Beberapa tahun ini, fenomena pasar tiban, pasar dadakan menjelang buka puasa pada bulan Ramadhan menjamur di Kota Yogyakarta. Salah satu pelopor adanya pasar tiban menjelang buka puasa adalah Kampung Jogokariyan dengan pusat kegiatannya di Masjid Jogokariyan. Masjid Jogokariyan letaknya di Kelurahan Mangkuyudan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogjakarta. Jalan Jogokariyan tiap sore selalu sangat rame dipadati orang yang hendak berbelanja berbagai jenis makanan buka puasa dan sebagai orang yang hendak ikut berbuka di masjid sambil mendengarkan ceramah berbagai ustadz yang sengaja didatangkan untuk meramaikan bulan Ramadhan.
Jalan di depan masjid yang memang sempit, ditambah dengan
berdirinya warung berderet sepanjang Jalan Jogokariyan selalu dipadati orang.
Bahkan bisa dikatakan tiap sore terjadi kemacetan parah. Jalan
dipadati motor yang sering kali berhenti di pinggir jalan untuk membeli jajanan
buka puasa. Jajanan ini bermacam-macam menu buka puasa yang digelar 80an
penjaja makanan. Hal menambah semarak bulan Ramadhan.
Seperti tiba-tiba saja, jalan menjadi sangat rame dan menjadi pasar baru pinggir
jalan.
Konsep perpaduan antara pasar, pengajian dan masjid menjadi
strategi memakmurkan Masjid Jogokariyan. Fenomena Ramadhan dengan tiap masjid
menyediakan menu takjil dan makan besar memang menjamur di Yogyakarta. Menu makan besar, buka puasa
dan pengajian tidak hanya diselenggarakan oleh masjid, tapi juga
mushalla-mushalla di seluruh Kota Jogja. Konsep pengembangan Kampung Ramadhan
ditambah dengan pasar tiban hanya ada di beberapa lokasi saja. Yang penulis
ketahui di bagian selatan Jogja hanya ada di Jalan Jogokariyan dan Jalan
Nitikan. Sementara di tempat yang lain, yang tidak dikoordinir oleh institusi
atau komunitas atau kampung, fenomena penjaja menu buka puasa juga menjamur
di sepanjang jalan. Geliat ekonomi sepertinya naik pada bulan Ramadhan. Hal
tersebut menandakan sebenarnya masyarakat malah bertambah konsumtif pada saat
Ramadhan.
Pasar tiban yang muncul didominasi oleh mereka yang
sebagian besar tidak punya sejarah berdagang. Usaha meraih pemasukan tambahan
pada bulan Ramadhan mereka memperdagangkan jajanan menu buka puasa di pinggir
jalan. Pasar tiban selain muncul hanya saat bulan Ramadhan juga penjualnya
hanya berdagang selama bulan Ramadhan. Setelah berganti bulan, mereka kembali
pada aktivitas awal, tidak kembali melanjutkan dagang. Pasar ini juga hanya
muncul sebentar sebelum buka puasa, kira-kira dua jam, kemudian tutup kembali.
Biasanya mereka yang membuka pasar ini bukan dengan modal tinggi, dan
berkembang dari keluarga atau individu.
Lahirnya Masyarakat Konsumsi
Tumbuhnya pasar-pasar yang terpisah dengan basis spiritual
Islam menjadi sebuah ekonomi pasar yang diatur sendiri dengan mekanisme pasar
merupakan gejala ekonomi modern. Pasar yang awalnya menjadi basis transaksi
kebutuhan manusia, kemudian berkembang menjadi kekuatan politik karena
melahirkan kelas-kelas sosial baru. Bagi mereka yang berhasil mengakumulasi
modal dan menguasai sektor produksi. Perubahan sosial terjadi manakala
anggota-anggota masyarakat memasuki pasar dengan hubungan kontraktual. Situasi
pasar kemudian berkembang menjadi alat mengidentifikasikan diri. Situasi pasar
kemudian menjadi ukuran kelas seseorang, sehingga masyarakat terbagi menjadi
kelas-kelas sosial yang saling bertentangan.
Pasar kemudian tidak hanya menyediakan kebutuhan dasar
manusia tapi berkembang menyuguhkan kebutuhan mode. Kritik terhadap pola pikir
dan perilaku masyarakat indonesia modern yang sangat konsumtif secara pedas
dilontarkan Muchtar Lubis yang mengatakan bahwa manusia Indonesia itu munafik.
Apa yang diucapkan tidak sama dengan apa yang dilakukan. Ekspresi konsumtif,
sebagai perilaku berbelanja, tampaknya kita sulit mengekspresikan isi pikiran
dan isi kantong. Sekalipun pesimistis, kalau perangsang-perangsang penggoda
belanja cukup besar, misal dengan diskon mencapai 50 persen, menu makan yang enak
atau iklan yang terus menerus goyah juga imannya untuk menghabiskan uang.
Dengan diskon yang dipepetkan waktunya, misal tiga jam atau
maksimal satu minggu dan dibatasi pasokannya biasanya menimbulkan persepsi
kelangkaan dan biasanya malah melipat gandakan harga barang tersebut. Opini
masyarakat digiring menikmati barang murah, namun terlebih dahulu dinaikkan
harga produk baru didiskon mencapai 50 persen. Konsumen laksana raja di gurun pasir,
kebutuhan membeli karena diskon yang dikiranya besar, mau menukarkan barang
dengan mahkota.
Kelompok pasar lain yang berkembang di Indonesia yang
didominasi hampir 80 persen pelaku ekonomi adalah pasar pedagang eceran yang yang
digolongkan dalam skala gurem, dengan modal maksimal satu juta
rupiah. Aktivitas pasar eceran ini mempunyai derajat kebebasan yang relatif
lebih besar dalam memilih “masuk ke” dan “keluar dari” pasar, dibandingkan
dengan skala usaha yang lebih besar. Implikasi dari ciri khas tersebut adalah
bahwa pedagang ini memiliki kapasitas seolah-olah tidak terbatas dalam
“berkembang biak”. Kapasitas itu sendiri tentunya dibatasi oleh “luas pasar”
dan “pilihan waktu”. Selanjutnya, pasar tiban sangat dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu jumlah penduduk di daerah tersebut dan tingkat daya beli penduduk.
Sedangkan pilihan waktu mempunyai corak yang bersifat temporer, seperti sore
hari menjelang buka puasa, atau sesuai hari pasaran. Tentang sesuai hari
pasaran sampai sekarang masih menjadi tipe pasar yang potensial di daerah
pinggiran, kota-kota kecil di Indonesia. Atau pasar itu berkembang dan tetap
eksis sesuai dengan jenis dagangan yang diperjualbelikan.
Pasar tiban yang berkembang selama bulan Ramadhan ini bisa
digolongkan dalam jenis pasar informal. Karena pada hakekatnya merupakan
kegiatan ekonomi yang berkembang dari perilaku keluarga atau individu. Secara
spesifik, pasar ini muncul untuk memburu konsumen yang membutuhkan produk,
barang, dan makanan tertentu. Walaupun secara formal sudah diselenggarakan
pasar tetap di berbagai tempat, hal ini hanya menyediakan bahan mentah.
Kenyataan ini juga bisa kita lihat selama bulan Ramadhan, orang yang sedang
dijalan merupakan konsumen potensial karena mereka didesak untuk membeli
makanan sebagai menu buka puasa.
Pasar tiban yang menggunakan bentuk dari retail
outlet yang paling sederhana yang bersifat “massal” yang mengambil
bentuk jalan, disebut “pasar” ini berkembang menjadi “bazaar” awalnya merupakan
embrio dari pusat perbelanjaan (shopping center). Lokasi pasar yang
berkembang sepanjang jalan, yakni suatu arah memanjang disebut sebagai arcades (shopping
arcades). Jika sudah menetap dan berkembang terus, kemudian disebut sebagai
“daerah pertokoan” (street shopping). Berkembangnya pasar tiban
sepanjang jalan, menjadi pusat pertokoan ini jika tidak terbatas waktu dan
kemampuan daya beli masyarakat tinggi.
Menjadi dilema, bagaimana mengembangkan pasar tiban menjadi
pusat perbelanjaan, karena ini hanya muncul sebagai fenomena satu tahun sekali.
Karena hal ini berkaitan dengan niat pedagang di pasar tiban untuk terus
mempertahankan lapak dagang setelah bulan Ramadhan. Alasan lain karena fenomena
ini hanya muncul untuk mengambil peluang tingkat konsumsi masyarakat yang
sangat tinggi selama Ramadhan. Tingkat konsumsi yang sangat tinggi ini
dipengaruhi oleh hajat mendesak untuk makan karena seharian berpuasa. Jadi
fenomena kasuistik ini unik, karena keinginan membeli ditentukan oleh situasi.
Sementara, lokasi pasar yang integral dengan masjid juga menjadi alasan lain
tidak berlanjutnya pasar tiban setelah selesai bulan Ramadhan. Setelah kegiatan
masjid kembali seperti semula, tidak ada hiruk pikuk pengajian dan persiapan
takjil, dan tingkat konsumsi masyarakat normal kembali, pasar tiban ini
kemudian tutup.
Islam dan Sektor Ekonomi
Perpaduan mainstream besar antara masjid, pengajian dan
bulan Ramadhan sebagai simbol ritual agama, dengan pasar tiban sebagai
simbol ekonomi sepanjang sejarah sudah membuktikan bahwa hal
tersebut menjadi kekuatan yang mampu mengubah dunia. Pada masa Nabi Muhammad
Saw, masjid selalu digunakan sebagai basis menyusun kekuatan spiritual,
ekonomi, politik, sosial, budaya dan militer. Ketika Nabi hendak memutuskan
segala sesuatu berkaitan dengan masalah keumatan atau agama, selalu
diselenggarakan di masjid. Hal ini menyebabkan gerakan transformatif Islam
sudah dibuktikan oleh sejarah, baik sebagai kekuatan sosial, politik maupun
budaya. Kreativitas sejarah yang mula-mula muncul sebagai kekuatan spiritual
(iman) telah mampu memobilisasikan umat Islam dalam perjalanan sejarah yang
panjang. Dimulai dari periode Nabi, Khulafaur Rasyidin, zaman kekhalifahan,
kerajaan-kerajaan selalu dikukuhkan dalam bentuk masjid yang megah.
Di indonesia, fenomena persebaran dan dakwah Islam bisa
dilihat dalam titik masjid tua yang masih berdiri tegak sampai sekarang.
Seperti contoh Masjid Sunan Kudus, Masjid Agung Kauman, Masjid Banten, Masjid
Cirebon dan lain-lain. Simbol masjid dikukuhkan selain sebagai basis dakwah
juga basis perlawanan terhadap penetrasi imperialisme Belanda yang hendak
menjajah Indonesia. Setelah Belanda berhasil menguasai seluruh Indonesia,
perlahan kebijakan Belanda menghilangkan peran budaya, sosial dan politik
masjid tinggal hanya peran spiritual (iman). Sampai sekarang fenomena masjid selain hanya mengurusi ibadah sudah sangat jarang ditemui. Masjid hanya jadi simbol
ibadah, pasar, sekolah, aktivitas sosial dihilangkan dari masjid. Islam jadi
terkesan tidak punya hubungan apapun dengan mode of production tertentu
dalam masyarakat.
Inilah yang menjadi kritik kalangan Marxis yang meragukan
agama memiliki peran signifikan dalam perkembangan sejarah. Islam sebagai agama
yang memiliki banyak penganut juga dihadapkan dalam berbagai persoalan sosial
kemasyarakatan, pertentangan antar kelas, kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan
disparsitas pendapatan. Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah selama ini Islam
sudah memberikan sumbangan terhadap proses kehidupan ekonomi masyarakat. Apakah
ini berarti bahwa telah lebih banyak dikuasai oleh pasar dari pada masjid?
Demam pasar, menjadi fenomena modern, ketika orang merasa sangat bangga
menenteng jajanan keluar dari mol daripada menenteng sajadah, Qur’an keluar
dari masjid.
Hal ini bisa diamati dimana ada pasar, selalu dipadati
pengunjung. Sangat berbeda dengan masjid yang hanya menyelenggarakan pengajian
dan takjil-makan besar buka puasa tidak ada hiruk pikuk yang berarti. Apakah memang Islam
tidak punya pilihan aktualitas selain hanya pengajian di masjid? Sementara para
pemikir Islam masa kini cenderung mengembangkan penafsiran yang otentik pada
pemilahan basis kapitalisme dan sosialisme. Islam menjadi kutub lain dari
polemik ekonomi antara sosialisme dan kapitalisme. Tapi sementara itu,
kemampuan Islam mengembangkan basis ekonomi yang menjadi kekuatan dakwah masih
sangat jarang dikembangkan. Mengembangkan basis ekonomi umat Islam dalam model
yang sistemik antara simbol spiritual (masjid) dan dakwah harus diupayakan
dalam bentuk kongkrit.
Hal ini perlu melibatkan banyak pemikir, cendekiawan muslim
sehingga memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Usaha ini perlu digiatkan
supaya Islam mampu menyentuh berbagai persoalan disemua lapisan masyarakat.
Usaha ini bisa kita lihat pada gagasan almarhum Kuntowijoyo lewat gagasan yang
disebutnya ilmu sosial transformatif atau ilmu sosial profetik. Mengapa beliau
yakin perlu membangun paradigma baru ilmu sosial yang tepat untuk umat Islam
ini, karena sejak awal Kuntowijoyo meyakini bahwa ilmu itu bersifat relatif, atau
dalam bahasa Thomas Khun paradigmatik. Ilmu itu juga bersifat ideologis (Marx),
dan bersifat cagar bahasa (istilah Wittgenstein). Bagi Kuntowidjoyo, membangun
ilmu sosial yang Islami adalah sah. Dengan kandungan nilai-nilai humanisasi,
liberasi dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk merekayasa
masyarakat menuju cita-cita sosio-etiknya di masa depan. Oleh karena itu secara
umum bahwa istilah transformasi yang dipakai Kuntowijoyo, lebih tepat kita
sebut perubahan sosial seperti yang sering muncul dalam khasanah ilmu sosial
Durkheimian maupun Parsonian. Oleh karena itu secara global gagasan
transformatif-nya Kuntowijoyo hampir sama dengan etos kerja-nya Nurcholish,
yaitu suatu entitas yang mengacu pada perubahan sosial melalui modernisasi. Hanya
bedanya titik tolak teori sosial yang dipakai berbeda.
Usaha tersebut sebenarnya sebagai bentuk ikhtiar
menggabungkan pembentukan arah baru secara kreatif antara yang mutlak dan
trandenden dengan yang otonom. Aspek sosial ekonomi dimaknai sebagai ruang
kreasi umat untuk mengaktulasisasikan, menjalankan ritus agama. Masjid adalah
simbol makna yang transenden, yang bisa mempersatukan aspek-aspek ritus dan
budaya umat Islam. Budaya sebagai sistem ide dan nilai harus mempunyai
mekanisme integrasi yang membuat baik keseluruhan maupun aspek-aspek satuan
yang mebuatnya integral yang diwakili masjid. Ide ini perlu diturunkan menjadi
simbol yang kongkrit, dalam bentuk struktur sosial ekonomi yang kongkrit dan
empiris. Demikian juga lambang pasar menjadi kekuatan sejarah yang nyata yang
menggerakkan perubahan dunia modern. Menggabungkan dua simbol yang berbeda ini
menjadi usaha kreatif yang harus terus dikembangkan oleh umat Islam.
Konsep terpadu antara aspek ekonomi dan agama di Indonesia
menjadi masalah yang kompleks. Populasi penduduk yang sangat besar di
Indonesia, dengan kemampuan negara menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat
rendah, mendorong sektor perdagangan informal berkembang dengan cepat.
Kemampuan ini menjadi alasan bahwa usaha masyarakat untuk terus bertahan hidup.
Sementara, masalah pedagang sektor informal pada pasar tiban Ramadhan sangat
terkait dengan aspek jenis barang, tata ruang dan waktu. Pasar tiban Ramadhan
yang memiliki karakteristik yang sangat dibatasi waktu berbeda dengan model pedagang
pengecer formal yang tidak terkait dengan waktu.
Agama (Islam) sendiri yang secara ideal memiliki kemampuan
mengembangkan model terobosan keserasian antara kegiatan perdagangan formal dan
sektor informal. Etos kerja yang ditekankan dalam Islam sebagai kekuatan
ekonomi umat harus dikembangkan menjadi kemampuan produksi, bukan saja
kemampuan konsumsi. Usaha ini bisa berkaitan dengan fasilitas “spasial”, karena
pasar tiban adalah fenomena perdagangan yang padat karya. Usaha mempertemukan
penjual dan pembeli yang ditentukan oleh waktu, sedangkan golongan konsumen
sangat bervariasi tergantung pada komoditi yang ingin dibeli. Jadi
menyediakan space sangat memerlukan rotasi waktu yang
disesuaikan dengan pola belanja konsumen.
Fenomena pasar tiban bukan hanya dilihat dari semakin
besarnya konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan pokok sehari-hari, melainkan
juga dilihat fenomena berkembangnya penjual tiban karena memanfaatkan momen
Ramadhan. Ramadhan memberikan dorongan spiritual dan ekonomi yang lebih dominan
dalam perkembangan masyarakat. Maka perlu dilihat juga kecenderungan
kemampuan daya beli masyarakat dalam melakukan transaksi perdagangan.
Sebagai ritus ibadah dalam Islam, puasa Ramadhan yang
memiliki semangat membentuk pribadi yang memiliki kesalehan sosial. Dorongan
ini diwujudkan dalam berbagai bentuk kepedulian dan empati baik yang dirasakan
masyarakat miskin maupun usaha melakukan pembinaan terus menerus untuk
mensejahterakan masyarakat. Sehingga kesan meningkatnya konsumsi masyarakat
dilihat sebagai ekses negatif puasa. Namun jika dilihat dalam perspektif
berbeda, bagaimana muncul dan berkembangnya fenomena pasar tiban sebagai rantai
distribusi terakhir dengan konsumen, mereka hanya muncul pada tempat dan waktu
yang sangat spesifik. Maka kemampuan pedagang pasar tiban perlu dilihat sebagai
fenomena usaha transformatif karena berkembang dengan media masjid. Semoga
mendepan, masjid tidak hanya memfasilitasi pasar tiban tapi juga usaha ekonomi
yang lebih berkelanjutan dan lebih mensejahterakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar