Pasca Perang Dunia ke
II, cerita tentang konflik Timur Tengah selalu menghiasi lembaran berita yang
muncul. Hal itu dimulai sejak proklamasi kemerdekaan Israel hingga kini, konflik
antar negara di Timur Tengah terus berlanjut. Problem politik paling krusial di
Timur Tengah adalah konflik negara Yahudi Israel dengan negara-negara Timur
Tengah. Namun dalam setiap peperangan melawan Israel, hampir tidak ada kata
sepakat menyerang bersama-sama. Satu sama lain memilih menjadi penonton, dan
sebagian hanya sebagai pemandu sorak.
Israel memang sengaja
ditempatkan di titik episentrum konflik Timur Tengah. Dengan begitu, keberadaan
Israel mampu menciptakan konflik spiral (spiralling violence). Seperti pendapat
J.B. Kelly bahwa salah satu sumber ketidakstabilan Timur Tengah adalah
ramifikasi konflik Arab - Israel, disamping dinamika permusuhan di antara
bangsa-bangsa Arab sendiri. Perbedaan rasial dan antipati sektarian yang begitu
endemik serta pengaruh ide politik radikal dan dampak kekayaan yang melimpah
dari minyak merupakan peristiwa yang terus berkelanjutan dan bisa menjadi dasar
permusuhan yang tiada akhir.
Adanya kesamaan agama
(Islam) walaupun berbeda aliran, agaknya tidak mampu menciptakan perdamaian di
Timur Tengah. Pertentangan ideologis yang mendasar dibuat semakin mengerucut
dengan mengangkat isu klasik Sunni - Syiah. Padahal dalam tradisi politik, mereka
relatif sama, yaitu budaya politik yang masih menonjolkan nilai-nilai
primordial yang diorientasikan kepada musyawarah atau mufakat. Sehingga persoalan
kebersamaan senasib sepenanggungan masih dapat dikatakan sebagai variabel yang
potensial.
Jika sampai negara
Timur Tengah bersatu, dengan potensi minyak yang luar biasa banyak, akan
menggeser dominasi Barat (AS, Inggris dan Prancis) dalam peta politik dunia. Hal
itu sudah terbukti ketika negara Arab kalah dalam perang melawan Israel,
kemudian melancarkan serangan dengan embargo minyak ke Barat pada tahun 70-an.
Maka Barat perlu menempatkan Israel sebagai alasan politis mereka untuk
menciptakan ketidakstabilan. Dengan begitu, bangsa Arab sangata fariatif dalam mempersepsi
kehadiran Zionisme. Akibatnya, bangsa Arab terpecah menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok radikal yang terdiri
dari Suriah, Libya, Irak, Iran. Kedua,
kelompok moderat diantaranya Mesir, Arab Saudi, Aljazair. Ketiga, adalah kelompok yang memanfaatkan keuntungan politis maupun
kompetitif di balik ketegangan Timur Tengah.
Ada kekhawatiran, bahwa
kemenangan Israel yang bertubi-tubi akan menambah kelompok radikal di Timur
Tengah. Setelah selesai perang dingin AS dan US, peta pilitik bergeser ke
negara-negara Islam yang makin radikal dan sukses dalam membangun ekonomi,
politik dan militer. Secara tepat, AS melihat adanya ancaman potensial bagi
kepentingan mereka di negara-negara Muslim. Untuk itu didesain model ancaman
baru dalam skala global dengan melahirkan “terorisme”. Isu ini digunakan AS
menginvasi Afganistan dan Irak. Amerika terus memobilisasi dukungan dengan
mengancam semua negara di dunia dengan doktrin unilateralnya yang intimidatif,
“if you’re not with us, you’re against us”,
(kalau anda tidak mendukung kami – dalam perang melawan terorisme – anda adalah
musuh kami).
Terpaksa hampir semua
negara Muslim, mengikuti ancaman AS. Bagi presiden Pakistan, Pervez Musharraf,
tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan dukungan kepada Al-Qaidah dan
Taliban, meskipun berlawanan dengan aspirasi rakyatnya. Presiden Mesir Hosni
Mubarrak yang sejak lama menikmati bantuan keuangan tidak kurang dari 2,0
milyar dolar setahunnya, jumlah terbesar kedua setelah Israel di Timur Tengah langsung
mendukung. Apalagi cukup banyak anggota Al-Qaidah yang berasal dari negeri itu,
termasuk orang kedua Al-Qaidah Dr. Ayman Al-Zawahiri, seorang intelektual asal
Mesir. Ayman Al-Zawahiri diprediksi yang menggantikan posisi Osama Bin Laden
pasca terbunuhnya di Pakistan.
Afganistan, negeri
Muslim yang miskin diratakan dengan tanah karena dosa Afganistan “menampung
kelompok teroris Al-Qaidah”. Padahal Al-Qaidah adalah buatan Amerika pada tahun
1979 saat melawan Uni Soviet. CIA melatih, membiayai dan menempatkan Al-Qaidah
di Afganistan. Menyusul Iraq, negeri 1001 malam yang sudah loyo mempertahankan
diri setelah diembargo selama 12 tahun. Irak berhasil dibumi-hanguskan dengan
dalih menyimpan senjata pemusnah massal dan melindungi Al-Qaidah.
Perburuan terhadap
Al-Qidah selesai setelah Osama Bin Laden tewas di Pakistan. Dengan tiba-tiba
kemudian muncul musim semi Arab (Arab Spring). Arab spring lebih disebabkan
konflik laten internal yang sudah sangat lama dan semakin membusuk. Ikatan
primordial yang masih sangat kuat di Timur Tengah ikut memainkan peran dalam
konstelasi peralihan kekuasaan yang ada. Trias politica Timur Tengah yang
dominan ditentukan oleh militer ini menjadi penentu arah konflik internal dan
eksternal. Namun hal yang dilupakan, negara-negara yang mengalami gejolak
adalah negara yang selama ini mendukung perjuangan Palestina dari pembebasan
penjajahan Israel. Mereka menampung warga Palestina, memberi fasilitas dan
aktif mengkampanyekan kebrutalan Israel ke seluruh dunia. Ada Libya, Yordania,
Suriah, Tunisia dan Mesir. Pada konteks Arab spring yang berhasil menggeser
kepemimpinan radikal Moamar Qhadafi dari tampuk kepresidenan. Tiga kekuatan
yang mengerucut pada sosok Moamar Qhadafi berhasil ditumbangkan dengan
pemberontakan sipil.
Yang menarik pada kasus
Mesir. Hosni Mubarrak adalah sosok yang dekat dengan AS. Pada awal kekuasaan
Mubarrak menggantikan Sadat, lebih moderat dengan membiarkan partai-partai dari
berbagai aliran. Seperti Al-Ikhwanul Muslimun, yang sejak setelah Nasser
terbunuh keberadaannya dilarang. IM mendapat angin segar dengan bisa mengikuti
pemilu, namun terus saja kalah, jauh dibelakang NDP yang merupakan partai
pendukung Mubarrak. Mubarrak yang selama ini membiarkan militan Muslim ada
dinegaranya dan aktif membantu rakyat Palestina harus digulingkan. Isu bisa
dibuat apa saja. Muncul IM yang beraliran radikal dan lebih primordial terhadap
kelompoknya. Setelah memegang kekuasaan, hanya dalam tempo satu tahun berhasil
dikudeta. Sepertinya Barat paham betul tabiat IM yang sangat primordial. Ikatan
itu dijadikan alasan mengkudeta Mursi.
Arab Spring tinggal
menyisakan Suriah. Pemerintahan Suriah sejak munculnya Israel sangat jarang
terjadi kontak senjata. Juga Suriah sangat jarang kontak senjata dengan
negera-negara Arab. Namun dalam aliran politik luar negeri termasuk yang
radikal. Keamanan negara Suriah banyak menjamin keberadaan kelompok militan.
Suriah juga aktif membantu Libanon, negara tetangga yang kecil saat perang
dengan Israel.
Suriah memang pada
dekade 1980-an sangat menjaga jarak. Bahkan dalam beberapa konflik Libanon dan
Palestina vs Israel, Suriah membantu Kristen Maronit (yang berada di Libanon). Damaskus
yang sejak awal menjalin sekutu dengan Iran terus meningkatkan kekuatan
persenjataan. Sejak peta politik berubah dengan naiknya Ahmadinejad, Suriah
aktif mendukung beberapa milisi di Libanon Selatan khususnya Hizbullah. Hizbullah
makin kuat posisinya di Libanon Selatan setelah berhasil mematahkan serangan
Israel tahun 2006. Kejengkelan Israel semakin menjadi-jadi. Satu-satunya jalan
adalah penggulingan kekuasaan. Rezim Bashar al-Assad yang dinilai diktator dan tidak
memberi kebebasan terhadap rakyat.
Meletusnya perang sipil
di Suriah pada medio 2012 digunakan Israel dan sekutunya untuk melakukan
intervensi langsung terhadap politik Suriah. Mereka berdalih bahwa Suriah telah
melakukan pembantaian massal rakyat sipil. Awal perang sipil di Suriah, milisi Tentara
Pembebasan Suriah mendapat angin segar karena dibantu banyak negara. Sampai
setahun perang berjalan posisi Assad tetap kokoh dan berhasil merebut
daerah-daerah yang dikuasai milisi. Israel dan AS tidak menyangka bahwa Asad
akan melawan. Tidak seperti Moammar Khadafi yang terus terdesak dan terbunuh.
Laporan intelijen
Israel banyak kecolongan. Suriah dianggap negara yang tidak memiliki tekhnologi
persenjataan yang mampu menandingi tekhnologi Israel. Solusi terakhir adalah
dengan menuduh Suriah memiliki senjata bom kimia. Sejenis senjata pemusnah
massal yang dituduhkan AS terhadap Iraq. Propaganda ini digunakan untuk
mengerahkan sekutu AS mengeroyok Suriah. Iran dalam hal ini sebagai sekutu
dekat Suriah tentunya tidak akan tinggal diam. Begitu pula Turki yang merupakan
tetangga dekat Suriah, akan menjadi negara limpahan pengungsi sangat banyak
nantinya. Perang Suriah akan mendekati pergolakan besar di Timur Tengah. Dan
saya kira akan membuka sejarah baru konflik yang berbeda selama ini. Dua
imperium besar muslim (Turki dan Iran) yang ingin mengokohkan diri sebagai
panglima Timur Tengah akan ikut andil dalam perang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar