Masalah kepemimpinan adalah masalah klasik yang terus berulang dan mengalami modifikasi makna sesuai dengan perkembangan dan dinamika masyarakat yang melingkupinya. Di Indonesia kompleksitas permasalahan kepemimpinan itu terasa semakin membengkak apabila dihubungkan dengan konteks struktural, kultural dan keagamaan. Perjalanan sejarah Indonesia yang demikian panjang, ternyata tidak dapat menyelesaikan persoalan yang disebabkan oleh perbedaan tersebut. Bahkan masyarakat semakin terpecah dalam berbagai kelompok, aliran, etnis dan geografis, dan seringkali perbedaan itu menyebabkan konflik yang berkepanjangan.
Langgengnya satu konsepsi kepemimpinan selain karena faktor struktur
kepemimpinan berupa ”siapa” yaitu subyek dan obyek dalam kepemimpinan (antara
yang memimpin dan yang di pimpin), juga landasan-landasan normatif (satu tata
nilai yang dianut) yang diyakini dan dijadikan prinsip dalam kepemimpinan.
Landasan normatif ini bisa berasal dari keper- cayaan keagamaan atau norma yang
dianut masyarakat tersebut untuk dijadikan alat legitimasi struktur yang
melembaga pada kehidupan sosial politik masyarakat. Persoalan yang muncul pada
dewasa ini atau pada globalisasi memberikan peluang yang cukup signifikan
adanya mobilitas sosial horizontal antar benua, juga tidak menutup kemungkinan
mobilitas sistem nilai kepemimpinan yang dianut masyarakat tertentu.
Satu contoh kepemimpinan struktural yang langgeng dari dari awal masuknya
Islam di Indonesia dan Islam menjadi alat legitimasi kekuasaannya adalah
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai lambang kebudayaan Jawa. Walaupun
mobilitas sosial masyarakat Jawa sedang mengalami modernisasi karena adanya
interaksi antar budaya. Namun dengan sendirinya ”masyarakat Jawa” masih menjadi
pelestari dan penjaga Keraton sebagai simbol dan pusat kebudayaan Jawa.
Kesadaran masyarakat Jawa untuk terus mempertahankan budaya Jawa karena selain
basis religiusitasnya adalah Islam juga terbukti mampu mengatasi berbagai
persoalan kontemporer karena kemajuan tekhnologi. Selain itu sejarah membuktikan
pola-pola kepemimpinan yang muncul kemudian ternyata gagal menyelesaikan
persoalan yang multidimensional dan kian akut.
Jauh sejak sebelum jaman Majapahit, kebudayaan Jawa sering dijuluki adiluhung (kebajikan luhur atau
nilai-nilai yang agung). Selama berabad-abad kebudayaan Jawa sangat berpengaruh
di seluruh penduduk nusantara, selain karena beberapa kali Jawa yang diwakili
kerajaan-kerajaan yang membentang dari Sumatra sampai Filipina selatan dan
sekaligus sebagai benteng penyebaran dan yang mempertahankan budaya Jawa
sebagai falsafah hidup. Bebera- pa kerajaan yang muncul silih berganti antara
lain Majapahit, Mataram Hindu dan Islam, Singasari, Pajang dll. Secara geografis, tanah Jawa terkenal
subur, topografi yang datar, dan banyak mengandung sumber daya alam.
Setelah Nusantara dipersatukan kembali dalam negara kesatuan republik
Indonesia, orang-orang Jawa tampil terdepan dalam kepemimpinan nasional. Ciri
kepemimpinan nasional pun terpengaruh dengan gaya kepemimpinan Jawa. Dengan
demikian, dalam rangka memajukan kebudayaan nasional, budaya Jawa memberikan
sumbangsih yang besar sekali maknanya. Kebesaran budaya Jawa ditunjukkan antara
lain, dimilikinya bahasa dan bentuk tulisan sendi- ri. Ciri ini membuktikan
bahwa Jawa sejak lama sudah memiliki karakter dalam memajukan kehidupan
masyarakatnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat kebesaran suatu bangsa karena
memiliki bahasa dan bentuk tulisan sendiri. Misal, Jepang, China, India,
Thailand yang seka- rang ini dijadikan prototipe
negara maju dan berkembang.
Sumbangsih kebudayaan Jawa yang sampai sekarang dipakai dalam istilah
nasional antara lain semboyan negara Bhineka
Tunggal Ika, yang berasal dari kata mutiara yang dirangkai oleh Empu
Tantular dalam kitab sutasoma, seorang pujangga Majapahit
pada abad ke-13 M. Keluasan falsafah hidup orang Jawa jauh merasuk dalam
berbagai sisi kehidupan masyarakat nusantara. Istilah ing ngarsa sung tulada; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani
(di depan memberi keteladanan; di tengah mengembangkan prakarsa; di belakang
memberikan dukungan kepada rakyat) adalah semboyan dalam bidang pendidikan yang
diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia).
Tindakan-tindakan tersebut mencer- minkan sikap demokratis yang ada jauh
sebelum negara Barat mewacanakan demokrasi.
Seperti banyak bangsa besar lain yang hidup dan
berkembang menggunakan etika perilaku (norma-norma) yang agung. Jepang sebagai prototipe negara paling maju dan modern
di dunia, disana kita masih dengan mudah menjumpai wanita-wanita Jepang dengan
pakaian nasional Jepang (kimono), tradisi jamuan minum sake dan ucapan ”arigato gozhaimasu” sambil membungkuk.
Di banyak desa di Jawa kita bisa melihat aktivitas warga dengan semangat
bergotong royong membangun atau memperbaiki fasilitas publik atau rumah
penduduk. pada saat yang lain kita bisa melihat banyak orang Jawa yang ewuh pekewuh (kerendahan hati, low profile). Ini bisa dilihat dengan
berkembangnya budaya roso (perasaan
halus yang terdalam) yang menjadi daya ukur.
Etika kepemimpinan orang
Jawa
Laku orang Jawa sangat kental dengan nilai-nilai yang universal.
Universalitas etika orang Jawa bisa kita telusuri dari berbagai falsafah hidup
yang dipegang erat dan terus dipertahan- kan menjadi laku keseharian. Berbeda
dengan pengertian banyak orang yang menyebutkan bahwa etika orang Jawa hanya
berhubungan dengan sopan santun antar sesama manusia serta tingkah laku
lahiriah. Etika Jawa lebih ditekankan pada ”etika pengertian” dalam arti etika
sebagai kontrol kognitif sejumlah unsur (Muttaqin, 2007:5). Dalam tradisi Jawa
etika sering dipahami sebagai ”ngelmu”
yang menyatu dengan tingkah laku keseharian. Pada bentuk mistis atau spiritual,
pemahaman ilmu tidak hanya intelektual tetapi juga intuitif. Kesadaran yang demikian
inilah, yang mendasari laku orang Jawa tidak hanya dalam masalah kesadaran,
tetapi juga segenap hubungannya dengan kekuasaan sosial dan politik yang pada
dasarnya sangat reflektif (Stange, 1998:6). Diantara sikap yang muncul pada
orang Jawa antara lain unggah ungguh
(hubungan bersama yang tetap memperhatikan waktu dan tempat (empan papan), kormat (hormat), tepo
seliro (mengontrol sikap individu berdasarkan kesadaran diri). Pada saat
tertentu terkesan feodalistik, tapi sangat Islami (Q.S. Luqman(31): 12-19).
Penghayatan etik dari masyarakat Jawa bukan didasarkan atas pertimbangan
rasio yang mengontrol sesuatu atas nilai ”benar” atau ”salah”. Nuansa
semestinya (das sollen), apalagi yang
bermakna mewajibkan, kurang dalam etika orang Jawa. Franz Magnis Suseno memberi
label etika masyarakat Jawa lebih bersifat ”etika
kebijaksanaan” dari pada ”etika kewajiban” (Suseno, 1984:225).
Kebijaksanaan ini tidak hanya mengatur hubungan antar manusia, tapi juga
mengatur hubungan manusia dengan hewan dan lingkungan (Islam rahmatan lil ’alamin). Konsepsi Jumbuhing Kawula Gusti, berupa kesatuan antara rakyat dengan
negara, kesatuan antara wong cilik
(kawula) dengan ningrat bangsawan
atau raja), hal tersebut mencerminkan adanya keselarasan antara penguasa dengan
rakyatnya. Ini dipengaruhi faktor saling ketergantungan antara keduanya.
Penguasa memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dan pengayom juga memerlukan
daya dukung yang cukup dari rakyatnya.
Hubungan orang Jawa dengan alam diatur dengan norma Sangkan Paraning Dumadi sebagai upaya menyeimbangkan antara diri
sendiri dengan alam hanya bisa diperoleh melalui laku ”prihatin”. Dalam konsep
religius menjadi sangat mistis karena
tujuan yang hendak dicapai sangat transenden. Dalam konteks relasi sosial, konsep ini menjadi semangat
etos, semangat kerja masyarakat Jawa untuk mencapai tujuan. Sangkan paraning dumadi maknanya adalah
ilmu tentang asal mula dunia dan seisinya. pemahaman ini bisa diperoleh dengan
cara ”menaklukkan diri sendiri”. Upaya yang dilakukan adalah dengan membiasakan
”laku prihatin” sebagai bentuk ujian untuk mendapatkan dan mencapai tujuan yang
diharapkan. Tujuan ini sering
tidak secara fisik, melainkan untuk mendapatkan ngelmu kasampurnaan.
Ngelmu kasampurnaan ini akan melahirkan semangat Memayu Hayuning Bawana, yakni senantiasa
aktif menciptakan kecantikan hidup dan kehidupan dunia yang telah cantik ini.
Pemimpin yang bijaksana berarti telah memayu
hayuning bawana, yang menunjuk makna keselamatan dan kelestarian
lingkungan. Bahwa polusi, kerusakan alam, bencana alam yang sangat merugikan,
tanah longsor, kekeringan adalah ulah-ulah tangan manusia yang kurang
memperhatikan kelestarian alam. Konsep ini menjelaskan bahwa alam harus
dilindungi dan dilestarikan untuk masa depan manusia. Dalam politik, konsep memayu hayuning bawana adalah keaktifan
pemimpin ikut dalam menciptakan perdamaian dunia. Keutuhan konsep ini adalah Memayu Hayuning Salira, Memayu Hayuning
Bangsa, Memayu Hayuning Bawana (memelihara kesejahteraan diri, memelihara
kesejahteraan bangsa dan memelihara kesejahteraan dunia)
Etika bermasyarakat orang Jawa yang dianut harus guyup rukun, saling menghormati, gotong royong, saiyeg saekapraya harus betul-betul
diejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Kesadaran perilaku ini, mau tidak
mau, suka tidak suka harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak,
maka sanksi sosial akan diberlakukan, yaitu dikucilkan dari kehidupan
bermasyarakat. Adanya dinamika dan kesatuan di masyarakat harus holobis kuntul baris, harus ada kesatuan
gerak dalam mencapai tujuan bersama. Kesatuan ini tidak hanya sesama manusia
sebagai bentuk mikro kosmis (jagat cilik),
juga harus adanya keserasian dengan alam yang makro kosmis (jagat gede).
Dalam kadar penghayatan etik, masyarakat Jawa memutuskan dalam tiga
kategori, yaitu: madu basa, madu rasa,
madu brata. Madu basa menimbulkan
dan menunjukkan kedewasaan individual sesorang. Madu rasa menimbulkan dan menunjukkan kedewasaan sosial sesorang. Madu brata menimbulkan dan menunjukkan
kedewasaan spiritual.
Dari Jawa Untuk Dunia
(Melalui Indonesia)
Modernisasi pulau Jawa abad 20 dan pergeseran mata pencaharian masyarakat
Jawa menyebabkan adanya kemerosotan dan distorsi kewibawaan politik dan
pemerintahan feodalnya, namun Keraton masih dapat berfungsi sebagai pelestari
kebudayaan Jawa, termasuk juga kebudayaan rohaniah. Walaupun begitu, perbedaan
pelapisan masyarakat antara kalangan ningrat
(bangsawan) dan wong cilik (rakyat biasa) menjadi semakin
transparan. Oleh karena pelapisan ini sudah berlangsung sangat lama, maka
kesadaran adanya pelapisan masyarakat menjadi sangat dalam di bawah sadar.
Dengan adanya pelapisan sosial yang terlembagakan secara budaya ini menunculkan
cara berfikir dan konsep keserasian dalam kesatuan mikrokosmis. Adanya konsep Jumbuhing Kawula Gusti, berupa kesatuan
antara rakyat dengan negara, kesatuan antara wong cilik (Kawula) dengan ningrat
(Bangsawan atau Raja), hal tersebut mencerminkan adanya keselarasan antara
penguasa dengan rakyat. Hal ini dipengaruhi faktor saling ketergantungan antara
keduanya. Penguasa memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dan pengayom juga
memerlukan daya dukung yang cukup dari rakyat.
Cara berfikir masyarakat Jawa yang semula berbasis pertanian terus terbawa
dalam berbagai perilaku dan kehidupan keseharian masyarakat. alam pikiran desa
dan petani, walaupun secara fisik telah berubah, tetap menjadi cara pandang dan
mendasari cara berfikir masyarakat Jawa. Alam pertanian desa dan usaha untuk
menaklukkan alam dengan cara ”menaklukkan diri sendiri”. Upaya yang dilakukan
adalah dengan membiasakan ”laku prihatin” sebagai bentuk ujian untuk
mendapatkan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan ini sering tidak secara fisik, melainkan
untuk mendapatkan ngelmu kasampurnaan.
Konsepsi sangkan paraning dumadi
sebagai upaya menyeimbangkan antara diri sendiri dengan alam hanya bisa
diperoleh melalui laku prihatin. Dalam konsep religius menjadi sangat mistis karena tujuan yang hendak dicapai
sangat transenden. Dalam
konteks relasi sosial, konsep ini menjadi semangat etos, semangat kerja
masyarakat Jawa untuk mencapai tujuan. Sangkan paraning dumadi maknanya adalah ilmu tentang asal mula
dunia dan seisinya, dalam konsep ngilmu
kejawen jadi sangat strukturalis berupa amalan-amalan yang harus dilalui.
Barangsiapa yang sudah mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, dia akan
mampu dan senantiasa peka terhadap apa yang disebut memayu hayuning bawana, yakni senantiasa aktif menciptakan
kecantikan hidup dan kehidupan dunia yang telah cantik ini. Pemimpin yang
bijaksana berarti telah memayu hayuning
bawana, yang menunjuk makna keselamatan dan kelestarian lingkungan. Bahwa polusi,
kerusakan alam, bencana alam yang sangat merugikan, tanah longsor, kekeringan
adalah ulah-ulah tangan manusia yang kurang memperhatikan kelestarian alam.
Konsepsi ini menjelaskan bahwa alam harus dilindungi dan dilestarikan untuk
masa depan manusia. Dalam politik konsep memayu
hayuning bawana adalah keaktifan pemimpin ikut dalam menciptakan perdamaian
dunia. Konsep inilah yang jadi landasan gerak pemimpin dalam bingkai sabda pandhita ratu, tan kena wola-wali,
sehingga pemimpin harus ikhlas dan pantang menarik kembali apa yang sudah
diucapkan. Itulah lukisan sifat seorang pemimpin yang adil, tak memandang bulu,
bahkan pemimpin yang dipuji, disanjung agar menjadi pelindung dunia.
Dalam persoalan politik kekuasaan maka apa saja yang dikeluarkan oleh
penguasa adalah kebenaran. Akan tetapi tidak sembarang orang akan bisa dan
mempu menjadi penguasa. Bahwa untuk dapat menjadi pemimpin yang dihormati dan
kharismatk itu tidak mudah. Selain sebagai keturunan langsung dari sultan, juga
orang yang mendapat pulung ratu.
Mitos ini beredar luas sampai pada pencalonan kepala desa di Jawa, siapapun
yang mendapat pulung ratu akan
menjadi penguasa dan langgeng. Kepercayaan ini mendasari perilaku dan
kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya dan kesadaran pribadi bahwa dia tidak
mendapat pulung ratu tidak mungkin
menjadi pemimpin. Sebab itu, rakyat harus berdaulat betul kepada penguasa dan
begitu pula sebaliknya penguasa, pemimpin harus betul-betul mengayomi
rakyatnya.
Kesadaran pemimpin bahwa tahta untuk rakyat telah betul-betul mendahului sistem
demokrasi yang dibawa oleh Barat ke Indonesia. Konsepsi sugih tanpa bandha, menang tanpa ngasorake, ngurug tanpa bala, digdaya
tanpa aji (kaya tanpa harta, menang tanpa mengalahkan, menyerang tanpa
pasukan, sakti tanpa aji) dilandasi dengan ketegasan memerintah, akan menuntut
kerja yang mengupayakan kesejahteraan rakyat. Sehingga, semua lapisan
masyarakat sadar akan posisi dirinya. Saben
wong glenggahi kelenggahanipun, mungguh, lungguh, sengguh, setiap orang
menduduki kedudukannya. Rakyat tidak ingin melakukan protes dan ingin menguasai
tahta, karena itu bukan kodratnya. Yang jadi raja, jadilah raja; yang jadi
menteri jadilah menteri; yang jadi kawula, jadilah kawula yang baik dan amanah.
Apapun yang dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan publik.
Kesadaran sosial yang egaliter dan kepemimpinan yang demokratis memberikan
kesempatan munculnya inisiatif dari bawah, didorong sehingga prinsip nderek karsa dalem pada hakekatnya telah
ditinggalkan. Yang berlaku adalah prinsip kepemimpinan yang ing ngarsa sung tulada; ing madya mangun
karsa; tut wuri handayani (di depan memberi keteladanan; di tengah
mengembangkan prakarsa; di belangang memberikan dukungan kepada rakyat) dan
konsekwensi sebagai kawula harus eling,
pracaya lan mituhu (ingat, percaya dan patuh) kepada pemimpin. Kraton
sebagai pusat kebudayaan Jawa memfungsikan diri sebagai gerak kesatuan kosmis
yang sempurna antara Sultan – kawula dan alam.
Basis awal masyarakat pedesaan di Jawa juga meyebabkan munculnya konsep
berfikir tertentu antara lain ”kerjasama”. Hal tersebut muncul karena pemahaman
”usaha” dan ”nasib” yang hampir seimbang. Orang Jawa termasuk orang yang senang
bekerja keras, semangat dan tekun dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mengolah
sumber daya alam yang ada. Khususnya wilayah Yogyakarta yang menjadi pusat
kebudayaan Jawa secara geografis adalah daerah yang tidak begitu subur,
terutama di bagian selatan Gunung Kidul. Ketika masyarakat Jawa telah bekerja
keras untuk satu tujuan, tetapi ketika ada hambatan dari luar, seperti bencana,
hujan, banjir yang menggagalkan usaha mereka, pada akhirnya ketika menuai hasil
sepenuhnya diserahkan kepada kekuasaan ilahiah. Kepercayaan bahwa tidak
sepenuhnya manusia yang menentukan hasil, dan ada faktor-faktor alam yang ikut
dipertimbangkan. Masyarakat Jawa membutuhkan keseimbangan dan adanya kemampuan
menyesuaikan diri dengan tatanan manusia dan alam. Cara berfikir yang homologi antropokosmik tersebut
menjelaskan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya dapat menguasai alam. Disinilah
muncul embrio kesadaran akan pentingnya kerjasama, bahwa orang tidak mungkin
bisa menyelesaikan pekerjaan sendiri-sendiri dan akan terus membutuhkan orang
lain. Kesadaran kerjasama akan muncul ketika prinsip bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangruwa, sudah menjiwai
masing-masing pribadi masyarakat Jawa. Kesadaran tersebut menekankan bahwa tiap
orang memiliki kepribadian yang unik dan kemampuan yang berbeda-beda.
Pertimbangan kemanusiaan tetap ada.
Etika bermasyarakat yang harus guyup rukun, saling menghormati, gotong
royong, saiyeg saekapraya harus betul-betul diejawantahkan dalam kehidupan
keseharian. Kesadaran perilaku itu mau tidak mau, suka tidak suka harus
dijalankan dalam kehiduan sehari-hari. Jika tidak, maka sanksi sosial akan
diberlakukan yaitu dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat. Adanya dinamika dan
kesatuan di masyarakat harus holobis
kuntul baris, harus ada kesatuan gerak dalam mencapai tujuan bersama.
Kesatuan ini tidak hanya sesama manusia sebagai bentuk mikrokosmis, juga harus
adanya keserasian dengan alam yang makrokosmis.
Tekad Sultan bahwa tahta untuk rakyat; kaprabon,
kagem karaharjaning praja, kawula, tuwin lestarining budaya, tahta bagi
kesejahteraan kehidupan sosial dan budaya rakyat adalah upaya konstruktif untuk
memberdayakan kehidupan masyarakat. Kekuatan ini berasal dari adanya satu
komitmen bersama untuk saling percaya, adil dan yakin. Rakyat berusaha menjadi
rakyat yang baik dengan yakin dan percaya bahwa pemimpinnya akan berbuat adil
dan mensejah- terakan, juga sebaliknya. Sejalan dengan perubahan di masyarakat,
karakter ini akan terus mengalami perkembangan makna dan praktek di lapangan.
Mainstream ini bergerak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan sosial
masing-masing lapisan di masyarakat Jawa.
Karena kesadaran sosial ini sudah masuk dalam di bawah sadar manusia,
secara internal karakter pracaya, adil
lan temen melakukan konstruksi sendiri untuk terus relevan dengan
perkembangan zaman. Secara konseptual upaya ini harus terumuskan dengan tepat,
karena menentukan kesadaran perilaku. Kesadaran perilaku ini akan terus
langgeng dengan adanya keteladanan, contoh dari pemimpin; juga adanya
pengalaman yang diadopsi dan terus menerus dilakukan sehingga menjadi kebiasaan
masyarakat. Keagungan budaya Jawa dengan
tata nilai yang universal, antara lain sikap pramana yang berarti hidup dengan kewajaran, tanpa dimanipulasi,
Bergson menyebutnya elan vital yaitu
inti gaya dari kehidupan dan kesatuan antara kepribadian dengan eksternal.
Keteladanan yang lain adalah pranawa,
prasaja (hidup terbuka, sederhana, apa adanya), prasetya (pengabdian sepenuhnya), prastawa, prabaya.
Pada akhirnya keteladanan tersebut menuntun masyarakat Jawa untuk berlaku
egaliter, demokratis, sesuai dengan konsep jumbuhing
kawula gusti. Antara pemimpin dan kawula harus selaras. Mukti siji mukti kabeh dan mati satu mati semua. Itulah
sebabnya pertimbangan rasa menjadi daya ukur perilaku orang Jawa. Dan sifat
etika kebijaksanaan memberi petunjuk orang Jawa untuk berbuat sepi ing pamrih, rame ing gawe (sepi
dari keinginan pemrih, tetapi banyak amal baik).
Beberapa Catatan Tentang
Falsafah Hidup Orang Jawa.
menurut lacakan Sumantri Suprayitno, ajaran yang berupa nasehat dan
berbentuk ungkapan tradisional verbal meliputi tiga hal, yaitu: (1) ”paribasan”
(2) ”bebasan” (3) ”saloka”
- Bentuk paribasan.
- ”Giri lusi, janma ta kena ingina” (tidak boleh menghina sesama, sebab
makhluk cacing saja yang merangkak akhirnya mencapai puncak)
- ”Bapa kesulah, anak kepolah” (anak berkewajiban bertanggung jawab
atas persoalan ayahnya yang telah meninggal)
- ”Gliyak-gliyak tumindak, sareh
pekoleh” (sekalipun
pelan-pelan, tetapi ajeg (tetap) usahanya, toh akhirnya berhasil juga).
- ”Ajining dhiri saka kedaling lathi” (nilai diri seseorang terletak pada
gerak lidahnya)
- Bentuk bebasan.
- ”Amek
iwake, aja buthek banyune” (yang dituju tercapai tanpa menyebabkan
keonaran)
- ”Sandhing kirik gudhigen, sanding
(cedhak) kebo gupak, sanding celeng boloten” (bergaul dengan orang jahat itu menyebabkan
tertular kejahatannya pula)
- ”Diwenehi ati ngogoh rempela” (diberi kebajikan malah minta yang
lain-lain lagi)
- ”Aja dumeh ayu banjur sumayu” (Jangan mentang-mentang cantik
lantas sok cantik. Tidak baik memamerkan kecantikkan tanpa imbangan
kemampuan yang lain, misalnya kepandaian dan kesalehan)
- Bentuk saloka.
- ”Manuk mencok dudu pencokane, rupa
dudu rupane” (apa
saja yang mencurigakan harus selalu dihadapi dengan sikap hati-hati)
- ”Timun mungsuh duren” (orang yang lemah bermusuhan dengan
orang yang kuat)
- ”Cecak nguntal empyak” ( cicak makan atap, cita-cita yang
tidak sesuai dengan hanya akan memberi peluang untuk kecewa karena peluang
gagalnya besar)
- ”Gambret singgang, mrekatak ora ana
sing nganeni”(perawan
lincah tidak ada yang melamar, sebab tidak ada yang mau mengambil istri)
beberapa nasehat diatas mencerminkan kepekaan etis orang Jawa, maka bahasa
simbolik menjadi sangat pokok. Karena itu, jika marah atau tidak suka biasanya
diungkapkan dengan cukup halus. Barangkali bagi orang yang kurang memahami
psikologi bahasa yang dipakai orang Jawa dapat menimbulkan kesalahpahaman
(menimbulkan rasa tersinggung atau marah). kepekaan bahasa simbol hanya dapat
dipahami dengan kepekaan ”roso” (feeling) yang kuat.
Catur Kamulyaning Nerpati (empat sifat utama negarawan)
- Jalma sulaksana, yaitu seorang pemimpin hendaknya
menguasai ilmu pengetahuan. Baik yang berbasis kognitif (ilmu pengetahuan
dan tekhnologi) maupun yang berbasis spiritual (agama).
- Praja sulaksana, yaitu mempunyai perasaan belas
kasihan kepada rakyat dan berusaha mengadakan perbaikkan kondisi
masyarakat.
- Wirya sulaksana, yaitu mempunyai keberanian untuk
menegakkan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan
takut karena salah.
- Wibawa sulaksana, yaitu memiliki kewibawaan terhadap
rakyat, sehingga setiap perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang
direncanakan dapat terealisasi.
Catur Praja Wicaksana (empat sifat dan tindakan pemimpin)
- Sama, yaitu waspada dan siap siaga untuk
menghadapi segala ancaman musuh baik yang datang dari luar maupun yang
datang dari luar yang merongrong kewibawaan pemimpin yang sah.
- Beda, yaitu memberikan perlakuan yang adil dan sama
tanpa perkecualian dalam melaksanakan praturan bagi rakyat sehingga
tercipta kedisiplinan dan tata tertb dalam masyarakat.
- Dana, yaitu mengutamakan sandang, pangan,
pendidikan, papan guna menunjang kemakmuran rakyat serta memberikan
penghargaan bagi warga yang berprestasi.
- Danda, yaitu menghukum dengan adil kepada semua
yang berbuat salah atau melanggar hukum sesuai dengan tingkat kesalahan
yang diperbuatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar