Seperti sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia saja, ketika membeli barang,
apapun itu, baik membeli makanan, pakaian, atau berbagai perabot rumah tangga;
orang Indonesia akan datang berbondong-bondong ketika ada diskon; apalagi yang
mencapai 50%
Laksana rumah semut kejatuhan gula, dimana ada pusat perbelanjaan dengan
diskon gede-gedean, akan menyedot warga untuk mengunjunginya. Inilah salah satu
strategi marketing dalam perdagangan dan pemasaran salah satu produk. Apakah harganya
mahal? Ya kita ga tau, yang jelas masyarakat taunya ada diskon 50%, itu sudah
menggembirakan. Selanjutnya apakah awalnya harga barang dinaikkan dulu atau
tidak itu persoalan belakangan. Inilah fenomena masyarakat konsumtif, yang
sudah sangat menggejala. Fenomena ini banyak melanda kota-kota besar di
Indonesia. Berbondong-bondong masyarakat datang, bahkan rela mengantri untuk
mendapatkan barang.
Kebutuhan akan fashion, food, dan fan yang berdiskon
menjadi semacam gula yang akan memikat banyak semut, yang cepat-cepat akan
mengerubunginya. Masyarakat melihat, memilih dan membayar barang, sedang
penjual menunggui dengan setia dan murah senyum. Apakah pedagang untung? Jelas
untung, mana mau berjualan kok merugi. Sedang masyarakat apa senang? Jelas
senang, mana mau masyarakat benci kok mau-maunya membeli.
Sebenarnya apa manfaat, atau apa maksudnya ada diskon bagi penjualan
produk? Secara ekonomis jelas ini demi pemasaran produk dan memperoleh
keuntungan yang besar. Apakah hanya itu? Atau ada maksud terselubung,
tersembunyi? Untuk menganalisis hal ini kita bisa meminjam istilah Muchtar
Lubis yang mengatakan bahwa manusia Indonesia itu munafik. Apa yang diucapkan
tidak sama dengan apa yang dilakukan. Ekspresi konsumtif, sebagai perilaku berbelanja, tampaknya kita
sulit mengekspresikan isi pikiran dan isi kantong. Sekalipun pesimistis, kalau
perangsang-perangsang penggoda belanja cukup besar, misal dengan diskon
mencapai 50% goyah juga imannya untuk menghabiskan uang.
Dengan diskon yang dipepetkan waktunya (misal 3 jam atau maksimal 1 minggu)
dan dibatasi pasokannya biasanya menimbulkan persepsi kelangkaan dan biasanya
malah melipat gandakan harga barang tersebut. Opini masyarakat digiring
menikmati barang murah, namun terlebih dahulu dinaikkan harga produk baru didiskon
mencapai 50%. Konsumen laksana raja di gurun pasir, kebutuhan membeli karena
diskon yang dikiranya besar, mau menukarkan barang dengan mahkota.
Nah pada kasus yang lain, misal pemilu, pemilih diajarkan oleh politisi
untuk bertransaksi. Siapa yang memberi diskon paling besar maka dia-lah yang akan dikejar
oleh konstituen. Lebih parah dari pada memilih kucing dalam karung, karena
pemilih sudah tau siapa yang dipilihnya. Namun, iming-imingan uang lebih
menggiurkan. Padahal mereka harus melepaskan kualitas pemerintahan selama 5
tahun mendepan. Bonus payung, jam dinding bahkan iming-imingan deposito menjadi
strategi para politisi untuk mencari massa.
Kiranya asumsi masyarakat yang sudah kritis, menjadi semakin kerdil dan
picik pikirannya karena nampaknya kita memaklumi kejadian ini. Memang menjadi
sangat dilematis dengan tiadanya, atau mulai menurunnya politik aliran di
Indonesia. Prinsip dan orientasi partai menjadi limbung. Yang ada hanya
keinginan untuk selalu melakukan kompromi dengan keadaan.
Inilah yang bisa kita saksikan bahwa pemilu 2009 menjadi akhir politik
ideologi yang selama ini menjadi karakter pemerintahan Indonesia. Indikasinya
jelas, kompromi politik dan bagi-bagi kue selalu mewarnai setiap manuver para
politisi kita. Mereka laksana para Robin Hood yang membawa harta bagi orang
miskin dengan merampok orang kaya.
Padahal mereka sebenarnya tetap pencuri, meresahkan. Yang
intinya mereka maling, garong, berkedok sinterklas. Gejala ini diperparah dengan kepentingan pribadi
dan kelompok yang lebih diutamakan dulu sebelum memikirkan rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar