Pages

Selasa, 06 Desember 2016

I'll be Back, Adalah Hantu Orde Baru

Bapak presiden negeri kita, Presiden Jokowi memang selalu tidak kehabisan akal mempopulerkan dirinya sebagai orang nomor satu. Pernah beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi memberikan gimmick-gimmick menarik dalam pidatonya di forum US-ASEAN Business Council (US-ABC) di San Francisco California. Jokowi mengutip kata-kata khas mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger ketika membintangi film Terminator, I'll be back. Semua media online kita heboh dan menulis fenomena unik dan menarik ini. Lagi-lagi presiden kita yang terhormat, punya selera khas. Pada kesempatan lain, baju khas dan jaket Presiden Jokowi langsung jadi trend dunia persilatan di Nusantara.

Pada momentum gelar sajadah koran 212, Presiden Jokowi kembali menjelaskan makna I’ll be back. Selalu memberikan kejutan dan pasti akan membuat semua makhluk Jakarta akan terkejut. Saat embun pagi belum lagi menguap di lahan beton Batavia, tiba-tiba serdadu kerajaan, menggaruk preman-preman Jakarta yang konon menurut kabar embun, dia akan berbuat makar. Saat mbah Riziq dan tulang Bahtiar Nasir baru siap-siap ngambil sendal mujahid Ciamis, ada kabar seburuk embun. Entah, apakah engkong Ebiet akan protes dan ikut menggalang rumput cinta bergoyangnya, karena lirik cinta sebening embun menjadi kabar seburuk embun.

Nah, cerita menggaruk preman, beda saat Presiden Jokowi pernah menggaruk para pemain sirkus topeng monyet. Dalilnya beda. Mantra yang dipakai untuk menggaruk preman Jakarta bukan mantra penjinak ular versi Kuntowijoyo, tapi mantra membangunkan hantu, ritualnya pake jelangkung. Hantu yang dipanggil oleh serdadu Presiden Jokowi tidak sembarangan, jaelangkung Presiden Jokowi berhasil membangunkan hantu eyang Harto. Datang dimik-dimik, sambil senyam-senyum sejuta arti, membisiki adinda Jokowi, “penak jamanku to”. Buhul-buhul eyang Harto sepertinya masuk alam bawah sadar. Akhirnya mulailah misi baru, garuk preman.

Saat menggaruk pemain sirkus topeng monyet, Jokowi saat menjabat Gubernur Jakarta hanya dapat apresiasi para pelindung binatang dan dapat label baru gubernur topeng monyet. Nah, saat menggaruk preman ini mau dapat apresiasi apa?

Saya bingung, ini fenomena mirip sekali zaman enaknya eyang Harto. Bisa main garuk. Kayaknya akan muncul meme baru,

“Mirip zamanku to”

“penak to”

“iya to”

“sini saya kasih mantra baru penjinak preman”

Joko. “baik, eyang.. apa eyang?”

Sambil mendekat, eyang Harto bisik-bisik sama Presiden Jokowi, menurunkan cahaya wahyu keprabon, warna jingga. Senyum mengembang di wajah adinda Joko, sambil manggut-manggut setuju dan puas.

“baik eyang, perintah eyang Harto siap kami laksanakan, saya jamin beres eyang”

Sampai siang hari saat gelar sajadah aksi super damai, rombongan Yang Mulia Okoj datang dengan gagah. Hujan mengguyur deras. Tanda malaikat sedang menurunkan rahmat. Dengan tenang Presiden Jokowi ikut menggelar sajadah dan tidak lupa karpet merah. “Allohuakbar.. Allohuakbar.. Allohuakbar” teriak takbir Presiden Jokowi membahana seantero langit dan bumi.

“terimakasih saudara-saudaraku sudah menggelar do'a dan dzikir bersama untuk keselamatan dan kebaikan Indonesia, semoga bangsa Indonesia tetap jaya”

Diam sebentar sambil liat catatan kecil di secarik kertas. “Allohuakbar.. Allohuakbar.. Allohuakbar”.

Tidak ada komentar: