba meraih keuntungan yang sebesar-besarnya bagi dirinya dan merugikan yang lain.

Memegang posisi kekuasaan memberikan keuntungan yang sangat besar, membentuk kecenderungan untuk memiliki semuanya. Pada gilirannya akan melakukan perlawanan dengan kelompok lain agar mampu mempertahankan kekuasaannya. Maka konsepsi struggle for life, secara mendasar menempatkan manusia dalam perlawanan yang alamiah. Begitu juga dengan gagasan antagonisme Marxis, antagonisme di masyarakat adalah juga pada hakekatnya bersifat ekonomis, akan tetapi mereka lebih tergantung pada sistem produksi dari pada persaingan benda-benda konsumsi. Keadaan tekhnologi menentukan cara produksi yang menghasilkan kelas sosial. Beberapa kelas yang memiliki alat produksi dan menguasai sumber produksi akan menjadi dominan, sedangkan yang lain hanya memiliki kemampuan bekerja dan harus menjual jasanya pada kelas dominan[3].

Menurut pandangan Marxis faktor paling menonjol dalam sejarah Barat jaman modern adalah bangkitnya kelas kaum buruh sebagai kekuatan sosial baru. Tahap ini merupakan transformasi masyarakat kapitalis ke arah masyarakat tanpa kelas yang akan terwujud dengan kemenangan revolusi kaum proletar. Tradisi radikal memandang pola distribusi yang tidak adil, maka Marxisme memandang bahwa perjuangan kelas sebagai proses dialektis yang menjiwai perkembangan sejarah umat manusia.

Doktrin ini memiliki beberapa kelemahan karena mengabaikan beberapa alasan munculnya konflik yang bukan berdasarkan kepentingan kelas. Faktor sosiokultural berupa pendidikan, sejarah, agama dan tradisi memainkan peran penting dalam konflik disamping faktor-faktor material. Semisal jika kita simak konflik agama antara umat Islam dan umat nasrani yang telah berlangsung berabad-abad.

Antagonisme adalah sisi lain dari perjuangan kelas dari masing-masing kelompok sosial. Menurut kaum sosialis, perjuangan antar kelas adalah sebab utama bagi munculnya konflik-konflik di masyarakat; dalam pandangan konservatif, konflik-konflik di masyarakat mencerminkan perjuangan-perjuangan antar ras, persaingan-persaingan antar bangsa, propinsi-propinsi dan komunitas teritorial lainnya. Kompetisi antar kelompok yang diorganisir (teritorial), dan pertempuran antar kelompok-kelompok agama atau ideologis (korporatif dan ideologis).

Konflik secara teritorial biasanya disebabkan oleh perbedaan geografis yang menguntungkan dengan memiliki sumber daya alam yang melimpah. Dalam perebutan antar wilayah menyebabkan adanya inflasi untuk menguasai sepenuhnya suatu teritorial tertentu. Konfrontasi antara si “kaya” dengan si “miskin” merupakan alasan konflik yang sudah sangat tua dalam sejarah umat manusia[4]. Kemampuan inflasi disebabkan oleh penguasaan tekhnologi yang maju dan terjadi perbedaan yang sangat mencolok tentang angka buta huruf dalam suatu kawasan.

Jika kita memabaca konflik antar bangsa-bangsa sekarang – antara Eropa dan Afrika, jurang bukannya menciut malah semakin melebar. Pada umumnya, tingkat pendapatan pertahun nasional di Eropa dan Amerika lebih tinggi dari pada negara-negara dunia ketiga, dimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Jumlah kekayaan negara yang dinikmati oleh negara-negara industri meningkat, sedangkan dari bangsa-bangsa terbelakang menurun. Kenyataannya, antagonisme menyebabkan negara-negara kaya mengeksploitasikan yang miskin, sedangkan bantuan negara-negara kaya terhadap negara miskin sangat sedikit dibandingkan dengan keuntungan yang telah diperoleh.

Jenis konflik sosial yang lain adalah konflik ideologis maupun agama. Pada jenis pertama seringkali ideologi dan doktrin agama mempunyai pengaruh yang sangat besar, sedangkan pimpinan di masyarakat menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan. Selama berabad-abad, konflik inilah yang senantiasa mewarnai kehidupan manusia. Hal ini khususnya disebabkan oleh doktrin agama yang menganjurkan bahwa misi (dakwah) adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh semua umat beragama. Doktrin yang lain menganggap bahwa agama yang lain selain agama yang dianutnya adalah tidak syah, jadi memposisikan diri sebagai oposisi. Meskipun tidak politis dalam prinsipnya, ideologi agama, dalam prakteknya, telah memainkan peranan yang sangat penting dalam antagonisme.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Fachry dan bahtiar Effendy, 1986, Merambah Jalan Baru Islam, Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru, Bandung: Mizan.
Kartodirdjo, Sartono (peny), 1983, Elite Dalam Perspektif Sejarah, Jakarta: LP3ES
Maliki, Zainuddin, 2003, Narasi Agung, Tiga Teori Sosial Hegemonik, Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat.
Poloma, Margaret M, 1984, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: CV. Rajawali.
Soekanto, Soerjono, 1983, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat, Jakarta: CV. Rajawali



[1] John Markoff, Gelombang Demokrasi Dunia, Gerakan Sosial Dan Perubahan Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm: 5-7
[2] Zainuddin Maliki, Narasi Agung, Tiga Teori Sosial Hegemonik, Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat. hlm: 73
[3] Maurice Duverger,  Sosiologi Politik, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, hlm: 158
[4] Maurice Duverger,  Sosiologi Politik, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, hlm: 230

SUMBANGAN KEPEMIMPINAN JAWA UNTUK MASA DEPAN BANGSA


Masalah kepemimpinan adalah masalah klasik yang terus berulang dan mengalami modifikasi makna sesuai dengan perkembangan dan dinamika masyarakat yang melingkupinya. Di Indonesia kompleksitas permasalahan kepemimpinan itu terasa semakin membengkak apabila dihubungkan dengan konteks struktural, kultural dan keagamaan. Perjalanan sejarah Indonesia yang demikian panjang, ternyata tidak dapat menyelesaikan persoalan yang disebabkan oleh perbedaan tersebut. Bahkan masyarakat semakin terpecah dalam berbagai kelompok, aliran, etnis dan geografis, dan seringkali perbedaan itu menyebabkan konflik yang berkepanjangan.

Langgengnya satu konsepsi kepemimpinan selain karena faktor struktur kepemimpinan berupa ”siapa” yaitu subyek dan obyek dalam kepemimpinan (antara yang memimpin dan yang di pimpin), juga landasan-landasan normatif (satu tata nilai yang dianut) yang diyakini dan dijadikan prinsip dalam kepemimpinan. Landasan normatif ini bisa berasal dari keper- cayaan keagamaan atau norma yang dianut masyarakat tersebut untuk dijadikan alat legitimasi struktur yang melembaga pada kehidupan sosial politik masyarakat. Persoalan yang muncul pada dewasa ini atau pada globalisasi memberikan peluang yang cukup signifikan adanya mobilitas sosial horizontal antar benua, juga tidak menutup kemungkinan mobilitas sistem nilai kepemimpinan yang dianut masyarakat tertentu.

Satu contoh kepemimpinan struktural yang langgeng dari dari awal masuknya Islam di Indonesia dan Islam menjadi alat legitimasi kekuasaannya adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai lambang kebudayaan Jawa. Walaupun mobilitas sosial masyarakat Jawa sedang mengalami modernisasi karena adanya interaksi antar budaya. Namun dengan sendirinya ”masyarakat Jawa” masih menjadi pelestari dan penjaga Keraton sebagai simbol dan pusat kebudayaan Jawa. Kesadaran masyarakat Jawa untuk terus mempertahankan budaya Jawa karena selain basis religiusitasnya adalah Islam juga terbukti mampu mengatasi berbagai persoalan kontemporer karena kemajuan tekhnologi. Selain itu sejarah membuktikan pola-pola kepemimpinan yang muncul kemudian ternyata gagal menyelesaikan persoalan yang multidimensional dan kian akut.

Jauh sejak sebelum jaman Majapahit, kebudayaan Jawa sering dijuluki adiluhung (kebajikan luhur atau nilai-nilai yang agung). Selama berabad-abad kebudayaan Jawa sangat berpengaruh di seluruh penduduk nusantara, selain karena beberapa kali Jawa yang diwakili kerajaan-kerajaan yang membentang dari Sumatra sampai Filipina selatan dan sekaligus sebagai benteng penyebaran dan yang mempertahankan budaya Jawa sebagai falsafah hidup. Bebera- pa kerajaan yang muncul silih berganti antara lain Majapahit, Mataram Hindu dan Islam, Singasari, Pajang dll. Secara geografis, tanah Jawa terkenal subur, topografi yang datar, dan banyak mengandung sumber daya alam.

Setelah Nusantara dipersatukan kembali dalam negara kesatuan republik Indonesia, orang-orang Jawa tampil terdepan dalam kepemimpinan nasional. Ciri kepemimpinan nasional pun terpengaruh dengan gaya kepemimpinan Jawa. Dengan demikian, dalam rangka memajukan kebudayaan nasional, budaya Jawa memberikan sumbangsih yang besar sekali maknanya. Kebesaran budaya Jawa ditunjukkan antara lain, dimilikinya bahasa dan bentuk tulisan sendi- ri. Ciri ini membuktikan bahwa Jawa sejak lama sudah memiliki karakter dalam memajukan kehidupan masyarakatnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat kebesaran suatu bangsa karena memiliki bahasa dan bentuk tulisan sendiri. Misal, Jepang, China, India, Thailand yang seka- rang ini dijadikan prototipe negara maju dan berkembang.

Sumbangsih kebudayaan Jawa yang sampai sekarang dipakai dalam istilah nasional antara lain semboyan negara Bhineka Tunggal Ika, yang berasal dari kata mutiara yang dirangkai oleh Empu Tantular dalam kitab sutasoma, seorang pujangga Majapahit pada abad ke-13 M. Keluasan falsafah hidup orang Jawa jauh merasuk dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat nusantara. Istilah ing ngarsa sung tulada; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani (di depan memberi keteladanan; di tengah mengembangkan prakarsa; di belakang memberikan dukungan kepada rakyat) adalah semboyan dalam bidang pendidikan yang diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia). Tindakan-tindakan tersebut mencer- minkan sikap demokratis yang ada jauh sebelum negara Barat mewacanakan demokrasi.
Seperti banyak bangsa besar lain yang hidup dan berkembang menggunakan etika perilaku (norma-norma) yang agung. Jepang sebagai prototipe negara paling maju dan modern di dunia, disana kita masih dengan mudah menjumpai wanita-wanita Jepang dengan pakaian nasional Jepang (kimono), tradisi jamuan minum sake dan ucapan ”arigato gozhaimasu” sambil membungkuk. Di banyak desa di Jawa kita bisa melihat aktivitas warga dengan semangat bergotong royong membangun atau memperbaiki fasilitas publik atau rumah penduduk. pada saat yang lain kita bisa melihat banyak orang Jawa yang ewuh pekewuh (kerendahan hati, low profile). Ini bisa dilihat dengan berkembangnya budaya roso (perasaan halus yang terdalam) yang menjadi daya ukur.

Etika kepemimpinan orang Jawa
Laku orang Jawa sangat kental dengan nilai-nilai yang universal. Universalitas etika orang Jawa bisa kita telusuri dari berbagai falsafah hidup yang dipegang erat dan terus dipertahan- kan menjadi laku keseharian. Berbeda dengan pengertian banyak orang yang menyebutkan bahwa etika orang Jawa hanya berhubungan dengan sopan santun antar sesama manusia serta tingkah laku lahiriah. Etika Jawa lebih ditekankan pada ”etika pengertian” dalam arti etika sebagai kontrol kognitif sejumlah unsur (Muttaqin, 2007:5). Dalam tradisi Jawa etika sering dipahami sebagai ”ngelmu” yang menyatu dengan tingkah laku keseharian. Pada bentuk mistis atau spiritual, pemahaman ilmu tidak hanya intelektual tetapi juga intuitif. Kesadaran yang demikian inilah, yang mendasari laku orang Jawa tidak hanya dalam masalah kesadaran, tetapi juga segenap hubungannya dengan kekuasaan sosial dan politik yang pada dasarnya sangat reflektif (Stange, 1998:6). Diantara sikap yang muncul pada orang Jawa antara lain unggah ungguh (hubungan bersama yang tetap memperhatikan waktu dan tempat (empan papan), kormat (hormat), tepo seliro (mengontrol sikap individu berdasarkan kesadaran diri). Pada saat tertentu terkesan feodalistik, tapi sangat Islami (Q.S. Luqman(31): 12-19).

Penghayatan etik dari masyarakat Jawa bukan didasarkan atas pertimbangan rasio yang mengontrol sesuatu atas nilai ”benar” atau ”salah”. Nuansa semestinya (das sollen), apalagi yang bermakna mewajibkan, kurang dalam etika orang Jawa. Franz Magnis Suseno memberi label etika masyarakat Jawa lebih bersifat ”etika kebijaksanaan” dari pada ”etika kewajiban” (Suseno, 1984:225). Kebijaksanaan ini tidak hanya mengatur hubungan antar manusia, tapi juga mengatur hubungan manusia dengan hewan dan lingkungan (Islam rahmatan lil ’alamin). Konsepsi Jumbuhing Kawula Gusti, berupa kesatuan antara rakyat dengan negara, kesatuan antara wong cilik (kawula) dengan ningrat bangsawan atau raja), hal tersebut mencerminkan adanya keselarasan antara penguasa dengan rakyatnya. Ini dipengaruhi faktor saling ketergantungan antara keduanya. Penguasa memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dan pengayom juga memerlukan daya dukung yang cukup dari rakyatnya.

Hubungan orang Jawa dengan alam diatur dengan norma Sangkan Paraning Dumadi sebagai upaya menyeimbangkan antara diri sendiri dengan alam hanya bisa diperoleh melalui laku ”prihatin”. Dalam konsep religius menjadi sangat mistis karena tujuan yang hendak dicapai sangat transenden. Dalam konteks relasi sosial, konsep ini menjadi semangat etos, semangat kerja masyarakat Jawa untuk mencapai tujuan. Sangkan paraning dumadi maknanya adalah ilmu tentang asal mula dunia dan seisinya. pemahaman ini bisa diperoleh dengan cara ”menaklukkan diri sendiri”. Upaya yang dilakukan adalah dengan membiasakan ”laku prihatin” sebagai bentuk ujian untuk mendapatkan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan ini sering tidak secara fisik, melainkan untuk mendapatkan ngelmu kasampurnaan.

Ngelmu kasampurnaan ini akan melahirkan semangat Memayu Hayuning Bawana, yakni senantiasa aktif menciptakan kecantikan hidup dan kehidupan dunia yang telah cantik ini. Pemimpin yang bijaksana berarti telah memayu hayuning bawana, yang menunjuk makna keselamatan dan kelestarian lingkungan. Bahwa polusi, kerusakan alam, bencana alam yang sangat merugikan, tanah longsor, kekeringan adalah ulah-ulah tangan manusia yang kurang memperhatikan kelestarian alam. Konsep ini menjelaskan bahwa alam harus dilindungi dan dilestarikan untuk masa depan manusia. Dalam politik, konsep memayu hayuning bawana adalah keaktifan pemimpin ikut dalam menciptakan perdamaian dunia. Keutuhan konsep ini adalah Memayu Hayuning Salira, Memayu Hayuning Bangsa, Memayu Hayuning Bawana (memelihara kesejahteraan diri, memelihara kesejahteraan bangsa dan memelihara kesejahteraan dunia)

Etika bermasyarakat orang Jawa yang dianut harus guyup rukun, saling menghormati, gotong royong, saiyeg saekapraya harus betul-betul diejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Kesadaran perilaku ini, mau tidak mau, suka tidak suka harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, maka sanksi sosial akan diberlakukan, yaitu dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat. Adanya dinamika dan kesatuan di masyarakat harus holobis kuntul baris, harus ada kesatuan gerak dalam mencapai tujuan bersama. Kesatuan ini tidak hanya sesama manusia sebagai bentuk mikro kosmis (jagat cilik), juga harus adanya keserasian dengan alam yang makro kosmis (jagat gede).

Dalam kadar penghayatan etik, masyarakat Jawa memutuskan dalam tiga kategori, yaitu: madu basa, madu rasa, madu brata. Madu basa menimbulkan dan menunjukkan kedewasaan individual sesorang. Madu rasa menimbulkan dan menunjukkan kedewasaan sosial sesorang. Madu brata menimbulkan dan menunjukkan kedewasaan spiritual.

Dari Jawa Untuk Dunia (Melalui Indonesia)
Modernisasi pulau Jawa abad 20 dan pergeseran mata pencaharian masyarakat Jawa menyebabkan adanya kemerosotan dan distorsi kewibawaan politik dan pemerintahan feodalnya, namun Keraton masih dapat berfungsi sebagai pelestari kebudayaan Jawa, termasuk juga kebudayaan rohaniah. Walaupun begitu, perbedaan pelapisan masyarakat antara kalangan ningrat (bangsawan) dan wong cilik (rakyat biasa) menjadi semakin transparan. Oleh karena pelapisan ini sudah berlangsung sangat lama, maka kesadaran adanya pelapisan masyarakat menjadi sangat dalam di bawah sadar. Dengan adanya pelapisan sosial yang terlembagakan secara budaya ini menunculkan cara berfikir dan konsep keserasian dalam kesatuan mikrokosmis. Adanya konsep Jumbuhing Kawula Gusti, berupa kesatuan antara rakyat dengan negara, kesatuan antara wong cilik (Kawula) dengan ningrat (Bangsawan atau Raja), hal tersebut mencerminkan adanya keselarasan antara penguasa dengan rakyat. Hal ini dipengaruhi faktor saling ketergantungan antara keduanya. Penguasa memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dan pengayom juga memerlukan daya dukung yang cukup dari rakyat.

Cara berfikir masyarakat Jawa yang semula berbasis pertanian terus terbawa dalam berbagai perilaku dan kehidupan keseharian masyarakat. alam pikiran desa dan petani, walaupun secara fisik telah berubah, tetap menjadi cara pandang dan mendasari cara berfikir masyarakat Jawa. Alam pertanian desa dan usaha untuk menaklukkan alam dengan cara ”menaklukkan diri sendiri”. Upaya yang dilakukan adalah dengan membiasakan ”laku prihatin” sebagai bentuk ujian untuk mendapatkan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan ini sering tidak secara fisik, melainkan untuk mendapatkan ngelmu kasampurnaan. Konsepsi sangkan paraning dumadi sebagai upaya menyeimbangkan antara diri sendiri dengan alam hanya bisa diperoleh melalui laku prihatin. Dalam konsep religius menjadi sangat mistis karena tujuan yang hendak dicapai sangat transenden. Dalam konteks relasi sosial, konsep ini menjadi semangat etos, semangat kerja masyarakat Jawa untuk mencapai tujuan. Sangkan paraning dumadi maknanya adalah ilmu tentang asal mula dunia dan seisinya, dalam konsep ngilmu kejawen jadi sangat strukturalis berupa amalan-amalan yang harus dilalui.

Barangsiapa yang sudah mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, dia akan mampu dan senantiasa peka terhadap apa yang disebut memayu hayuning bawana, yakni senantiasa aktif menciptakan kecantikan hidup dan kehidupan dunia yang telah cantik ini. Pemimpin yang bijaksana berarti telah memayu hayuning bawana, yang menunjuk makna keselamatan dan kelestarian lingkungan. Bahwa polusi, kerusakan alam, bencana alam yang sangat merugikan, tanah longsor, kekeringan adalah ulah-ulah tangan manusia yang kurang memperhatikan kelestarian alam. Konsepsi ini menjelaskan bahwa alam harus dilindungi dan dilestarikan untuk masa depan manusia. Dalam politik konsep memayu hayuning bawana adalah keaktifan pemimpin ikut dalam menciptakan perdamaian dunia. Konsep inilah yang jadi landasan gerak pemimpin dalam bingkai sabda pandhita ratu, tan kena wola-wali, sehingga pemimpin harus ikhlas dan pantang menarik kembali apa yang sudah diucapkan. Itulah lukisan sifat seorang pemimpin yang adil, tak memandang bulu, bahkan pemimpin yang dipuji, disanjung agar menjadi pelindung dunia.

Dalam persoalan politik kekuasaan maka apa saja yang dikeluarkan oleh penguasa adalah kebenaran. Akan tetapi tidak sembarang orang akan bisa dan mempu menjadi penguasa. Bahwa untuk dapat menjadi pemimpin yang dihormati dan kharismatk itu tidak mudah. Selain sebagai keturunan langsung dari sultan, juga orang yang mendapat pulung ratu. Mitos ini beredar luas sampai pada pencalonan kepala desa di Jawa, siapapun yang mendapat pulung ratu akan menjadi penguasa dan langgeng. Kepercayaan ini mendasari perilaku dan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya dan kesadaran pribadi bahwa dia tidak mendapat pulung ratu tidak mungkin menjadi pemimpin. Sebab itu, rakyat harus berdaulat betul kepada penguasa dan begitu pula sebaliknya penguasa, pemimpin harus betul-betul mengayomi rakyatnya.

Kesadaran pemimpin bahwa tahta untuk rakyat telah betul-betul mendahului sistem demokrasi yang dibawa oleh Barat ke Indonesia. Konsepsi sugih tanpa bandha, menang tanpa ngasorake, ngurug tanpa bala, digdaya tanpa aji (kaya tanpa harta, menang tanpa mengalahkan, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa aji) dilandasi dengan ketegasan memerintah, akan menuntut kerja yang mengupayakan kesejahteraan rakyat. Sehingga, semua lapisan masyarakat sadar akan posisi dirinya. Saben wong glenggahi kelenggahanipun, mungguh, lungguh, sengguh, setiap orang menduduki kedudukannya. Rakyat tidak ingin melakukan protes dan ingin menguasai tahta, karena itu bukan kodratnya. Yang jadi raja, jadilah raja; yang jadi menteri jadilah menteri; yang jadi kawula, jadilah kawula yang baik dan amanah. Apapun yang dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan publik.
                                                
Kesadaran sosial yang egaliter dan kepemimpinan yang demokratis memberikan kesempatan munculnya inisiatif dari bawah, didorong sehingga prinsip nderek karsa dalem pada hakekatnya telah ditinggalkan. Yang berlaku adalah prinsip kepemimpinan yang ing ngarsa sung tulada; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani (di depan memberi keteladanan; di tengah mengembangkan prakarsa; di belangang memberikan dukungan kepada rakyat) dan konsekwensi sebagai kawula harus eling, pracaya lan mituhu (ingat, percaya dan patuh) kepada pemimpin. Kraton sebagai pusat kebudayaan Jawa memfungsikan diri sebagai gerak kesatuan kosmis yang sempurna antara Sultan – kawula dan alam.

Basis awal masyarakat pedesaan di Jawa juga meyebabkan munculnya konsep berfikir tertentu antara lain ”kerjasama”. Hal tersebut muncul karena pemahaman ”usaha” dan ”nasib” yang hampir seimbang. Orang Jawa termasuk orang yang senang bekerja keras, semangat dan tekun dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mengolah sumber daya alam yang ada. Khususnya wilayah Yogyakarta yang menjadi pusat kebudayaan Jawa secara geografis adalah daerah yang tidak begitu subur, terutama di bagian selatan Gunung Kidul. Ketika masyarakat Jawa telah bekerja keras untuk satu tujuan, tetapi ketika ada hambatan dari luar, seperti bencana, hujan, banjir yang menggagalkan usaha mereka, pada akhirnya ketika menuai hasil sepenuhnya diserahkan kepada kekuasaan ilahiah. Kepercayaan bahwa tidak sepenuhnya manusia yang menentukan hasil, dan ada faktor-faktor alam yang ikut dipertimbangkan. Masyarakat Jawa membutuhkan keseimbangan dan adanya kemampuan menyesuaikan diri dengan tatanan manusia dan alam. Cara berfikir yang homologi antropokosmik tersebut menjelaskan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya dapat menguasai alam. Disinilah muncul embrio kesadaran akan pentingnya kerjasama, bahwa orang tidak mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sendiri-sendiri dan akan terus membutuhkan orang lain. Kesadaran kerjasama akan muncul ketika prinsip bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangruwa, sudah menjiwai masing-masing pribadi masyarakat Jawa. Kesadaran tersebut menekankan bahwa tiap orang memiliki kepribadian yang unik dan kemampuan yang berbeda-beda. Pertimbangan kemanusiaan tetap ada.

Etika bermasyarakat yang harus guyup rukun, saling menghormati, gotong royong, saiyeg saekapraya harus betul-betul diejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Kesadaran perilaku itu mau tidak mau, suka tidak suka harus dijalankan dalam kehiduan sehari-hari. Jika tidak, maka sanksi sosial akan diberlakukan yaitu dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat. Adanya dinamika dan kesatuan di masyarakat harus holobis kuntul baris, harus ada kesatuan gerak dalam mencapai tujuan bersama. Kesatuan ini tidak hanya sesama manusia sebagai bentuk mikrokosmis, juga harus adanya keserasian dengan alam yang makrokosmis.

Tekad Sultan bahwa tahta untuk rakyat; kaprabon, kagem karaharjaning praja, kawula, tuwin lestarining budaya, tahta bagi kesejahteraan kehidupan sosial dan budaya rakyat adalah upaya konstruktif untuk memberdayakan kehidupan masyarakat. Kekuatan ini berasal dari adanya satu komitmen bersama untuk saling percaya, adil dan yakin. Rakyat berusaha menjadi rakyat yang baik dengan yakin dan percaya bahwa pemimpinnya akan berbuat adil dan mensejah- terakan, juga sebaliknya. Sejalan dengan perubahan di masyarakat, karakter ini akan terus mengalami perkembangan makna dan praktek di lapangan. Mainstream ini bergerak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan sosial masing-masing lapisan di masyarakat Jawa.

Karena kesadaran sosial ini sudah masuk dalam di bawah sadar manusia, secara internal karakter pracaya, adil lan temen melakukan konstruksi sendiri untuk terus relevan dengan perkembangan zaman. Secara konseptual upaya ini harus terumuskan dengan tepat, karena menentukan kesadaran perilaku. Kesadaran perilaku ini akan terus langgeng dengan adanya keteladanan, contoh dari pemimpin; juga adanya pengalaman yang diadopsi dan terus menerus dilakukan sehingga menjadi kebiasaan masyarakat. Keagungan budaya Jawa  dengan tata nilai yang universal, antara lain sikap pramana yang berarti hidup dengan kewajaran, tanpa dimanipulasi, Bergson menyebutnya elan vital yaitu inti gaya dari kehidupan dan kesatuan antara kepribadian dengan eksternal. Keteladanan yang lain adalah pranawa, prasaja (hidup terbuka, sederhana, apa adanya), prasetya (pengabdian sepenuhnya), prastawa, prabaya.

Pada akhirnya keteladanan tersebut menuntun masyarakat Jawa untuk berlaku egaliter, demokratis, sesuai dengan konsep jumbuhing kawula gusti. Antara pemimpin dan kawula harus selaras. Mukti siji mukti kabeh dan mati satu mati semua. Itulah sebabnya pertimbangan rasa menjadi daya ukur perilaku orang Jawa. Dan sifat etika kebijaksanaan memberi petunjuk orang Jawa untuk berbuat sepi ing pamrih, rame ing gawe (sepi dari keinginan pemrih, tetapi banyak amal baik).

Beberapa Catatan Tentang Falsafah Hidup Orang Jawa.
menurut lacakan Sumantri Suprayitno, ajaran yang berupa nasehat dan berbentuk ungkapan tradisional verbal meliputi tiga hal, yaitu: (1) ”paribasan” (2) ”bebasan” (3) ”saloka”

  1. Bentuk paribasan.
  1. ”Giri lusi, janma ta kena ingina” (tidak boleh menghina sesama, sebab makhluk cacing saja yang merangkak akhirnya mencapai puncak)
  2. ”Bapa kesulah, anak kepolah” (anak berkewajiban bertanggung jawab atas persoalan ayahnya yang telah meninggal)
  3. ”Gliyak-gliyak tumindak, sareh pekoleh” (sekalipun pelan-pelan, tetapi ajeg (tetap) usahanya, toh akhirnya berhasil juga).
  4. ”Ajining dhiri saka kedaling lathi” (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya)

  1. Bentuk bebasan.
  1. ”Amek  iwake, aja buthek banyune” (yang dituju tercapai tanpa menyebabkan keonaran)
  2. ”Sandhing kirik gudhigen, sanding (cedhak) kebo gupak, sanding celeng boloten” (bergaul dengan orang jahat itu menyebabkan tertular kejahatannya pula)
  3. ”Diwenehi ati ngogoh rempela” (diberi kebajikan malah minta yang lain-lain lagi)
  4. ”Aja dumeh ayu banjur sumayu” (Jangan mentang-mentang cantik lantas sok cantik. Tidak baik memamerkan kecantikkan tanpa imbangan kemampuan yang lain, misalnya kepandaian dan kesalehan)

  1. Bentuk saloka.
  1. ”Manuk mencok dudu pencokane, rupa dudu rupane” (apa saja yang mencurigakan harus selalu dihadapi dengan sikap hati-hati)
  2. ”Timun mungsuh duren” (orang yang lemah bermusuhan dengan orang yang kuat)
  3. ”Cecak nguntal empyak” ( cicak makan atap, cita-cita yang tidak sesuai dengan hanya akan memberi peluang untuk kecewa karena peluang gagalnya besar)
  4. ”Gambret singgang, mrekatak ora ana sing nganeni”(perawan lincah tidak ada yang melamar, sebab tidak ada yang mau mengambil istri)

beberapa nasehat diatas mencerminkan kepekaan etis orang Jawa, maka bahasa simbolik menjadi sangat pokok. Karena itu, jika marah atau tidak suka biasanya diungkapkan dengan cukup halus. Barangkali bagi orang yang kurang memahami psikologi bahasa yang dipakai orang Jawa dapat menimbulkan kesalahpahaman (menimbulkan rasa tersinggung atau marah). kepekaan bahasa simbol hanya dapat dipahami dengan kepekaan ”roso” (feeling) yang kuat.

Catur Kamulyaning Nerpati (empat sifat utama negarawan)
  1. Jalma sulaksana, yaitu seorang pemimpin hendaknya menguasai ilmu pengetahuan. Baik yang berbasis kognitif (ilmu pengetahuan dan tekhnologi) maupun yang berbasis spiritual (agama).
  2. Praja sulaksana, yaitu mempunyai perasaan belas kasihan kepada rakyat dan berusaha mengadakan perbaikkan kondisi masyarakat.
  3. Wirya sulaksana, yaitu mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan takut karena salah.
  4. Wibawa sulaksana, yaitu memiliki kewibawaan terhadap rakyat, sehingga setiap perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang direncanakan dapat terealisasi.

Catur Praja Wicaksana (empat sifat dan tindakan pemimpin)
  1. Sama, yaitu waspada dan siap siaga untuk menghadapi segala ancaman musuh baik yang datang dari luar maupun yang datang dari luar yang merongrong kewibawaan pemimpin yang sah.
  2. Beda, yaitu memberikan perlakuan yang adil dan sama tanpa perkecualian dalam melaksanakan praturan bagi rakyat sehingga tercipta kedisiplinan dan tata tertb dalam masyarakat.
  3. Dana, yaitu mengutamakan sandang, pangan, pendidikan, papan guna menunjang kemakmuran rakyat serta memberikan penghargaan bagi warga yang berprestasi.
  4. Danda, yaitu menghukum dengan adil kepada semua yang berbuat salah atau melanggar hukum sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuatnya.






[1]. Catatan singkat ini dibuat sebagai bahan pada diskusi mingguan putaran ke II mahasiswa Sosiologi Agama (SA) UIN Sunan Kalijaga pada tanggal 29 November 2007.
[2]. penulis adalah mahasiswa Sosiologi Agama (SA) IUN Sunan Kalijaga Smester V.