Pages

Kamis, 19 September 2013

Tersisa Suriah Yang Masih Radikal


Pasca Perang Dunia ke II, cerita tentang konflik Timur Tengah selalu menghiasi lembaran berita yang muncul. Hal itu dimulai sejak proklamasi kemerdekaan Israel hingga kini, konflik antar negara di Timur Tengah terus berlanjut. Problem politik paling krusial di Timur Tengah adalah konflik negara Yahudi Israel dengan negara-negara Timur Tengah. Namun dalam setiap peperangan melawan Israel, hampir tidak ada kata sepakat menyerang bersama-sama. Satu sama lain memilih menjadi penonton, dan sebagian hanya sebagai pemandu sorak.

Israel memang sengaja ditempatkan di titik episentrum konflik Timur Tengah. Dengan begitu, keberadaan Israel mampu menciptakan konflik spiral (spiralling violence). Seperti pendapat J.B. Kelly bahwa salah satu sumber ketidakstabilan Timur Tengah adalah ramifikasi konflik Arab - Israel, disamping dinamika permusuhan di antara bangsa-bangsa Arab sendiri. Perbedaan rasial dan antipati sektarian yang begitu endemik serta pengaruh ide politik radikal dan dampak kekayaan yang melimpah dari minyak merupakan peristiwa yang terus berkelanjutan dan bisa menjadi dasar permusuhan yang tiada akhir.

Adanya kesamaan agama (Islam) walaupun berbeda aliran, agaknya tidak mampu menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Pertentangan ideologis yang mendasar dibuat semakin mengerucut dengan mengangkat isu klasik Sunni - Syiah. Padahal dalam tradisi politik, mereka relatif sama, yaitu budaya politik yang masih menonjolkan nilai-nilai primordial yang diorientasikan kepada musyawarah atau mufakat. Sehingga persoalan kebersamaan senasib sepenanggungan masih dapat dikatakan sebagai variabel yang potensial.

Jika sampai negara Timur Tengah bersatu, dengan potensi minyak yang luar biasa banyak, akan menggeser dominasi Barat (AS, Inggris dan Prancis) dalam peta politik dunia. Hal itu sudah terbukti ketika negara Arab kalah dalam perang melawan Israel, kemudian melancarkan serangan dengan embargo minyak ke Barat pada tahun 70-an. Maka Barat perlu menempatkan Israel sebagai alasan politis mereka untuk menciptakan ketidakstabilan. Dengan begitu, bangsa Arab sangata fariatif dalam mempersepsi kehadiran Zionisme. Akibatnya, bangsa Arab terpecah menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok radikal yang terdiri dari Suriah, Libya, Irak, Iran. Kedua, kelompok moderat diantaranya Mesir, Arab Saudi, Aljazair. Ketiga, adalah kelompok yang memanfaatkan keuntungan politis maupun kompetitif di balik ketegangan Timur Tengah.

Ada kekhawatiran, bahwa kemenangan Israel yang bertubi-tubi akan menambah kelompok radikal di Timur Tengah. Setelah selesai perang dingin AS dan US, peta pilitik bergeser ke negara-negara Islam yang makin radikal dan sukses dalam membangun ekonomi, politik dan militer. Secara tepat, AS melihat adanya ancaman potensial bagi kepentingan mereka di negara-negara Muslim. Untuk itu didesain model ancaman baru dalam skala global dengan melahirkan “terorisme”. Isu ini digunakan AS menginvasi Afganistan dan Irak. Amerika terus memobilisasi dukungan dengan mengancam semua negara di dunia dengan doktrin unilateralnya yang intimidatif, “if you’re not with us, you’re against us”, (kalau anda tidak mendukung kami – dalam perang melawan terorisme – anda adalah musuh kami).

Terpaksa hampir semua negara Muslim, mengikuti ancaman AS. Bagi presiden Pakistan, Pervez Musharraf, tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan dukungan kepada Al-Qaidah dan Taliban, meskipun berlawanan dengan aspirasi rakyatnya. Presiden Mesir Hosni Mubarrak yang sejak lama menikmati bantuan keuangan tidak kurang dari 2,0 milyar dolar setahunnya, jumlah terbesar kedua setelah Israel di Timur Tengah langsung mendukung. Apalagi cukup banyak anggota Al-Qaidah yang berasal dari negeri itu, termasuk orang kedua Al-Qaidah Dr. Ayman Al-Zawahiri, seorang intelektual asal Mesir. Ayman Al-Zawahiri diprediksi yang menggantikan posisi Osama Bin Laden pasca terbunuhnya di Pakistan.

Afganistan, negeri Muslim yang miskin diratakan dengan tanah karena dosa Afganistan “menampung kelompok teroris Al-Qaidah”. Padahal Al-Qaidah adalah buatan Amerika pada tahun 1979 saat melawan Uni Soviet. CIA melatih, membiayai dan menempatkan Al-Qaidah di Afganistan. Menyusul Iraq, negeri 1001 malam yang sudah loyo mempertahankan diri setelah diembargo selama 12 tahun. Irak berhasil dibumi-hanguskan dengan dalih menyimpan senjata pemusnah massal dan melindungi Al-Qaidah.

Perburuan terhadap Al-Qidah selesai setelah Osama Bin Laden tewas di Pakistan. Dengan tiba-tiba kemudian muncul musim semi Arab (Arab Spring). Arab spring lebih disebabkan konflik laten internal yang sudah sangat lama dan semakin membusuk. Ikatan primordial yang masih sangat kuat di Timur Tengah ikut memainkan peran dalam konstelasi peralihan kekuasaan yang ada. Trias politica Timur Tengah yang dominan ditentukan oleh militer ini menjadi penentu arah konflik internal dan eksternal. Namun hal yang dilupakan, negara-negara yang mengalami gejolak adalah negara yang selama ini mendukung perjuangan Palestina dari pembebasan penjajahan Israel. Mereka menampung warga Palestina, memberi fasilitas dan aktif mengkampanyekan kebrutalan Israel ke seluruh dunia. Ada Libya, Yordania, Suriah, Tunisia dan Mesir. Pada konteks Arab spring yang berhasil menggeser kepemimpinan radikal Moamar Qhadafi dari tampuk kepresidenan. Tiga kekuatan yang mengerucut pada sosok Moamar Qhadafi berhasil ditumbangkan dengan pemberontakan sipil.

Yang menarik pada kasus Mesir. Hosni Mubarrak adalah sosok yang dekat dengan AS. Pada awal kekuasaan Mubarrak menggantikan Sadat, lebih moderat dengan membiarkan partai-partai dari berbagai aliran. Seperti Al-Ikhwanul Muslimun, yang sejak setelah Nasser terbunuh keberadaannya dilarang. IM mendapat angin segar dengan bisa mengikuti pemilu, namun terus saja kalah, jauh dibelakang NDP yang merupakan partai pendukung Mubarrak. Mubarrak yang selama ini membiarkan militan Muslim ada dinegaranya dan aktif membantu rakyat Palestina harus digulingkan. Isu bisa dibuat apa saja. Muncul IM yang beraliran radikal dan lebih primordial terhadap kelompoknya. Setelah memegang kekuasaan, hanya dalam tempo satu tahun berhasil dikudeta. Sepertinya Barat paham betul tabiat IM yang sangat primordial. Ikatan itu dijadikan alasan mengkudeta Mursi.

Arab Spring tinggal menyisakan Suriah. Pemerintahan Suriah sejak munculnya Israel sangat jarang terjadi kontak senjata. Juga Suriah sangat jarang kontak senjata dengan negera-negara Arab. Namun dalam aliran politik luar negeri termasuk yang radikal. Keamanan negara Suriah banyak menjamin keberadaan kelompok militan. Suriah juga aktif membantu Libanon, negara tetangga yang kecil saat perang dengan Israel.

Suriah memang pada dekade 1980-an sangat menjaga jarak. Bahkan dalam beberapa konflik Libanon dan Palestina vs Israel, Suriah membantu Kristen Maronit (yang berada di Libanon). Damaskus yang sejak awal menjalin sekutu dengan Iran terus meningkatkan kekuatan persenjataan. Sejak peta politik berubah dengan naiknya Ahmadinejad, Suriah aktif mendukung beberapa milisi di Libanon Selatan khususnya Hizbullah. Hizbullah makin kuat posisinya di Libanon Selatan setelah berhasil mematahkan serangan Israel tahun 2006. Kejengkelan Israel semakin menjadi-jadi. Satu-satunya jalan adalah penggulingan kekuasaan. Rezim Bashar al-Assad yang dinilai diktator dan tidak memberi kebebasan terhadap rakyat.

Meletusnya perang sipil di Suriah pada medio 2012 digunakan Israel dan sekutunya untuk melakukan intervensi langsung terhadap politik Suriah. Mereka berdalih bahwa Suriah telah melakukan pembantaian massal rakyat sipil. Awal perang sipil di Suriah, milisi Tentara Pembebasan Suriah mendapat angin segar karena dibantu banyak negara. Sampai setahun perang berjalan posisi Assad tetap kokoh dan berhasil merebut daerah-daerah yang dikuasai milisi. Israel dan AS tidak menyangka bahwa Asad akan melawan. Tidak seperti Moammar Khadafi yang terus terdesak dan terbunuh.

Laporan intelijen Israel banyak kecolongan. Suriah dianggap negara yang tidak memiliki tekhnologi persenjataan yang mampu menandingi tekhnologi Israel. Solusi terakhir adalah dengan menuduh Suriah memiliki senjata bom kimia. Sejenis senjata pemusnah massal yang dituduhkan AS terhadap Iraq. Propaganda ini digunakan untuk mengerahkan sekutu AS mengeroyok Suriah. Iran dalam hal ini sebagai sekutu dekat Suriah tentunya tidak akan tinggal diam. Begitu pula Turki yang merupakan tetangga dekat Suriah, akan menjadi negara limpahan pengungsi sangat banyak nantinya. Perang Suriah akan mendekati pergolakan besar di Timur Tengah. Dan saya kira akan membuka sejarah baru konflik yang berbeda selama ini. Dua imperium besar muslim (Turki dan Iran) yang ingin mengokohkan diri sebagai panglima Timur Tengah akan ikut andil dalam perang.

Tidak ada komentar: