Pages

Rabu, 20 November 2013

108 tahun Sarekat Dagang Islam

Bandul perubahan, mungkin sejak manusia ada di bumi ini, ditentukan oleh dua faktor utama: oleh politik atau ekonomi. Perebutan kekuasaan dan penguasaan modal menjadi domain utama sifat manusia. Setelah sampai pada puncak kebrutalan akibat ulah manusia, baru agama turun untuk meletakkan dasar akhlak. Konsepsi tersebut bukan maksud mensubordinasikan agama, melainkan bahwa tugas manusia ditempatkan di bumi memang sebagai khalifah, wakil Tuhan. Artinya ini ranah kekuasaan atau politik. Dan memanfaatkan potensi yang ada di bumi untuk kemakmuran umat manusia ini ranah ekonomi. Ketika ketimpangan kekuasaan dan kepemilikan modal semakin tinggi, kelas borjuis dan buruh makin timpang, maka tuntutan relevansi agama semakin menguat.

Kepentingan kelas ini kemudian menjadi akar ideologi. Dua idelogi besar dunia, kapitalisme dan sosialisme digerakkan oleh kekuasaan (politik) dan modal (ekonomi). Pergerakan kekuasaan dan modal difungsikan untuk mempertegas identitas. Identitas diukur dari ranah politik dan ekonomi. Konsepsi inilah yang menghancurkan peradaban dunia sekarang. Masing-masing berlomba menumpuk modal dan mengejar kekuasaan. Point yang perlu diingat bahwa pengelompokkan kelas dalam Islam berbeda. Kuntowijoyo menjelaskan pengelompokkan kelas dalam Islam yaitu kelas dzalim (penindas) dan kelas mustadh’afin (tertindas). Dengan begitu, konsep kelas dalam Islam berbeda dengan konsep kelas dalam Marxisme.

Ukuran kelas dalam Islam bukan berdasarkan faktor alat produksi, modal dan kekuasaan, melainkan faktor keadilan. Hubungan ketidakadilan, penindasan, dan kedzaliman inilah yang mau dilawan oleh Islam. Baik karena faktor ekonomi maupun politik, kedzaliman adalah musuh bersama. Dzalim dalam konteks politik adalah pemimpin yang otoritarian, korup, anti kritik, politik dinasti, memonopoli modal dan tidak memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil, buruh, petani gurem dan nelayan (mustadh’afin). Pilihan umat Islam dengan mengajak kelas proletar bukan untuk menghancurkan dan menyamaratakan, tetapi untuk mensejahterakan.

Maka konsep ideologi kelas dalam Islam punya paradigma sendiri. Pemihakan kelas dalam Islam untuk mewujudkan keadilan. Baik dalam sektor ekonomi, politik, hukum, sosal dan budaya. Keberpihakan kepada keadilan akan selalu relevan sepanjang zaman. Mustadh’afin sebagai produk ketidakadilan akan selalu muncul dalam sistem masyarakat apapun, baik kapitalis maupun sosialis.

Sejak Daniel Bell menulis tesis the end of ideology yang mengingatkan kepada kita tentang homogenisasi ideologi dunia, sebenarnya belum berakhir. Begitu pula hipotesa Francis Fukuyama tentang kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai akhir pertarungan ideologi menjadi usang, ketika Amerika malah ambruk oleh konsep kapitalisme yang sendiri. Homogenisasi Ideologi adalah bentuk ketidakadilan dan penindasan, dan tentu akan menemui titik kemunduran.

Kristalisasi Ideologi
Perlawanan ketidakadilan di Indonesia pertama kali muncul ketika sekelompok kecil pedagang batik Solo menentang monopoli bahan baku batik oleh orang Tionghoa. Inilah babak baru perlawanan umat Islam dengan membentuk perkumpulan melawan ketidakadilan monopoli Tionghoa dan penindasan Belanda. Pada tanggal 16 Oktober 1905, berdirilah Sarekat Dagang Islam (SDI) oleh KH. Samanhoedhi. Gerakan perlawanan SDI ini kemudian berkembang dan melahirkan Sareka Islam (SI) HOS. Cokroaminoto. Konon lewat SI lah, tokoh-tokoh pergerakan tiga ideologi dididik dan dibesarkan, Islamisme Kartosuwiryo, Marhaenisme Soekarno, dan Komunisme Semaun.

Islam mencapai bentuknya sebagai ideologi perlawanan baru. Hal tersebut juga menandai masuknya zaman ideologi, menurut perspektif Comte. Model perlawanan yang berbeda sesudah zaman mistis yang kental dengan cita-cita Ratu Adil. Gerakan perlawanan SI kemudian secara cerdas direkam oleh Takashi Shiraishi dengan judul sangat provokatif, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Lewat SI, kesadaran kelas dan keberpihakan dengan mustadh’afin pertama kali dikenalkan kesegala lapisan masyarakat Indonesia.

Semangat perlawanan Islam ini kemudian menemukan wujudnya dalam bentuk yang khas ke-Indonesia-an dalam Pancasila. Konsep Pancasila, secara tegas merangkum bentuk perjuangan ideologi bangsa Indonesia. Dasar keyakinan (Ketuhanan Yang Maha Esa), nilai-nilai universal (kemanusiaan dan keadilan sosial), prinsip politik (persatuan Indonesia dan kedaulatan rakyat). Founding father kita yang mayoritas umat Islam memahami bahwa Pancasila adalah model Islam-nya Indonesia. Dan Pancasila merupakan suatu keyakinan ideologis yang terbuka dan bukan merupakan akhir ideologi. Seperti pendapat Natsir bahwa putra-putri Indonesia harus diberi hak memberi isi pada Pancasila. Ketika Pancasila dimonopoli penafsirannya sebagai alat kekuasaan untuk membungkam putra-putri sendiri itulah bentuk kedzaliman (ketidakadilan, penindasan) yang nyata.

Tradisi Keilmuan Kita
Reformasi, selain mengakhiri monopoli tafsir Ideologi Indonesia, juga menghancurkan pondasi dasar keyakinan. Ketika Dr. Pramono Anung menyusun disertasi, menemukan fakta bahwa landasan politik Indonesia tidak lagi dibangun berdasarkan idealitas dan cita-cita founding father bangsa. Landasan politik kita sekarang dibangun berdasarkan kombinasi uang dan kekuasaan. Mayoritas rakyat kemudian meneriakkan kembali kepada Pancasila, seperi mencita-citakan Ratu Adil. Sementara umat Islam mengalami kebekuan ide, sehingga semangat perlawanan pada bentuk ketidakadilan penguasa yang korup menjadi utopis. Sekencang apapun tokoh Islam berteriak, penguasa korup tetap berlalu.

Akan terlalu lama ketika kita kembali meniti kembali rumusan ide menjadi konsep ilmu yang menginspirasi perlawanan. Melihat potensi kelas menengah Indonesia yang terus meningkat. Kebanyakan mereka adalah kelompok terdidik, independen, berada diluar birokrasi dan memiliki semangat kemerdekaan kelas yang besar. Maka, yang perlu diupayakan adalah menggenjot keberpihakan kepada mustadh’afin secara struktural.

Dengan melihat perjuangan masa lalu, kita bisa belajar banyak. Kita sudah melihat sendiri pada setiap tahapan sejarah Indonesia, peran umat mempunyai cerita positif sendiri. Kita bisa bangga ketika melihat bagaimana posisi umat pada setiap periode sejarah, bagaimana bentuk kesadarannya, bagaimana permasalahan-permasalahannya, bagaimana cara umat Islam mengorganisir diri, bagaimana mereka melakukan aksi, dan bagaimana umat Islam memecahkan dilema dan problem kedzoliman yang dihadapi

Umat Islam sudah melewati usia lebih dari 1400 tahun. Umat Islam sudah sangat tua, tapi masih selalu muda dan penuh energi.




Berapa Buku Yang Kita Koleksi?

Pada pertengahan 2010, sempat diadakan diskusi terbuka oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta dengan pembicara Prof. Hyung-Jun Kim dari Korea Selatan. Kesempatan diskusi saya gunakan untuk bertanya tentang resep kenapa Korea Selatan pada dekade 60-an jauh tertinggal dengan Indonesia karena dampak perang, sedangkan sekarang Indonesia malah jauh tertinggal dari Korea Selatan dalam segala hal. Bahkan Korea Selatan adalah negara penghasil title Ph.D terbanyak di dunia.

Jawab Prof Hyung sangat mengejutkan. Walaupun tidak semua resep kemajuan dijelaskan, tapi Beliau menjelaskan bahwa di Korea Selatan sampai sekarang tiap Desa memiliki perpustakaan lengkap berkaitan dengan sejarah, kondisi sosial, ekonomi, politik desa masing-masing. Juga dilengkapi dengan buku-buku referensi yang lengkap dari manapun. Tradisi membaca memang sangat kuat di Korea Selatan dan itu ditradisikan.

Saya jadi ingat film Korea pada permulaan booming F-K yang ditayangkan di Indosiar adalah film Jewel In The Palace, kisah perempuan dengan obsesi belajar sangat tinggi, kehausan ilmu yang luar biasa sampai menjadi dokter bedah pertama Korea. Tokoh utama Jang Geum adalah prototipe perempuan tidak wajar, karena berani mencuri buku demi mengetahui kebenaran, dengan resiko di penjara.

Di Indonesia, membaca adalah barang langka. Kalau toh banyak yang hobi membaca hanya untuk kebutuhan emosional. Hal ini menggejala sejak paruh 2005 saat dominasi non intelektual (baca: politik) memberangus tradisi berfikir anak muda kita. Kebutuhan emosional bisa dilihat dengan makin larisnya buku-buku motifasi, terapi spikologis, how to, tips, novel berbasis emosi, dan buku “mirip biografi”. Sedangkan buku-buku pemikiran, ilmiah yang berat dan tebal makin tidak diminati, kalau toh kalangan mahasiswa membutuhkan buku itu hanya untuk referensi kuliah yang dibaca sebentar saja. Sangat jarang, atau bisa dibilang langka sekali tiap rumah, desa, mahasiswa punya perpustakaan. Minimal menyimpan semua referensi kuliah. Entahlah apa yang mereka pelajari selama ini.

Sementara para pemilik modal dan kalangan intelektual sekarang banyak memilih berinvestasi pada manusianya. Membangun human risources, dengan mendirikan sekolah. Setelah berdiri, sekolah itu berbiaya sangat mahal. Lihat saja, pak Amien Rais mendirikan SMA Budi Mulya dengan biaya termahal di Jogja. Juga banyak contoh lain. Sementara investasi fisik dan butuh biaya operasional seperti perpustakaan tidak ada yang mendirikan. Saya kira inilah yang secara perlahan menghancurkan tradisi intelektual bangsa kita. Pendidikan yang baik adalah yang berbiaya mahal. Karena berbiaya mahal maka tiap orang tua dan siswa dipaksa memenuhi kebutuhan membayar. Caranya..? terserah. Bagi yang tidak mampu, jangan berani-berani daftar sekolah.

Padahal Muhammadiyah dan Taman Siswa mendirikan sekolah dulu dengan gratis hanya untuk mencerdaskan bangsa. Tidak jarang guru, pemilik sekolah membanting tulang menutupi biaya operasional dengan menggadaikan barang pribadi atau meminta donor pada pengusaha. Yang penting generasi bangsa menjadi cerdas. Dan banyak pengusaha waktu itu mau membantu. Pada tradisi NU, mendirikan pesantren dengan biaya seikhlasnya dari pada orang tua santri. Yang punya beras menyumbang beras, yang punya ketela disumbang ketela. Dan masing-masing ikhlas menerima. Masalah kualitas, jelas unggulan karena guru, kyai memiliki integritas dalam mendidik, mencerdaskan. Bangga jika murid, santri menjadi cerdas, walaupun tanpa digaji.

Kembali pada tradisi adanya perpustakaan desa di Korea Selatan. Di Indonesia, kayaknya hal yang hampir mustahil. Lihat saja, mana ada orang dengan kemampuan modal tinggi punya motifasi beramal dengan mendirikan perpustakaan. Jangankan akan menghasilkan cash back, malah tiap bulan kita dituntut mengeluarkan biaya operasional. Sampai-sampai pada paruh 2008, perpustakaan Hatta yang sangat lengkap terpaksa tutup. Semua buku disumbangkan ke UGM, tapi lacur, ¾ buku yang disumbangkan berhasil dicuri.
Ada contoh tradisi dalam umat Islam pada abad pertengahan yang sekarang sudah ditinggalkan. Pada zaman kekhalifahan Abbasiyah dikenal dengan kemajuan intelektual yang sangat tinggi. Masing-masing pengusaha punya obsesi dan berlomba-lomba dalam mendirikan perpustakaan. Di tiap kota berdiri perpustakaan megah dengan jutaan koleksi. Perpustakaan pribadi pengusaha mencapai ratusan ribu koleksi. Perlombaan antar pengusaha dan mengoleksi buku sampai-sampai tiap buku dihargai dengan seberat timbangan emas. Apakah itu buku terjemahan atau karangan sendiri.

Muhallab bin Abi Sur’ah, salah seorang Jenderal yang ternama dari dinasti Abbasiyah pernah berpendapat bahwa untuk mencapai kemenangan dan kemerdekaan umat hendaklah jangan lupakan dua perkara, yaitu: persenjataan dan perpustakaan. Oleh karena itu pada suatu hari, tatkala anaknya hendak keluar berjalan-jalan, dinasehatkan jika hendak pergi ke pasar, janganlah menoleh kekanan dan kekiri, jangan berhenti, melainkan pada dua tempat, yaitu tempat orang menjual senjata dan pada tempat orang menjual buku.  “iza waqaftum fil aswaqi, fala taqifu illa ‘ala man jabi’us silaha au jabi’ul kutub".

Abad ke-10 M adalah zaman keemasan dalam sejarah Spanyol dan Asbania. Masa pemerintahan khalifah ‘Abd al-Rahman III digantikan oleh Hakam II, bangsa yang mulanya terpecah belah, bersatu menuju kemajuan. Hakam II adalah pecinta ilmu pengetahuan bandingannya. Diutus orang-orang membeli manuskrip kemana-mana, dan dalam istanannya terkumpul 400.000 naskah. Istananya penuh dengan pegawai perpustakaan, tukang salin dan tukang jilid. Dan sebagian besar koleksi sudah dibaca dengan memberikan catatan didalamnya. Abdul Faradj, pengarang kitab Al-Aghani dihadiahi 1000 dinar untuk bisa memiliki naskah kitabnya.

Demikian Muslimin 10 abad yang lalu memandang tak ada amal yang ditinggikan lebih dari pada mendirikan gedung perpustakaan tau mewakafkan buku.

Zaman Belanda, terdapat beberapa perpustakaan seperti “bataviaasch Genootschap” dengan kekayaan kitab tidak kurang dari 200.000 jilid banyaknya. Sekarang yang bisa dijadikan rujukan berburu buku di perpustakaan Petra Surabaya, perpustakaan Ignatius Yogyakarta, Perpustakaan Nasional. pun jumlahnya sedikit sekali dibandingkan dengan perpustakaan Biblictheque Nationale di Paris yang lebih dari 4.500.000 jilid kitab. Perpustakaan umum di Leningrad kekayaannya mencapai 4.300.000 jilid kitab dan Congres Library di Washingthon tidak kurang dari 4.200.000 buku.

Amati saja, tiap film Hollywood, film Korea, Mandarin selalu tersedia buku di ruang tamu, kamar. Film apapun.
Nah, pertanyaannya, berapa banyak buku yang kita koleksi..??



Jumat, 20 September 2013

Renungan M. Roem untuk PII

Melimpahkan KASIH
(untuk Adinda).*

Mungkin Adinda terkejut, mengapa Kanda tuliskan soal kasih. Berkali-kali sudah, Kanda membicarakan bermacam-macam acara kepada Adinda. Semuanya berobject manusia sebagai machluk budaya. Adinda maklum bukan, manusia sebagai machluk budaya banyak cabang rantingnya. Kali ini Kanda kemukakan soal kasih, salah satu ranting dari pada object manusia sebagai machluk budaya itu.

Tetapi tahukah Adinda akan maksud Kanda tentang manusia sebagai machluk budaya? Maksud Kanda yakni: manusia yang berbudi, mempunjai kesedaran jiwa. Segala tindakannya disedari. Tidak seperti machluk hewani, segala perbuatanya adalah instinctief.

Adinda, kasih yang kanda maksudkanpun kasih akibat kesedaran jiwa. Jadi kasih yang diperbuat oleh manusia sebagai machluk budaya, manusia yang berbudi.

Mungkin Adinda telah merasa-rasakan, hanya belum lagi merumuskannya.

Cobalah Adinda ikuti sejenak uraian Kanda, kalau-kalau ada persesuaian dengan pendapat Adinda.

Ingatkah Adinda akan ceritera Ardjuna Wiwaha dalam lakon Mintaraga. Ketika Ardjuna sedang bertapa, bersemadi, digunung Inderakila. Apakah maksudnya? Dia mencari jalan, berdaya upaya akan mewujudkan kasihnya kepada keluarganya, kepada negaranya, kepada dunia. Adakah yang diharapkan olehnya? Sesuatupun tidak. Ia sekadar menunaikan kewajiban, melaksanakan hakiki hidupnya, lain tidak. Benarkah demikian? Andaikata dalam hatinya terkandung sesuatu kebalikan dari pada yang Kanda katakan diatas, masakan dia meninggalkan masyarakat ramai, menyiksa diri malahan menolak segala kenikmatan, kabahagiaan dunia, yang telah tersaji dihadapannya! Tidakkah Adinda ingat, sembilan bidadari pilihan para dewa, yang dikirimkan untuk membelokkan niat suci Ardjuna?

Ada yang merayu, mencumbu, melarai, malahan memeluk, tetapi semuanya itu tidak menggerakkan hati Ardjuna. Kesuciannya tidak ternodai. Jalan mencari kasih lebih mulia baginya, lebih diutamakan. Kasih yang sedang ditunaikan adalah lebih dari pada semuanya.

Adinda, ingatkah Adinda ketika Ardjuna didatangi Sang Pendeta, jelmaan Batara Indera. Sabda Sang Pendeta: "Tuan tertarik oleh segala yang tuan pikirkan. Berbahaya sekali anakku, kalau tuan membebaskan pikiran saja. Tuan jadi yang teramat durjana, kalau tuan menyuburkan hawa dan nafsu."

Sahut Ardjuna dengan tiada ragu: "benar sabda paduka pendeta. Tetapi hamba terikat oleh kasih dan bakti kepada kakanda Seri Darma Atmadja yang hendak memperbaiki dan memakmurkan dunia. Hanyalah kasih dan bakti itu yang cucunda tuju bertapa ini. Kalau tidak dikabulkan Sang Hiang Sjiwa, lebih baik hamba mati saja, tidak pulang.

Demikian Adinda, Ardjuna menunaikan kasih adalah sebagai suatu kemestian. Bukan karena mengharapkan balasan, apa lagi karunia untuk kenikmatan dirinya sangat jauh. Itulah Adinda, sebahagian kasih yang Kanda maksudkan!

Sebaliknya Adinda, bidadari sembilan yang merayu, mencumbu itu tidakkah mereka memberikan kasihnya kepada Ardjuna? Kanda tidak membantah. Tetapi kasih yang diberikannya itu adalah kasih palsu, tidak sejati. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari pada Ardjuna, untuk kenikmatan dirinya. Entah mengharapkan gagahnya, tangkasnya, saktinya, Dinda boleh terka. Kasih bidadari kepada Ardjuna demikian itu bagi Kanda tidak dapat menghargainya.

Adinda, tahukah Adinda arti pengharapan. Berharap yakni menginginkan sesuatu dari pada orang lain. Bilamana seseorang menginginkan sesuatu dari pada orang lain? Apabila ia kekurangan. Adakah orang kecukupan menginginkan sesuatu. Tidak mungkin, barang mustahil. Jadi bagi mereka jang memberikan kasihnya karena berharap akan balasan sesuatu bagi dirinya, sebenarnya mereka tidak memberi, tetapi minta-minta, karena dirinya kekurangan. Nah Adinda, lebih tinggi mana nilainya, minta-minta atau memberi. Kukira Adindapun akan sepakat dengan Kanda, bahwa memberi mempunjai nilai lebih dari pada minta-minta. Jadi dapatkah kita menghargai seseorang yang memberikan kasihnya dengan mengharapkan sesuatu balasan untuk dirinya? Adinda boleh renungkan dahulu!

Memang Dinda, didalam masyarakat ini banyak kita jumpai orang mencurahkan kasihnya. Tetapi kebanyakan ada terkandung sesuatu harapan. Dimuka telah Kanda kemukakan bahwa maksud Kanda ialah: Kasih dari pada manusia sebagai mahluk budaya. Rasa-rasanja Kanda dapat memastikan, barang siapa kebudajaannya makin luhur, kasih yang Kanda maksudkan itu benar-benar akan merupakan suatu kemestian!

Adinda pernah mentelaah ajaran Agama kita bukan.

Ajarannya adalah diatas segala keluhuran kebudayaan. Kita temui pada tiap-tiap permulaan surat kitab suci Agama kita: "Demi Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih."

Adinda kita ini adalah hamba dari Tuhan yang telah memberi dasar ajaran hidup diatas segala keluhuran budaya manusia. Kita maklum bahwa Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya dengan tiada terhingga kepada segenap mahluk-Nya dan sesuatupun tidak ada yang diharapkan oleh-Nya.

Nah itulah yang menjadi pedoman kita. Bukan karena ada harapan, bukan karena terpaksa, melainkan karena kita sebagai mahluk budaya yang telah mendapat ajaran diatas segala keluhuran budaya manusia, maka kita berikan kasih kita.

Achirnya Adinda masih adakah keraguan dalam hatimu? Atu barangkali menyesali sikap Kanda ini?

Adinda, Kanda kira Adinda tidak akan ragu lagi dalam hati Dinda dan tak akan menyesalkan Kanda. Malahan pasti Adinda akan sanggup mencurahkan kasihmu berlebih-lebih, sebab Adinda telah maklum, bahwa Tuhan jua yang Maha Kasih.


M. Roem.

---------------ooOoo--------------

*) Adinda = peladjar-peladjar semua.


Ditulis lagi dari madjalah TUNAS. Edisi Djanuari Th. IV 1952



Kamis, 19 September 2013

Tersisa Suriah Yang Masih Radikal


Pasca Perang Dunia ke II, cerita tentang konflik Timur Tengah selalu menghiasi lembaran berita yang muncul. Hal itu dimulai sejak proklamasi kemerdekaan Israel hingga kini, konflik antar negara di Timur Tengah terus berlanjut. Problem politik paling krusial di Timur Tengah adalah konflik negara Yahudi Israel dengan negara-negara Timur Tengah. Namun dalam setiap peperangan melawan Israel, hampir tidak ada kata sepakat menyerang bersama-sama. Satu sama lain memilih menjadi penonton, dan sebagian hanya sebagai pemandu sorak.

Israel memang sengaja ditempatkan di titik episentrum konflik Timur Tengah. Dengan begitu, keberadaan Israel mampu menciptakan konflik spiral (spiralling violence). Seperti pendapat J.B. Kelly bahwa salah satu sumber ketidakstabilan Timur Tengah adalah ramifikasi konflik Arab - Israel, disamping dinamika permusuhan di antara bangsa-bangsa Arab sendiri. Perbedaan rasial dan antipati sektarian yang begitu endemik serta pengaruh ide politik radikal dan dampak kekayaan yang melimpah dari minyak merupakan peristiwa yang terus berkelanjutan dan bisa menjadi dasar permusuhan yang tiada akhir.

Adanya kesamaan agama (Islam) walaupun berbeda aliran, agaknya tidak mampu menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Pertentangan ideologis yang mendasar dibuat semakin mengerucut dengan mengangkat isu klasik Sunni - Syiah. Padahal dalam tradisi politik, mereka relatif sama, yaitu budaya politik yang masih menonjolkan nilai-nilai primordial yang diorientasikan kepada musyawarah atau mufakat. Sehingga persoalan kebersamaan senasib sepenanggungan masih dapat dikatakan sebagai variabel yang potensial.

Jika sampai negara Timur Tengah bersatu, dengan potensi minyak yang luar biasa banyak, akan menggeser dominasi Barat (AS, Inggris dan Prancis) dalam peta politik dunia. Hal itu sudah terbukti ketika negara Arab kalah dalam perang melawan Israel, kemudian melancarkan serangan dengan embargo minyak ke Barat pada tahun 70-an. Maka Barat perlu menempatkan Israel sebagai alasan politis mereka untuk menciptakan ketidakstabilan. Dengan begitu, bangsa Arab sangata fariatif dalam mempersepsi kehadiran Zionisme. Akibatnya, bangsa Arab terpecah menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok radikal yang terdiri dari Suriah, Libya, Irak, Iran. Kedua, kelompok moderat diantaranya Mesir, Arab Saudi, Aljazair. Ketiga, adalah kelompok yang memanfaatkan keuntungan politis maupun kompetitif di balik ketegangan Timur Tengah.

Ada kekhawatiran, bahwa kemenangan Israel yang bertubi-tubi akan menambah kelompok radikal di Timur Tengah. Setelah selesai perang dingin AS dan US, peta pilitik bergeser ke negara-negara Islam yang makin radikal dan sukses dalam membangun ekonomi, politik dan militer. Secara tepat, AS melihat adanya ancaman potensial bagi kepentingan mereka di negara-negara Muslim. Untuk itu didesain model ancaman baru dalam skala global dengan melahirkan “terorisme”. Isu ini digunakan AS menginvasi Afganistan dan Irak. Amerika terus memobilisasi dukungan dengan mengancam semua negara di dunia dengan doktrin unilateralnya yang intimidatif, “if you’re not with us, you’re against us”, (kalau anda tidak mendukung kami – dalam perang melawan terorisme – anda adalah musuh kami).

Terpaksa hampir semua negara Muslim, mengikuti ancaman AS. Bagi presiden Pakistan, Pervez Musharraf, tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan dukungan kepada Al-Qaidah dan Taliban, meskipun berlawanan dengan aspirasi rakyatnya. Presiden Mesir Hosni Mubarrak yang sejak lama menikmati bantuan keuangan tidak kurang dari 2,0 milyar dolar setahunnya, jumlah terbesar kedua setelah Israel di Timur Tengah langsung mendukung. Apalagi cukup banyak anggota Al-Qaidah yang berasal dari negeri itu, termasuk orang kedua Al-Qaidah Dr. Ayman Al-Zawahiri, seorang intelektual asal Mesir. Ayman Al-Zawahiri diprediksi yang menggantikan posisi Osama Bin Laden pasca terbunuhnya di Pakistan.

Afganistan, negeri Muslim yang miskin diratakan dengan tanah karena dosa Afganistan “menampung kelompok teroris Al-Qaidah”. Padahal Al-Qaidah adalah buatan Amerika pada tahun 1979 saat melawan Uni Soviet. CIA melatih, membiayai dan menempatkan Al-Qaidah di Afganistan. Menyusul Iraq, negeri 1001 malam yang sudah loyo mempertahankan diri setelah diembargo selama 12 tahun. Irak berhasil dibumi-hanguskan dengan dalih menyimpan senjata pemusnah massal dan melindungi Al-Qaidah.

Perburuan terhadap Al-Qidah selesai setelah Osama Bin Laden tewas di Pakistan. Dengan tiba-tiba kemudian muncul musim semi Arab (Arab Spring). Arab spring lebih disebabkan konflik laten internal yang sudah sangat lama dan semakin membusuk. Ikatan primordial yang masih sangat kuat di Timur Tengah ikut memainkan peran dalam konstelasi peralihan kekuasaan yang ada. Trias politica Timur Tengah yang dominan ditentukan oleh militer ini menjadi penentu arah konflik internal dan eksternal. Namun hal yang dilupakan, negara-negara yang mengalami gejolak adalah negara yang selama ini mendukung perjuangan Palestina dari pembebasan penjajahan Israel. Mereka menampung warga Palestina, memberi fasilitas dan aktif mengkampanyekan kebrutalan Israel ke seluruh dunia. Ada Libya, Yordania, Suriah, Tunisia dan Mesir. Pada konteks Arab spring yang berhasil menggeser kepemimpinan radikal Moamar Qhadafi dari tampuk kepresidenan. Tiga kekuatan yang mengerucut pada sosok Moamar Qhadafi berhasil ditumbangkan dengan pemberontakan sipil.

Yang menarik pada kasus Mesir. Hosni Mubarrak adalah sosok yang dekat dengan AS. Pada awal kekuasaan Mubarrak menggantikan Sadat, lebih moderat dengan membiarkan partai-partai dari berbagai aliran. Seperti Al-Ikhwanul Muslimun, yang sejak setelah Nasser terbunuh keberadaannya dilarang. IM mendapat angin segar dengan bisa mengikuti pemilu, namun terus saja kalah, jauh dibelakang NDP yang merupakan partai pendukung Mubarrak. Mubarrak yang selama ini membiarkan militan Muslim ada dinegaranya dan aktif membantu rakyat Palestina harus digulingkan. Isu bisa dibuat apa saja. Muncul IM yang beraliran radikal dan lebih primordial terhadap kelompoknya. Setelah memegang kekuasaan, hanya dalam tempo satu tahun berhasil dikudeta. Sepertinya Barat paham betul tabiat IM yang sangat primordial. Ikatan itu dijadikan alasan mengkudeta Mursi.

Arab Spring tinggal menyisakan Suriah. Pemerintahan Suriah sejak munculnya Israel sangat jarang terjadi kontak senjata. Juga Suriah sangat jarang kontak senjata dengan negera-negara Arab. Namun dalam aliran politik luar negeri termasuk yang radikal. Keamanan negara Suriah banyak menjamin keberadaan kelompok militan. Suriah juga aktif membantu Libanon, negara tetangga yang kecil saat perang dengan Israel.

Suriah memang pada dekade 1980-an sangat menjaga jarak. Bahkan dalam beberapa konflik Libanon dan Palestina vs Israel, Suriah membantu Kristen Maronit (yang berada di Libanon). Damaskus yang sejak awal menjalin sekutu dengan Iran terus meningkatkan kekuatan persenjataan. Sejak peta politik berubah dengan naiknya Ahmadinejad, Suriah aktif mendukung beberapa milisi di Libanon Selatan khususnya Hizbullah. Hizbullah makin kuat posisinya di Libanon Selatan setelah berhasil mematahkan serangan Israel tahun 2006. Kejengkelan Israel semakin menjadi-jadi. Satu-satunya jalan adalah penggulingan kekuasaan. Rezim Bashar al-Assad yang dinilai diktator dan tidak memberi kebebasan terhadap rakyat.

Meletusnya perang sipil di Suriah pada medio 2012 digunakan Israel dan sekutunya untuk melakukan intervensi langsung terhadap politik Suriah. Mereka berdalih bahwa Suriah telah melakukan pembantaian massal rakyat sipil. Awal perang sipil di Suriah, milisi Tentara Pembebasan Suriah mendapat angin segar karena dibantu banyak negara. Sampai setahun perang berjalan posisi Assad tetap kokoh dan berhasil merebut daerah-daerah yang dikuasai milisi. Israel dan AS tidak menyangka bahwa Asad akan melawan. Tidak seperti Moammar Khadafi yang terus terdesak dan terbunuh.

Laporan intelijen Israel banyak kecolongan. Suriah dianggap negara yang tidak memiliki tekhnologi persenjataan yang mampu menandingi tekhnologi Israel. Solusi terakhir adalah dengan menuduh Suriah memiliki senjata bom kimia. Sejenis senjata pemusnah massal yang dituduhkan AS terhadap Iraq. Propaganda ini digunakan untuk mengerahkan sekutu AS mengeroyok Suriah. Iran dalam hal ini sebagai sekutu dekat Suriah tentunya tidak akan tinggal diam. Begitu pula Turki yang merupakan tetangga dekat Suriah, akan menjadi negara limpahan pengungsi sangat banyak nantinya. Perang Suriah akan mendekati pergolakan besar di Timur Tengah. Dan saya kira akan membuka sejarah baru konflik yang berbeda selama ini. Dua imperium besar muslim (Turki dan Iran) yang ingin mengokohkan diri sebagai panglima Timur Tengah akan ikut andil dalam perang.

Minggu, 28 Juli 2013

Makrifat DAUN - DAUN Makrifat

Isi Buku

Sajak-sajak yang dimulai dengan bait Al-Barzanji
Storrs – New York, 1973-1974
Menjadi saksi pemogokan
Aku cemas bumi semakin menyusut
Pertentangan ialah hukum surgawi

1.0
Sajak-sajak yang dimulai dengan bait Al-Barzanji

1.1
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Nabi yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Sesudah membuka pintu-pintu
aku keluar menuju ladang
dan di antara pohon kutemukan
senyum, danau dan ayat Tuhan

1.2
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Muhammad yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Seperti butir salju
ruhku menggigit rumput
menghisap putik makrifat
dan setangkai mawar

1.3
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Matahari yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
meletakkan sekuntum sajak
di makam Nabi
supaya sejarah menjadi jinak
dan mengirim sepasang merpati

1.4
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Purnama yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku jatuh cinta
karena matematik
mengajar manusia
lebih mulia dari malaikat
demikian kutulis musik & puisi
dan menanti mutmainah di sudut rumah
sambil menatap kuncup rahmat mekar di halaman

1.5
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Cahaya yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Dengan ikhlas
kutanam pohon untuk burung
yang sanggup
memuji Tuhan dengan sempurna

1.6
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Rasul yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Batuputih, Madura
Di mata air
mukaku bergoyang di antara pohon dan awan
dan aku terbenam
di pasir subhanallah

1.7
Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Tercinta yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
jadi pencuri
yang lupa menutup jendela
ketika menyelinap
ke rumah Tuhan
dan tertangkap

2
(Storrs—New York, 1973-1974)

Tuhan menjaga diriku
dari kejahatan bayang-bayang
gedung pencakar, batu granit
lorong bawah tanah
dan gerbong usang
Dan Tuhan menjaga diriku
dari kejahatan angan-angan
Dari gadis dengan seekor anjing
dan rimah roti di tangan
Ketika musim semi
dan rumput menawarkan bunga
dan kebebasan burung-dara

3
Semoga abadi dinihari
yang menurunkan bulan
dan menumbuhkan seribu rindu

Subhanallah
Alhamdulillah
Allahuakbar

4
(Menjadi saksi pemogokan)

Kusucikan waktu dengan kata
sehingga para pekerja
kembali ke pabrik

Aku tak pernah sangsi
kemerdekaan, tangan gaib semesta
mengalir lewat benang elektronik
dan kesadaran yang mulia

5
(Aku cemas bumi semakin menyusut)

Aku cemas hujan tidak akan datang
tetapi angin mengingatkan
Sedangkan petani menabur benih di tangan
Demikian kuperoleh kembali kepercayaan
dan menunggu matahari dengan senyum
Aku percaya kepada malam
aku percaya kepada siang

6
Bahkan kapal mencair di batas min
karena pantai semakin jauh
Tetapi tidak Engkau
Subhanallah biru
Subhanallah ungu
Subhanallah rindu

7
O, matahari pemantau camar
jangan biarkan
dukaku tersapu sebelum hari petang
dan mendapat kepastian
Kemenangan, seperti laut, menunggu pasang

8
Bidadari yang cerdik
mengirim buahan
untuk mata yang selalu menatap langit
dan hari esok semata pelangi
Maka senyumlah
karena duka terakhir bergegas mengundurkan
Dan engkau, bagai sutera, diterbangkan angin

9
Demikianlah gelas yang pecah
tak kembali ke laut
Dan sayap yang patah
hanya menulis huruf-huruf mati
Tanpa makna
Kecuali jika engkau percaya mukjizat
Dan, kun fayakun

10
Dari hukum gaya berat
kita mengerti
kemiskinan selalu bercumbu dengan maut
Sampai keabadian
berubah secara sempurna dan memuliakan semesta
Jangan serahkan bukit-bukit
jika mereka hanya menbagi nestapa
Karena engkau pun

11
Aku mendukung
maksud pohon zaitun
menggugurkan ranting di istana
Supaya segala yang suci menjadi sejarah
dan membuka halaman baru
Bagi yang haus dan lapar

12
Duka itu doa
Doa itu iman
Iman itu kebenaran
Kebenaran itu sayap awan
yang mengabarkan kebun bunga
selagi engkau menunggu hari yang membeku
seolah tidak ada tangan gaib
Yang jari-jemarinya selalu merangkaimu
Dan tak pernah melepaskan tanggung-jawab
Percayalah

13
Di sini
kata akhir daun yang gugur
tidak lagi mendapat pengesahan
dan pergi bagai bayang samar
Kecuali engkau
karena ruhmu telah disucikan dengan nafas-Nya

Tidak akan
tidak akan

14
Bertentangan
dengan kebijaksanaan para wali
Siti Jenar memotong api menjadi tujuh
sehingga dapat berenang sepuasnya
melepas rindu yang disimpan
Kemudian ia kehilangan atas bawah
yang disangka kebenaran
dan mengundang tetangga ke pesta

15
Perangkat yang membebaskan engkau
dari kenyataan ialah mimpi
dan kematian
Tetapi tidak kurang dari itu
ialah ruh dan kesadaran
karena mereka sebagian dari kenyataan surgawi
Yang pada saatnya
memberimu kehidupan baru

16
Aku mengundang makna
untuk melebur darahku jadi putih
sehingga mataku tidak lepas dari keabadian
Selalu aku berharap
supaya burung membagi sayap
Dan menerbangkan ruhku – melayang
siapa tahu
jika batas telah menghilang
aku dapat bertemu
Tidak akan
tidak akan kulepaskan lagi wajahku

17
Menyambut pagi
adalah kerja mulia bagi pemabuk
yang cinta kepada sepi
Yang memandang dunia
dengan mata malaikat
Dan tak pernah lupa
menafsirkan tanda-tanda
Kadang-kadang sebutir kebijaksanaan
puncak pengetahuan
keluar dari rahimnya
Menghias matahari

18
Seorang kawan mengatakan
bahwa selain memburu lalat
kucing juga dapat mengangkap tangkap – yang sejati
hakekat segala gerak
Aku sangsi
kebijaksanaan terakhir sudah lepas
ketika orang tidak lagi pandai berdoa
Karena kita tidak punya
waktu bagi kekosongan
manusia bukan milik manusia

19
Engkau dapat membujuk
awal menjadi akhir
dan akhir menjadi awal
karena engkau pencipta lambang-lambang
Tetapi, engkau kehilangan jejak
Lebih baik serahkan laut kepada airnya
daun kepada hijaunya
bintang kepada cahayanya
Sebab pada mulanya
hanyalah kun fayakun

20
Yang paling puncak
dari kenyataan adalah keabadian
namun ia lengkap pada dini hari
dan tak menjaga manusia
itu sebabnya
aku menentang pembangunan kapal-kapal
Karena satu-satunya jalan menyeberang
ialah berenang mengikuti air sungai
Dan begitulah engkau sampai ke ujung

21
Permainan yang tak habis pakai
ialah denyut darah ketika ia menyentuh kalimat
Engaku akan menjadi tua tanpa mengerti hakekat kata
jika tidak mengenal abjad
Satu-satunya cara ialah menekan nadimu
dan dengarkan bagaimana ia memuji Tuhan
Ikutlah
seperti anak-anak bermain di atas pasir

22
Yang membeku bukan hanya es
Kau tahu semua yang bergerak akan berhenti
Engkau penguasa mata angin
usirlah senja
Sebagai orang merdeka
engkau pun punya hak

23
Dari segala yang terbang
kupu-kupu ialah yang kuning
dirahmati beludru
Kadang-kadang ia melepas sayap
Karena bunga-bunga
seperti kebijaksanaan
gugur bersama angin
hanya yang bersayap
sanggup menangkap
Dan engkau

24
Awan tempat burung-burung singgah
menyambutmu sebagai tamu
Sebagai fakir
engkau tak mengidamkan singgasana
Karena itu semesta
laut dari laut
adalah sahabat
Sebab
mereka pun memuji Tuhan
Dan merendah

25
Pelabuhan akhir
ialah yang awal tempat engkau berangkat
Engkau tidak lupa
cakrawala penghabisan ialah yang pertama
Karena bumi
begitu sumpah galileo galilei
adalah sebuah bayang-bayang
engkau tidak akan lupa

26
Luluhkan ruhmu pada mutmainah
dan mutmainah pada laku
Karena persenyawaan baru itu
tidak tunduk pada newton
maka semestamu ialah keabadian
Yang takkan kembali
kecuali kepada sepi

27
(Pertentangan ialah hukum surgawi)

Kepada matahari
kau tak pernah menyatakan tidak
Setiap pagi kau menuai
dan mengelompokkan energi ke dalam makna
Namun selalu saja kau lupa
bahwa rindu juga tenaga
Ingat pepatah
yang sempurna ialah yang rindu
dan rindu yang sempurna ialah yang lupa

28
Selain sepi kun fayakun
juga menjelma menjadi putih
Segala yang tidak jatuh
sebagaimana langit
menghapus dendam pada yang putih
Dan dari yang putih
engkau yang memukau
Engkau, mozaik, juga berwarna biru
Yang biru ialah yang putih
Tidak akan memudar, aku bersaksi

29
Kepada optika
engkau mengharap lebih dari sinar
tetapi tidak tanpa matahari
Hak penghuni malam ialah yang lembut
lebih dari sekedar langit
Namun, hanya bintang sanggup bertaburan
Dan ruhmu, insyaallah

30
Semua yang kemilau adalah yang hijau
Engkau berdoa supaya warna
tetap memikat dan air mewangi
Dan sungia mengalirkan rindu
Maka daun yang lepas
dari dahan menjatuhkan makrifat
Lalu engkau pun

31
Milik bulan ialah yang lembut
sebab salju selalu berkilau
Dan engkau, sahabat mata air
lebih bulan dari kuning
Karena mutmainah, bagai bayang-bayang
mekar dalam sunyi

32
Semoga Tuhan memberi karunia rumput
Yang menawarkan semi sejati
Karena musim pelaut menaburkan benih
Yang menyuburkan semesta
Dan sunyi menjanjikan mimpi yang mawar

33
Atas perintah
cahaya menjadi bunyi
Di atas pohon cakrawala
Di antara para pemabuk
Setelah perahu kembali ke sauh
engkau pun berpihak
Kepada lautan kabut

34
Di ujung makrifat
bersama malaikat
ketika angin
dan ruh
dan hu
terjatuh

Dan engkau

35
Bersama rindu pohon
Aku percaya pada yang merah
dan Engkau. Bersama ombak, buih, dan nelayan
aku percaya pada yang jingga
dan Engkau. Bersama burung, rumput, dan petani
aku percaya pada yang kuning
dan Engkau. Bersama angin dan bintang
aku percaya pada yang hijau
dan Engkau. Bersama sauh, perahu, dan pelaut
aku percaya pada yang biru
dan Engkau. Bersama rebana dan kecapi
aku percaya pada yang api
dan Engkau. Bersama kabut dan hutan
aku percaya pada yang ungu
dan Engkau

36
Aku cinta keajaiban
karena bersama bulan bunga mengenal mawar
Aku cinta keajaiban
karena Hu pun

37
Khutbah-khutbah burung
mengikat langit dan awan
memberi warna putih
kepada mawar
dan kepada ruhmu
38
Tuhan dan malaikat mencuci pagi
lalu awan pun membuka ujung langit
dan engkau, wakil yang serba kuning, mengurai kabut

Ya nabi salam’alaik
Ya rasul salam’alaik
Ya habib sama’alaik

39
Di antara nama-nama indah
aku pilih Al-Hayyu
yang mengalirkan oksigen ke ujung pohon
dan menggoda kerisik cemara

Ya Hayyu

40
Kusapa angin pagi di Ann Arbor
ditawarkannya kalau-kalau aku suka keliling kota
Hari itu mendung
dan ia berjanji sungguh-sungguh
takkan membiarkan aku kehujanan
Habis, kami berdua adalah ayat Tuhan

41
Aku percaya keajaiban O2
yang mengalir lewat darah
dan menyebarkan virus makrifat

42
Ya Allah
Ya Rasulullah
Ya malaikat
Ya bukit-bukit
Ya batu-batu
Ya daun melayang
Ya burung mengigau
Ya tumbuh
Ya berkembang
Ya menghilang

43
Yang selalu ialah alif lam mim
yang sempurna ialah kabut
ketika menyebut nun
lalu, menyelinap ke laut
Marhaban. Ahlan wa sahlan

44
Burung murai
menanam rumput makrifat dan Hu
berisik di daun Hu
beratap di kutub Hu
berumah di rantau Hu
berteduh di ranting Hu

45
Makrifat sungai pohon
Makrifat bunga mawar
Makrifat batu-batu
merangkai tasbih danau
melebur danau jadi kemilau
melebur kemilau jadi ruh
melebur ruh jadi aku
melebur aku jadi nafas-Mu

46
Ketika salju mencair
Ketika zikir mengalir
Ketika benam membenam
Ketika engkau dan Hu
Melepas rindu

47
Suatu hari kutemukan
burung di sangkar termenung membungkam
aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka yang melupakan Tuhan
tak berhak mendengar burung bernyanyi

48
Sebagai hadiah malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
Sampai dhuafa dan mustadhafin
diangkat Tuhan dari penderitaan