Pages

Rabu, 20 November 2013

108 tahun Sarekat Dagang Islam

Bandul perubahan, mungkin sejak manusia ada di bumi ini, ditentukan oleh dua faktor utama: oleh politik atau ekonomi. Perebutan kekuasaan dan penguasaan modal menjadi domain utama sifat manusia. Setelah sampai pada puncak kebrutalan akibat ulah manusia, baru agama turun untuk meletakkan dasar akhlak. Konsepsi tersebut bukan maksud mensubordinasikan agama, melainkan bahwa tugas manusia ditempatkan di bumi memang sebagai khalifah, wakil Tuhan. Artinya ini ranah kekuasaan atau politik. Dan memanfaatkan potensi yang ada di bumi untuk kemakmuran umat manusia ini ranah ekonomi. Ketika ketimpangan kekuasaan dan kepemilikan modal semakin tinggi, kelas borjuis dan buruh makin timpang, maka tuntutan relevansi agama semakin menguat.

Kepentingan kelas ini kemudian menjadi akar ideologi. Dua idelogi besar dunia, kapitalisme dan sosialisme digerakkan oleh kekuasaan (politik) dan modal (ekonomi). Pergerakan kekuasaan dan modal difungsikan untuk mempertegas identitas. Identitas diukur dari ranah politik dan ekonomi. Konsepsi inilah yang menghancurkan peradaban dunia sekarang. Masing-masing berlomba menumpuk modal dan mengejar kekuasaan. Point yang perlu diingat bahwa pengelompokkan kelas dalam Islam berbeda. Kuntowijoyo menjelaskan pengelompokkan kelas dalam Islam yaitu kelas dzalim (penindas) dan kelas mustadh’afin (tertindas). Dengan begitu, konsep kelas dalam Islam berbeda dengan konsep kelas dalam Marxisme.

Ukuran kelas dalam Islam bukan berdasarkan faktor alat produksi, modal dan kekuasaan, melainkan faktor keadilan. Hubungan ketidakadilan, penindasan, dan kedzaliman inilah yang mau dilawan oleh Islam. Baik karena faktor ekonomi maupun politik, kedzaliman adalah musuh bersama. Dzalim dalam konteks politik adalah pemimpin yang otoritarian, korup, anti kritik, politik dinasti, memonopoli modal dan tidak memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil, buruh, petani gurem dan nelayan (mustadh’afin). Pilihan umat Islam dengan mengajak kelas proletar bukan untuk menghancurkan dan menyamaratakan, tetapi untuk mensejahterakan.

Maka konsep ideologi kelas dalam Islam punya paradigma sendiri. Pemihakan kelas dalam Islam untuk mewujudkan keadilan. Baik dalam sektor ekonomi, politik, hukum, sosal dan budaya. Keberpihakan kepada keadilan akan selalu relevan sepanjang zaman. Mustadh’afin sebagai produk ketidakadilan akan selalu muncul dalam sistem masyarakat apapun, baik kapitalis maupun sosialis.

Sejak Daniel Bell menulis tesis the end of ideology yang mengingatkan kepada kita tentang homogenisasi ideologi dunia, sebenarnya belum berakhir. Begitu pula hipotesa Francis Fukuyama tentang kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai akhir pertarungan ideologi menjadi usang, ketika Amerika malah ambruk oleh konsep kapitalisme yang sendiri. Homogenisasi Ideologi adalah bentuk ketidakadilan dan penindasan, dan tentu akan menemui titik kemunduran.

Kristalisasi Ideologi
Perlawanan ketidakadilan di Indonesia pertama kali muncul ketika sekelompok kecil pedagang batik Solo menentang monopoli bahan baku batik oleh orang Tionghoa. Inilah babak baru perlawanan umat Islam dengan membentuk perkumpulan melawan ketidakadilan monopoli Tionghoa dan penindasan Belanda. Pada tanggal 16 Oktober 1905, berdirilah Sarekat Dagang Islam (SDI) oleh KH. Samanhoedhi. Gerakan perlawanan SDI ini kemudian berkembang dan melahirkan Sareka Islam (SI) HOS. Cokroaminoto. Konon lewat SI lah, tokoh-tokoh pergerakan tiga ideologi dididik dan dibesarkan, Islamisme Kartosuwiryo, Marhaenisme Soekarno, dan Komunisme Semaun.

Islam mencapai bentuknya sebagai ideologi perlawanan baru. Hal tersebut juga menandai masuknya zaman ideologi, menurut perspektif Comte. Model perlawanan yang berbeda sesudah zaman mistis yang kental dengan cita-cita Ratu Adil. Gerakan perlawanan SI kemudian secara cerdas direkam oleh Takashi Shiraishi dengan judul sangat provokatif, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Lewat SI, kesadaran kelas dan keberpihakan dengan mustadh’afin pertama kali dikenalkan kesegala lapisan masyarakat Indonesia.

Semangat perlawanan Islam ini kemudian menemukan wujudnya dalam bentuk yang khas ke-Indonesia-an dalam Pancasila. Konsep Pancasila, secara tegas merangkum bentuk perjuangan ideologi bangsa Indonesia. Dasar keyakinan (Ketuhanan Yang Maha Esa), nilai-nilai universal (kemanusiaan dan keadilan sosial), prinsip politik (persatuan Indonesia dan kedaulatan rakyat). Founding father kita yang mayoritas umat Islam memahami bahwa Pancasila adalah model Islam-nya Indonesia. Dan Pancasila merupakan suatu keyakinan ideologis yang terbuka dan bukan merupakan akhir ideologi. Seperti pendapat Natsir bahwa putra-putri Indonesia harus diberi hak memberi isi pada Pancasila. Ketika Pancasila dimonopoli penafsirannya sebagai alat kekuasaan untuk membungkam putra-putri sendiri itulah bentuk kedzaliman (ketidakadilan, penindasan) yang nyata.

Tradisi Keilmuan Kita
Reformasi, selain mengakhiri monopoli tafsir Ideologi Indonesia, juga menghancurkan pondasi dasar keyakinan. Ketika Dr. Pramono Anung menyusun disertasi, menemukan fakta bahwa landasan politik Indonesia tidak lagi dibangun berdasarkan idealitas dan cita-cita founding father bangsa. Landasan politik kita sekarang dibangun berdasarkan kombinasi uang dan kekuasaan. Mayoritas rakyat kemudian meneriakkan kembali kepada Pancasila, seperi mencita-citakan Ratu Adil. Sementara umat Islam mengalami kebekuan ide, sehingga semangat perlawanan pada bentuk ketidakadilan penguasa yang korup menjadi utopis. Sekencang apapun tokoh Islam berteriak, penguasa korup tetap berlalu.

Akan terlalu lama ketika kita kembali meniti kembali rumusan ide menjadi konsep ilmu yang menginspirasi perlawanan. Melihat potensi kelas menengah Indonesia yang terus meningkat. Kebanyakan mereka adalah kelompok terdidik, independen, berada diluar birokrasi dan memiliki semangat kemerdekaan kelas yang besar. Maka, yang perlu diupayakan adalah menggenjot keberpihakan kepada mustadh’afin secara struktural.

Dengan melihat perjuangan masa lalu, kita bisa belajar banyak. Kita sudah melihat sendiri pada setiap tahapan sejarah Indonesia, peran umat mempunyai cerita positif sendiri. Kita bisa bangga ketika melihat bagaimana posisi umat pada setiap periode sejarah, bagaimana bentuk kesadarannya, bagaimana permasalahan-permasalahannya, bagaimana cara umat Islam mengorganisir diri, bagaimana mereka melakukan aksi, dan bagaimana umat Islam memecahkan dilema dan problem kedzoliman yang dihadapi

Umat Islam sudah melewati usia lebih dari 1400 tahun. Umat Islam sudah sangat tua, tapi masih selalu muda dan penuh energi.




Berapa Buku Yang Kita Koleksi?

Pada pertengahan 2010, sempat diadakan diskusi terbuka oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta dengan pembicara Prof. Hyung-Jun Kim dari Korea Selatan. Kesempatan diskusi saya gunakan untuk bertanya tentang resep kenapa Korea Selatan pada dekade 60-an jauh tertinggal dengan Indonesia karena dampak perang, sedangkan sekarang Indonesia malah jauh tertinggal dari Korea Selatan dalam segala hal. Bahkan Korea Selatan adalah negara penghasil title Ph.D terbanyak di dunia.

Jawab Prof Hyung sangat mengejutkan. Walaupun tidak semua resep kemajuan dijelaskan, tapi Beliau menjelaskan bahwa di Korea Selatan sampai sekarang tiap Desa memiliki perpustakaan lengkap berkaitan dengan sejarah, kondisi sosial, ekonomi, politik desa masing-masing. Juga dilengkapi dengan buku-buku referensi yang lengkap dari manapun. Tradisi membaca memang sangat kuat di Korea Selatan dan itu ditradisikan.

Saya jadi ingat film Korea pada permulaan booming F-K yang ditayangkan di Indosiar adalah film Jewel In The Palace, kisah perempuan dengan obsesi belajar sangat tinggi, kehausan ilmu yang luar biasa sampai menjadi dokter bedah pertama Korea. Tokoh utama Jang Geum adalah prototipe perempuan tidak wajar, karena berani mencuri buku demi mengetahui kebenaran, dengan resiko di penjara.

Di Indonesia, membaca adalah barang langka. Kalau toh banyak yang hobi membaca hanya untuk kebutuhan emosional. Hal ini menggejala sejak paruh 2005 saat dominasi non intelektual (baca: politik) memberangus tradisi berfikir anak muda kita. Kebutuhan emosional bisa dilihat dengan makin larisnya buku-buku motifasi, terapi spikologis, how to, tips, novel berbasis emosi, dan buku “mirip biografi”. Sedangkan buku-buku pemikiran, ilmiah yang berat dan tebal makin tidak diminati, kalau toh kalangan mahasiswa membutuhkan buku itu hanya untuk referensi kuliah yang dibaca sebentar saja. Sangat jarang, atau bisa dibilang langka sekali tiap rumah, desa, mahasiswa punya perpustakaan. Minimal menyimpan semua referensi kuliah. Entahlah apa yang mereka pelajari selama ini.

Sementara para pemilik modal dan kalangan intelektual sekarang banyak memilih berinvestasi pada manusianya. Membangun human risources, dengan mendirikan sekolah. Setelah berdiri, sekolah itu berbiaya sangat mahal. Lihat saja, pak Amien Rais mendirikan SMA Budi Mulya dengan biaya termahal di Jogja. Juga banyak contoh lain. Sementara investasi fisik dan butuh biaya operasional seperti perpustakaan tidak ada yang mendirikan. Saya kira inilah yang secara perlahan menghancurkan tradisi intelektual bangsa kita. Pendidikan yang baik adalah yang berbiaya mahal. Karena berbiaya mahal maka tiap orang tua dan siswa dipaksa memenuhi kebutuhan membayar. Caranya..? terserah. Bagi yang tidak mampu, jangan berani-berani daftar sekolah.

Padahal Muhammadiyah dan Taman Siswa mendirikan sekolah dulu dengan gratis hanya untuk mencerdaskan bangsa. Tidak jarang guru, pemilik sekolah membanting tulang menutupi biaya operasional dengan menggadaikan barang pribadi atau meminta donor pada pengusaha. Yang penting generasi bangsa menjadi cerdas. Dan banyak pengusaha waktu itu mau membantu. Pada tradisi NU, mendirikan pesantren dengan biaya seikhlasnya dari pada orang tua santri. Yang punya beras menyumbang beras, yang punya ketela disumbang ketela. Dan masing-masing ikhlas menerima. Masalah kualitas, jelas unggulan karena guru, kyai memiliki integritas dalam mendidik, mencerdaskan. Bangga jika murid, santri menjadi cerdas, walaupun tanpa digaji.

Kembali pada tradisi adanya perpustakaan desa di Korea Selatan. Di Indonesia, kayaknya hal yang hampir mustahil. Lihat saja, mana ada orang dengan kemampuan modal tinggi punya motifasi beramal dengan mendirikan perpustakaan. Jangankan akan menghasilkan cash back, malah tiap bulan kita dituntut mengeluarkan biaya operasional. Sampai-sampai pada paruh 2008, perpustakaan Hatta yang sangat lengkap terpaksa tutup. Semua buku disumbangkan ke UGM, tapi lacur, ¾ buku yang disumbangkan berhasil dicuri.
Ada contoh tradisi dalam umat Islam pada abad pertengahan yang sekarang sudah ditinggalkan. Pada zaman kekhalifahan Abbasiyah dikenal dengan kemajuan intelektual yang sangat tinggi. Masing-masing pengusaha punya obsesi dan berlomba-lomba dalam mendirikan perpustakaan. Di tiap kota berdiri perpustakaan megah dengan jutaan koleksi. Perpustakaan pribadi pengusaha mencapai ratusan ribu koleksi. Perlombaan antar pengusaha dan mengoleksi buku sampai-sampai tiap buku dihargai dengan seberat timbangan emas. Apakah itu buku terjemahan atau karangan sendiri.

Muhallab bin Abi Sur’ah, salah seorang Jenderal yang ternama dari dinasti Abbasiyah pernah berpendapat bahwa untuk mencapai kemenangan dan kemerdekaan umat hendaklah jangan lupakan dua perkara, yaitu: persenjataan dan perpustakaan. Oleh karena itu pada suatu hari, tatkala anaknya hendak keluar berjalan-jalan, dinasehatkan jika hendak pergi ke pasar, janganlah menoleh kekanan dan kekiri, jangan berhenti, melainkan pada dua tempat, yaitu tempat orang menjual senjata dan pada tempat orang menjual buku.  “iza waqaftum fil aswaqi, fala taqifu illa ‘ala man jabi’us silaha au jabi’ul kutub".

Abad ke-10 M adalah zaman keemasan dalam sejarah Spanyol dan Asbania. Masa pemerintahan khalifah ‘Abd al-Rahman III digantikan oleh Hakam II, bangsa yang mulanya terpecah belah, bersatu menuju kemajuan. Hakam II adalah pecinta ilmu pengetahuan bandingannya. Diutus orang-orang membeli manuskrip kemana-mana, dan dalam istanannya terkumpul 400.000 naskah. Istananya penuh dengan pegawai perpustakaan, tukang salin dan tukang jilid. Dan sebagian besar koleksi sudah dibaca dengan memberikan catatan didalamnya. Abdul Faradj, pengarang kitab Al-Aghani dihadiahi 1000 dinar untuk bisa memiliki naskah kitabnya.

Demikian Muslimin 10 abad yang lalu memandang tak ada amal yang ditinggikan lebih dari pada mendirikan gedung perpustakaan tau mewakafkan buku.

Zaman Belanda, terdapat beberapa perpustakaan seperti “bataviaasch Genootschap” dengan kekayaan kitab tidak kurang dari 200.000 jilid banyaknya. Sekarang yang bisa dijadikan rujukan berburu buku di perpustakaan Petra Surabaya, perpustakaan Ignatius Yogyakarta, Perpustakaan Nasional. pun jumlahnya sedikit sekali dibandingkan dengan perpustakaan Biblictheque Nationale di Paris yang lebih dari 4.500.000 jilid kitab. Perpustakaan umum di Leningrad kekayaannya mencapai 4.300.000 jilid kitab dan Congres Library di Washingthon tidak kurang dari 4.200.000 buku.

Amati saja, tiap film Hollywood, film Korea, Mandarin selalu tersedia buku di ruang tamu, kamar. Film apapun.
Nah, pertanyaannya, berapa banyak buku yang kita koleksi..??