SAYA berani yakin,
jika anak PII ditanya berapa jumlah kader PII sekarang yang dimiliki, pasti
tidak bisa menjawab. Organisasi kita memang belum modern. Waktu saya di PW PII Yogyakarta Besar beberapa tahun lalu, juga meyakini bahwa ciri organisasi modern adalah memiliki kejelasan
jumlah kader. Itu sudah menjadi standard organisasi modern. Jadi,
apakah PII berarti organisasi Tradisional, organisasi imajiner, organisasi
terbelakang..??
Tahun 2012, saya coba melakukan pendataan sederhana mengenai jumlah kader
yang dihasilkan pada musim training smester I. Tercatat jumlah kader LBT
mencapai 1.141 kader, dan jumlah kader LIT tercatat 160 kader. Jadi jika
mengacu angka tersebut, partisipasi training sekitar 13,4%. Pertanyaannya,
apakah jumlah kader menunjukkan sedikitnya kader PII? Apakah persentase kader
menunjukkan kualitas kader PII menurun?
Kembali
kepada persepsi modernitas yang harus menjadi standardisasi organisasi.
Modernitas selalu ditandai dengan komersialisasi disegala sektor kehidupan.
Kencing pun sekarang harus ada uang seribu disaku. Modernitas juga ditandai
segala sesuatu diukur dengan yang serba baru dan serba angka-angka. Jadi, jika
PII diukur dengan standardisasi modernitas memang sangat tidak layak. Ini
problem yang harus dijawab oleh PII. Namun saya coba memberikan perspektif lain
tentang standardisasi organisasi.
PII
meyakini dirinya sebagai organisasi dakwah. Yang punya tugas mulia mencoba
mendidik pelajar sesuai dengan Islam. Tugas mulia ini memang menjadi sangat
berat, khususnya ditengah himpitan gelombang modernitas. Nah, parameter
sebaiknya bukan pada kenyataan yang menjadi lahan garap PII, tapi pada
idealitas, pada dasar dan pada tujuan yang hendak dicapai. Dalam Islam, kita
diajari jika kalian sedang mengemban amanah dakwah, maka kunci pertama
SABAR. Sabar harus selalu mendasari aktivitas kita di PII. Ini sangat
penting ketika kita menghadapi berbagai konflik dan banyak persoalan didalam
struktur. Sabar ketika ternyata kader PII sedikit. Karena jumlah bagi Allah Swt
bukan masalah. Mau jumlahnya hanya satu atau sejuta itu sama. Intinya apakah
kita, tiap diri kader PII sudah melaksanakan amanah mulia, kita memancarkan
cahanya keseluruh jagat. Membawa pesan
mulia Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bukan sebaliknya, kader PII
sering menjadi ancaman bagi seluruh alam.
Cara
kedua, dengan selalu ikhlas dan menerima segala kondisi dan kejadian yang ada. Ini
bukan berarti sikap fatalis kader PII tanpa ingin melakukan perubahan kondisi.
Selama ini kita selalu berkeinginan melakukan perubahan dengan program-program
yang diyakini sangat ampuh menyelesaikan problem internal dan eksternal PII. Di
PB, PW, PD, dan PK selalu melakukan hal serupa. Sampai-sampai PII dikenal
sebagai kader dan organisasi yang sangat ahli membuat konsep, banyak gagasan
dan ide. Memang dalam pelaksanaan program banyak yang gagal, persoalannya bukan
pada kegagalannya, tapi apakah kita ikhlas terhadap kegagalan yang terjadi.
Kita menerima dengan yakin bahwa ada kuasa Allah dalam tiap kejadian. Hal inilah
yang tidak pernah kita lakukan, baik dalam keberhasilan dan dalam kegagalan
kita ditekankan senantiasa ikhlas menerima.
Memang
angka 1141 kader dalam tiap musim training itu angka yang sangat sedikit. Jika
dibandingkan dengan jumlah pelajar yang mencapai 40an juta. Kira-kira perbandingannya ya 0,00003. Jadi jika ada 100.000 pelajar, 3 diantaranya kader PII. Nah, saya kira
bukan pada jumlah yang kita harapkan jika kita senantiasa sabar dan ikhlas,
tapi pada apakah jumlah kader yang kita miliki sekarang membawa barokah bagi
PII, bagi umat Islam?
Sedikit yang penting berkah, daripada banyak membawa laknat.. Astaghfirullah..
Sedikit yang penting berkah, daripada banyak membawa laknat.. Astaghfirullah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar