P E R J A L A N A N
Sebuah Legenda Kapal yang "Makin Tua"
"Banyak yang
menyangka, bahwa kemuliaan semata-mata terjadi karena turunan atau silsilah
manusia, kekayaan atau kemegahan mereka. Pendapat mereka keliru! Kemuliaan
tidak terjadi kecuali dengan pengabdian bagi umat manusia, atau dengan
keikhlasan berkorban jiwa dan harta. Entah turunan pembesar atau bukan, sama
saja. Tiada berbeda, apakah dia jutawan raja harta ataukah tuan tanah, ataupun
seorang fakir yang papa". (Musthafa Luthfi al-Manfaluthy)
Dalam suatu waktu, saat melakukan perjalanan mengarungi
samudra luas, sang sufi, berkesempatan satu kapal dengan seorang
pengusaha. Ini meru- pakan kali pertama pejabat itu naik perahu. Saat kapal
berada ditengah samudra tiba-tiba cuaca berubah, langit menghitam menyelimuti
sejauh mata memandang. Dan laut yang tadinya tenang, berubah menjadi buas,
bergejolak, bergelombang dan mengombang-ambingkan kapal. Tiba-tiba ombak datang
menggoncang, menghantam dan menghempas, hingga membuat perahu itu oleng.
Terlihat di sana-sini kapal mulai bocor, air dengan cepat masuk dan menggenangi
beberapa bagian kapal.
Dengan santai sang sufi duduk menatap aliran air yang
perlahan naik, sedangkan sang pengusaha sudah sangat khawatir. Terlintas
dibenak sang pengusaha akan harta, anak istri dan kebun-kebun yang luas. Serta
merta sang pengusaha menjadi takut akan kematian, terbayang kengerian yang amat
sangat. Dengan putus asa pejabat itu menggapai tangan sang sufi, maka
memohonlah sang pengusaha kepada sang sufi akan kekhawatirannya:
"wahai sang sufi yang baik hati, aku merasa ajalku hampir tiba, sudikah menolong saudaramu ini?"
"apa gerangan yang bisa saya bantu"
"saat ini tiba-tiba saya menjadi sangat khawatir dan ngeri melihat kenyataan, lakukanlah sesuatu yang bisa menbuat saya bisa tenang, carilah upaya untuk membuatku tidak takut.""Upaya?" Tanya sang sufi,
"Oh…ya…ya ada jalan…tetapi sepertinya anda tidak akan senang dan setuju dengan usul saya""lakukanlah apapun sekehendak hatimu, saya pasti menyetujuinya"
"Baiklah kalau begitu. Pertama-tama terjunlah ke laut" kata sang sufi itu seraya mendorong pejabat itu dan melemparkannya ke lautan
Di air pejabat itu perlahan timbul tenggelam dan nafasnya
mulai terputus-putus. Setelah didiamkan cukup lama oleh sang sufi, ditariklah
kembali sang pengusaha ke atas perahu. Diperhatikan sikap sang pengusaha yang
perlahan berubah dan lebih tenang.
"wahai saudaraku, bagaimana kondisimu saat ini? Merasa lebih tenang?" Tanya sang sufi
"terima kasih, jauh lebih baik sekarang, aku merasa lebih tenang dan aman..." jawab si pejabat
"Yah....", kata sang sufi dengan senang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "...memang begitu, mereka yang tidak pernah berjalan kaki tidak pernah menghargai jasa seekor kuda. Mereka yang tidak pernah tenggelam dilaut tidak pernah menghargai jasa sebuah perahu. Seorang pejabat yang selalu makan enak-enak tidak dapat memahami rasa lapar...."
Dalam perjalanan seorang manusia sering kali menemukan
saat-saat, kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Muncullah
sumpah serapah, berbagai cacian dan berbagai ucapan yang bermaksud mencela dan
tidak sepakat dengan kenyataan yang saat itu dihadapi. Seperti orang yang tidak
pernah mengalami lelah dan payahnya jalan kaki tidak pernah bisa menghargai
jasa seekor kuda, sepeda onthel. Orang yang tidak pernah lapar tidak akan
menghargai sesuap nasi. Mereka yang tidak pernah terseret arus dan tenggelam di
laut tidak pernah menghargai makna sebuah perahu. Seorang pejabat yang selalu
makan enak-enak tidak dapat memahami rasa lapar.
Keangkuhan dan kecongkakan, kekhawatiran dan kegelisahan
sering kali muncul oleh tidak adanya pengalaman yang dimiliki seseorang akan
kenyataan yang sedang dihadapi. Hal tersebut semakin menjadi-jadi ketika
ternyata pengalaman yang selama ini didapat ternyata tidak juga memberikan
solusi kongkrit.
Ketika seseorang telah berhasil menimba ilmu lewat cawan
kehidupan dan menikmati samudra kenikmatan untuk melepas kedahagaan akan
nilai-nilai hidup, mereka menjadi congkak atas kebehasilan yang telah dicapai.
Akan tetapi ketika menemukan wujud yang berbeda dari apa yang mendasari citra
diri yang awal, kemudian mereka menyepelekan, mencaci maki sumber mata air
kecemerlangan.
Adanya sikap ambivalensi ini mencerminkan persoalan yang
akut ditingkat kaderisasi yang selama ini mempertahankan eksistensi lembaga,
sebuah jama’ah kadang kala mengalami kebocoran disana-sini, akan tetapi sikap
kemunafikan yang dipakai untuk mensikapi realitas. Barangkali sosok kapal
(baca: PII) hanya menjelaskan fungsi alat yang sering jadi tumpuan caci maki
pemumpangnya karena sudah tua dan rapuh sehingga sudah tidak mampu lagi
berbenturan dengan ombak yang menghadang, sudah tidak mampu lagi menerjang
karang yang menantang. Kenyataannya, ketika kita tenggelam apapun kita rengkuh,
kita raih untuk mengapungkan diri kita, walau hanya sebatang kayu.
Siapa yang sebenarnya mampu membuktikan kekuatan kapal yang
"sudah tua" ketika mengarungi samudra luas, bentangan laut yang masih
meng- hampar tanpa simbol-simbol dan petunjuk arah. Kita tidak bisa hanya
selalu mengandalkan pertolongan alat dan penumpang, mereka hanya menumpang,
kitalah yang mengarahkan laju kapal. "Jalan masih teramat jauh, mustahil
kapal akan berlabuh bila dayung tak terkayuh", kata Iwan Fals dalam
lagunya maaf cintaku. Kedewasaan kitalah yang nantinya membantu dalam
mengamati tanda-tanda alam yang sering muncul tiba-tiba, yang jikalau kita
tidak siap mengantisipasi bencanalah yang akan menyusul; kapal kita karam tanpa
prasasti.
Barang kali kegagahan dan kemampuan kapal dalam mengarungi
samudra luas cukup kita ceritakan kepada generasi penerus agar mereka menjadi
generasi yang cukup bijaksana dalam mengambil keputusan, mengambil arah laju
kapal berlayar. Juga untuk membantu kita dalam menterjemahkan mitos,
kekuatan dan korban. Dalam konteks inilah cerita-cerita per-periode
dapat kita pakai sebagai jernihnya air sungai untuk melihat buramnya wajah
kita.
Mitos adalah gabungan antara ide dan harapan yang menguasai
struktur alam pikiran dan psikologis kita, ia tidak hanya menerangkan tempat
kita berada secara sosial dan daerah yang harus dituju. Melebihi teori, mitos
menyentuh pula daerah psikomotorik dan spiritual kita untuk bertindak secara
penuh keyakinan. Mitos mampu mengubah manusia yang berfikir jernih, menjadi
pengikut yang hanya memiliki kacamata kuda; melihat lurus kedepan, secara hitam
putih. Dan membagi dunia hanya berdasarkan dua kategori; lawan-kawan,
hitam-putih, baik-buruk. Ini artinya menolak pada heterogenitas masing-masing
individu dan pluralitas yang diagungkan oleh nilai setiap agama.
Mitos selalu dikawal pula oleh kekuasaan, sedangkan
kekuasaan selalu memiliki alat pemaksa agar komunitas hanya berjalan ditempat
yang sudah dipetakan. Ibarat barisan yang panjang, kekuasaan berada diatas
bukit yang dapat melihat secara menyeluruh siapa yang keluar dari barisan.
Dibentengi oleh mitos, kekuasan menjadi satu-satunya hakim agung, sebagai
penentu siapa yang bersalah serta memiliki legitimasi mengontrol tindak tanduk
setiap warga. Hingga pada akhirnya relativisme internal hanyalah slogan yang
berkibar-kibar tanpa pernah dihormati dan dipahami.
Pada gilirannya korban pun berjatuhan. Mereka yang bergerak
di luar barisan menjadi korban pertama. Mitos pun menghendaki korban lain
untuk merealisasikan dirinya. Atas nama sebuah cita-cita, korban manusia dibe-
narkan, fakta ini bisa kita ziarahi pada monumen-monumen korban pembangunan
bangsa, juga tak lebih mengerikan dalam arkeologi-arkeologi "demi
agama".
Kalau kita berbicara humanisasi pendidikan
"kaderisasi" sebuah lembaga, maka kita tidak bisa lepas dari masalah
kader. Sebab kader adalah sentral kebajikan dan kebijakan lembaga. Untuk itu
diperlukan demitologisasi kader, mengubah sistem pendidikan yang
membudayakan dehumanisasi menuju pada humanisasi, juga
sekularisasi peran bagi pemegang kebijaksanaan lembaga secara proporsional.
Dari sinilah kita berharap kaderisasi PII mampu memenuhi cita-cita profetik
dari Islam, yakni Rahmatan lil ‘alamin
7 Hadiah terbaik pada hari ulang tahun
Kepada Kawan – kesetiaan
Kepada Musuh – kemaafan
Kepada Ketua – khidmat
Kepada yang Muda – berikan contoh terbaik
Kepada yang Tua – hargai budi pekerti mereka dan kesantunan
Kepada Pasangan – cinta dan ketaatan
Kepada Manusia – kebebasan
Yogyakarta, 02 Mei 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar