Pages

Selasa, 25 Juni 2013

Merubah Masyarakat Menurut Ibn Khaldun


“sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai 40 tahun, dia berdoa: ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tua ku, dan agar aku dapat berbuat kepajikan yang Engkau ridai” (Q.S Al-Ahqaf (46) ayat 15)

Perubahan sosial dalam konsep sosiologi yang kita kenal sementara ini ada 2 jenis: perubahan struktural fungsional yang dikenalkan oleh Talcot Parson, perubahan sosial Marx dengan pendekatan konflik.

Atau menurut nalar masyarakat yang saat ini berkembang dengan pendekatan bidimensional, pada masyarakat tua, tradisional yang penuh dengan mitos dan simbol (Islam, Kristen, Yahudi, Majusi) setiap kali timbul permasalahan cenderung kembali mencari petunjuk dan inspirasi ke masa lampau. Masa lampau identik dengan masa keemasan. “kembali kepada warisan leluhur”, itulah jaminan ketentraman dan kebahagiaan.

Menurut Ibn Khaldun sendiri, perubahan sosial merupakan kenyataan sejarah, jadi bukan perubahan sosial sebagai tujuan, karena itu merupakan fakta sejarah. Tetapi apakah, siapakah dan mengapa perubahan sosial itu mesti terjadi? Semua teori sosiologi selalu memasukkan unsur terpenting dalam perubahan sosial yaitu para-penguasa, pemimpin yang memegang peran sentral dalam menentukan perubahan sosial. Dari gagasan Plato, Kong Fu Tse, Machiavelli, Mosca, Suzanne Keller, Bottomore semua menjelaskan peran sentral elite dalam perubahan sosial.

Gagasan Ibn Khaldun tentang perubahan sosial terjadi selama 120 tahun, terangkai atas tiga generasi yang masing-masing berumur selama 40 tahun. Peradaban yang bersangkutan akan berakhir pada generasi keempat untuk kemudian sirna pada generasi kelima. Itulah gagasan perubahan sosial Ibn Khaldun yang biasa kita kenal dengan teori daur sejarah. Khaldun mendapat inspirasi dari Al-Qur’an surat Al-Ahqaf (46) ayat 15. Gagasan daur sejarah sebagai fakta sosial harus ditopang dengan penjelasan kualitas warga masyarakatnya yang kita kenal dengan konsep ashabiyyah.

Ashabiyyah biasa kita kenal dengan solidaritas sosial dengan serba aneka bentuk dan tahapannya, sesuai dengan peradaban yang ada. dengan ashabiyyah yang tinggi maka kontrol sosial akan menguat. Jadi tanpa mengabaikan elite yang juga berfungsi sebagai kontrol sosial (istilah Susanne Keller) juga dibutuhkan warga yang memiliki ashabiyyah tinggi yang ditandai dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi. Rasa harga diri, kehormatan hidup, namus, muru’ah, rujuliyah, saja’ah (membela kehormatan, nilai harga hidup, kejantanan, kegagahan), semua sifat ini ada pada bangsa Arab jahiliyah. Mereka menyembah berhala, tapi pantang berkhianat terhadap amanat. Mereka mengubur hidup anak perempuannya, bukan takut karena sandang dan pangan. Tapi takut sekali kalau nanti membawa aib, dan dari pada aib mending hangus jadi debu (naar wala aar).

Hormat pada tamu ini satu tradisi jahiliyah yang peka. Biar diri sendiri lapar tidak makan, tamu harus dihormati. Bukan terbatas cuma pada menghormati tamu dengan makan minum, tapi tanggung jawab moral dan etik begitu kuat dalam menjaga keselamatan tamu. Kalau ada tamu terancam atau dikejar musuh, tuan rumah lebih dahulu sedia mati demi keselamatan tamu. Orang Arab merasa hina dan aib sekali menikam musuh dari belakang, membunuh musuh yang sedang tidur, atau membunuh musuh yang sudah menyerah.

Inilah saja’ah, ghirah dan namus bangsa Arab pra Islam. Secara kultural, spiritual, identikal, mereka yang bernama Arab jahiliyah mempunyai pribadi yang tinggi. Bayangkan, orang yang tadinya menyembah berhala dan selalu siap dengan pedang terhunus untuk membunuh anak perempuan. Sesudah mengenal Tuhan, orang itu menggigil gemetar dan pedangnya jatuh, karena dia mendengar anak perempuan sedang membaca kalimat Tuhan. Siapa tidak kenal Umar Bin Khatab yang beringas, berani, tinggi hati, tidak kenal kompromi dan tegas? Umar itulah yang semula menjadi musuh Nabi, kemudian menjadi sahabat Nabi yang paling setia dan gigih. Kenapa bangsa yang semula jahil, kemudian dalam waktu yang relatif singkat menggemparkan seluruh peradaban manusia yang ada?

Menurut Dr. Steyn Parve, Islam muncul cepat sebagai peradaban paripurna karena ada dua hal. Pertama, karena bangkitnya rasa harga diri manusia. bangkit dari belenggu kegelapan, bangkit dari penindasan akal dan piki- ran, bangkit dari ikatan dan kurungan penindasan dogma dan kredo sempit. Kedua, identifikasi dan personifikasi kultural jahiliyah yang tinggi, disepuh dan disublimasikan oleh Islam sehingga timbul mumbudaya karak- ter ghirah, syaraf, namus dan izzun nafs.

Ketinggian nilai lain dari identitas jahiliyah Arab, di sepuh gemilang oleh ghirah (cemburu), syaraf, namus dan izzun nafs dari Islam. Tamadun jahiliyah di sublimasi oleh tamadun islamiyah, dari sinilah lahir apa yang oleh Gibb dikatakan sebagai not only a system of religion, but a complete civilization. Izzun nafs adalah sense of self respect. Inilah yang dinamai pemuda di Minangkabau dengan ”Arang tercoreng di kening, malu tergaris di muka”. Kalau rasa malu menimpa diri, tidak ada penebusnya kecuali nyawa. Hal ini juga yang melatarbelakangi tradisi ”carok” di Madura dan tradisi ”balas darah” di Sulawesi Selatan.

Apabila seorang pemuda dibuang karena membunuh, menebus kehormatan yang tersinggung, maka sampai dalam penjara, dia merasa lebih mulia daripada teman sesama orang hukuman yang dibuang karena merampok dan menyamun. Dan bila dia telah dikeluarkan dari penjara, dia dibelikan oleh keluarganya pakaian baru, dan dia merasa bangga sebab dia telah menyelsaikan tugasnya, membela kehormatan diri dan keluarganya. Harga diri akan ada, kalau kita sendiri mampu memberikan harga itu pada diri sendiri. Nabi Muhammad saw berhasil selam 23 tahun merubah bangsa yang semula jahiliyah menjadi bangsa yang menggemparkan ”umam, muluk wal tarich” (ummat sedunia, kerajaan dan sejarah).

Masyarakat ashobiyyah baru bisa digerakkan menjadi gelombang dahsyat yang mampu melakukan perubahan sosial memang sangat ditentukan oleh pemimpin se kaliber Nabi Muhammad. Caranya? Sederhana: Tiga jalur kepemimpinan Muhammad begitu sederhana dan berhasil dalam dimensi yang total. Pertama, Nabi memperbaiki diri dan keluarga. Kedua, Nabi memperbaiki lingkungan dan ketiga, baru masyarakat luas. Sedang dalam metode dan tehniknya, Nabi langsung memberikan contoh segala hal dari dirinya dulu. Pola kepemimpinan itu terkenal dengan sebutan ”Ibda binafsik”, mulailah dengan dan dari diri sendiri dulu.


Tidak ada komentar: