Pages

Rabu, 09 Januari 2013

PASAR TIBAN JELANG BUKA PUASA: KAPITALISASI PUASA?


Beberapa tahun ini, fenomena pasar tiban, pasar dadakan menjelang buka puasa pada bulan Ramadhan menjamur di Kota Yogyakarta. Salah satu pelopor adanya pasar tiban menjelang buka puasa adalah Kampung Jogokariyan dengan pusat kegiatannya di Masjid Jogokariyan. Masjid Jogokariyan letaknya di Kelurahan Mangkuyudan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogjakarta. Jalan Jogokariyan tiap sore selalu sangat rame dipadati orang yang hendak berbelanja berbagai jenis makanan buka puasa dan sebagai orang yang hendak ikut berbuka di masjid sambil mendengarkan ceramah berbagai ustadz yang sengaja didatangkan untuk meramaikan bulan Ramadhan.


Jalan di depan masjid yang memang sempit, ditambah dengan berdirinya warung berderet sepanjang Jalan Jogokariyan selalu dipadati orang. Bahkan bisa dikatakan tiap sore terjadi kemacetan parah. Jalan dipadati motor yang sering kali berhenti di pinggir jalan untuk membeli jajanan buka puasa. Jajanan ini bermacam-macam menu buka puasa yang digelar 80an penjaja makanan. Hal menambah semarak bulan Ramadhan. Seperti tiba-tiba saja, jalan menjadi sangat rame dan menjadi pasar baru pinggir jalan.


Konsep perpaduan antara pasar, pengajian dan masjid menjadi strategi memakmurkan Masjid Jogokariyan. Fenomena Ramadhan dengan tiap masjid menyediakan menu takjil dan makan besar memang menjamur di Yogyakarta. Menu makan besar, buka puasa dan pengajian tidak hanya diselenggarakan oleh masjid, tapi juga mushalla-mushalla di seluruh Kota Jogja. Konsep pengembangan Kampung Ramadhan ditambah dengan pasar tiban hanya ada di beberapa lokasi saja. Yang penulis ketahui di bagian selatan Jogja hanya ada di Jalan Jogokariyan dan Jalan Nitikan. Sementara di tempat yang lain, yang tidak dikoordinir oleh institusi atau komunitas atau kampung, fenomena penjaja menu buka puasa juga menjamur di sepanjang jalan. Geliat ekonomi sepertinya naik pada bulan Ramadhan. Hal tersebut menandakan sebenarnya masyarakat malah bertambah konsumtif pada saat Ramadhan.


Pasar tiban yang muncul didominasi oleh mereka yang sebagian besar tidak punya sejarah berdagang. Usaha meraih pemasukan tambahan pada bulan Ramadhan mereka memperdagangkan jajanan menu buka puasa di pinggir jalan. Pasar tiban selain muncul hanya saat bulan Ramadhan juga penjualnya hanya berdagang selama bulan Ramadhan. Setelah berganti bulan, mereka kembali pada aktivitas awal, tidak kembali melanjutkan dagang. Pasar ini juga hanya muncul sebentar sebelum buka puasa, kira-kira dua jam, kemudian tutup kembali. Biasanya mereka yang membuka pasar ini bukan dengan modal tinggi, dan berkembang dari keluarga atau individu.


Lahirnya Masyarakat Konsumsi

Tumbuhnya pasar-pasar yang terpisah dengan basis spiritual Islam menjadi sebuah ekonomi pasar yang diatur sendiri dengan mekanisme pasar merupakan gejala ekonomi modern. Pasar yang awalnya menjadi basis transaksi kebutuhan manusia, kemudian berkembang menjadi kekuatan politik karena melahirkan kelas-kelas sosial baru. Bagi mereka yang berhasil mengakumulasi modal dan menguasai sektor produksi. Perubahan sosial terjadi manakala anggota-anggota masyarakat memasuki pasar dengan hubungan kontraktual. Situasi pasar kemudian berkembang menjadi alat mengidentifikasikan diri. Situasi pasar kemudian menjadi ukuran kelas seseorang, sehingga masyarakat terbagi menjadi kelas-kelas sosial yang saling bertentangan.


Pasar kemudian tidak hanya menyediakan kebutuhan dasar manusia tapi berkembang menyuguhkan kebutuhan mode. Kritik terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat indonesia modern yang sangat konsumtif secara pedas dilontarkan Muchtar Lubis yang mengatakan bahwa manusia Indonesia itu munafik. Apa yang diucapkan tidak sama dengan apa yang dilakukan. Ekspresi konsumtif, sebagai perilaku berbelanja, tampaknya kita sulit mengekspresikan isi pikiran dan isi kantong. Sekalipun pesimistis, kalau perangsang-perangsang penggoda belanja cukup besar, misal dengan diskon mencapai 50 persen, menu makan yang enak atau iklan yang terus menerus goyah juga imannya untuk menghabiskan uang.


Dengan diskon yang dipepetkan waktunya, misal tiga jam atau maksimal satu minggu dan dibatasi pasokannya biasanya menimbulkan persepsi kelangkaan dan biasanya malah melipat gandakan harga barang tersebut. Opini masyarakat digiring menikmati barang murah, namun terlebih dahulu dinaikkan harga produk baru didiskon mencapai 50 persen. Konsumen laksana raja di gurun pasir, kebutuhan membeli karena diskon yang dikiranya besar, mau menukarkan barang dengan mahkota.


Kelompok pasar lain yang berkembang di Indonesia yang didominasi hampir 80 persen pelaku ekonomi adalah pasar pedagang eceran yang yang digolongkan dalam skala gurem, dengan modal maksimal satu juta rupiah. Aktivitas pasar eceran ini mempunyai derajat kebebasan yang relatif lebih besar dalam memilih “masuk ke” dan “keluar dari” pasar, dibandingkan dengan skala usaha yang lebih besar. Implikasi dari ciri khas tersebut adalah bahwa pedagang ini memiliki kapasitas seolah-olah tidak terbatas dalam “berkembang biak”. Kapasitas itu sendiri tentunya dibatasi oleh “luas pasar” dan “pilihan waktu”. Selanjutnya, pasar tiban sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu jumlah penduduk di daerah tersebut dan tingkat daya beli penduduk. Sedangkan pilihan waktu mempunyai corak yang bersifat temporer, seperti sore hari menjelang buka puasa, atau sesuai hari pasaran. Tentang sesuai hari pasaran sampai sekarang masih menjadi tipe pasar yang potensial di daerah pinggiran, kota-kota kecil di Indonesia. Atau pasar itu berkembang dan tetap eksis sesuai dengan jenis dagangan yang diperjualbelikan.


Pasar tiban yang berkembang selama bulan Ramadhan ini bisa digolongkan dalam jenis pasar informal. Karena pada hakekatnya merupakan kegiatan ekonomi yang berkembang dari perilaku keluarga atau individu. Secara spesifik, pasar ini muncul untuk memburu konsumen yang membutuhkan produk, barang, dan makanan tertentu. Walaupun secara formal sudah diselenggarakan pasar tetap di berbagai tempat, hal ini hanya menyediakan bahan mentah. Kenyataan ini juga bisa kita lihat selama bulan Ramadhan, orang yang sedang dijalan merupakan konsumen potensial karena mereka didesak untuk membeli makanan sebagai menu buka puasa.


Pasar tiban yang menggunakan bentuk dari retail outlet yang paling sederhana yang bersifat “massal” yang mengambil bentuk jalan, disebut “pasar” ini berkembang menjadi “bazaar” awalnya merupakan embrio dari pusat perbelanjaan (shopping center). Lokasi pasar yang berkembang sepanjang jalan, yakni suatu arah memanjang disebut sebagai arcades (shopping arcades). Jika sudah menetap dan berkembang terus, kemudian disebut sebagai “daerah pertokoan” (street shopping). Berkembangnya pasar tiban sepanjang jalan, menjadi pusat pertokoan ini jika tidak terbatas waktu dan kemampuan daya beli masyarakat tinggi.


Menjadi dilema, bagaimana mengembangkan pasar tiban menjadi pusat perbelanjaan, karena ini hanya muncul sebagai fenomena satu tahun sekali. Karena hal ini berkaitan dengan niat pedagang di pasar tiban untuk terus mempertahankan lapak dagang setelah bulan Ramadhan. Alasan lain karena fenomena ini hanya muncul untuk mengambil peluang tingkat konsumsi masyarakat yang sangat tinggi selama Ramadhan. Tingkat konsumsi yang sangat tinggi ini dipengaruhi oleh hajat mendesak untuk makan karena seharian berpuasa. Jadi fenomena kasuistik ini unik, karena keinginan membeli ditentukan oleh situasi. Sementara, lokasi pasar yang integral dengan masjid juga menjadi alasan lain tidak berlanjutnya pasar tiban setelah selesai bulan Ramadhan. Setelah kegiatan masjid kembali seperti semula, tidak ada hiruk pikuk pengajian dan persiapan takjil, dan tingkat konsumsi masyarakat normal kembali, pasar tiban ini kemudian tutup.


Islam dan Sektor Ekonomi

Perpaduan mainstream besar antara masjid, pengajian dan bulan Ramadhan sebagai simbol ritual agama, dengan pasar tiban sebagai simbol ekonomi sepanjang sejarah sudah membuktikan bahwa hal tersebut menjadi kekuatan yang mampu mengubah dunia. Pada masa Nabi Muhammad Saw, masjid selalu digunakan sebagai basis menyusun kekuatan spiritual, ekonomi, politik, sosial, budaya dan militer. Ketika Nabi hendak memutuskan segala sesuatu berkaitan dengan masalah keumatan atau agama, selalu diselenggarakan di masjid. Hal ini menyebabkan gerakan transformatif Islam sudah dibuktikan oleh sejarah, baik sebagai kekuatan sosial, politik maupun budaya. Kreativitas sejarah yang mula-mula muncul sebagai kekuatan spiritual (iman) telah mampu memobilisasikan umat Islam dalam perjalanan sejarah yang panjang. Dimulai dari periode Nabi, Khulafaur Rasyidin, zaman kekhalifahan, kerajaan-kerajaan selalu dikukuhkan dalam bentuk masjid yang megah.


Di indonesia, fenomena persebaran dan dakwah Islam bisa dilihat dalam titik masjid tua yang masih berdiri tegak sampai sekarang. Seperti contoh Masjid Sunan Kudus, Masjid Agung Kauman, Masjid Banten, Masjid Cirebon dan lain-lain. Simbol masjid dikukuhkan selain sebagai basis dakwah juga basis perlawanan terhadap penetrasi imperialisme Belanda yang hendak menjajah Indonesia. Setelah Belanda berhasil menguasai seluruh Indonesia, perlahan kebijakan Belanda menghilangkan peran budaya, sosial dan politik masjid tinggal hanya peran spiritual (iman). Sampai sekarang fenomena masjid selain hanya mengurusi ibadah sudah sangat jarang ditemui. Masjid hanya jadi simbol ibadah, pasar, sekolah, aktivitas sosial dihilangkan dari masjid. Islam jadi terkesan tidak punya hubungan apapun dengan mode of production tertentu dalam masyarakat.


Inilah yang menjadi kritik kalangan Marxis yang meragukan agama memiliki peran signifikan dalam perkembangan sejarah. Islam sebagai agama yang memiliki banyak penganut juga dihadapkan dalam berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, pertentangan antar kelas, kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan disparsitas pendapatan. Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah selama ini Islam sudah memberikan sumbangan terhadap proses kehidupan ekonomi masyarakat. Apakah ini berarti bahwa telah lebih banyak dikuasai oleh pasar dari pada masjid? Demam pasar, menjadi fenomena modern, ketika orang merasa sangat bangga menenteng jajanan keluar dari mol daripada menenteng sajadah, Qur’an keluar dari masjid.


Hal ini bisa diamati dimana ada pasar, selalu dipadati pengunjung. Sangat berbeda dengan masjid yang hanya menyelenggarakan pengajian dan takjil-makan besar buka puasa tidak ada hiruk pikuk yang berarti. Apakah memang Islam tidak punya pilihan aktualitas selain hanya pengajian di masjid? Sementara para pemikir Islam masa kini cenderung mengembangkan penafsiran yang otentik pada pemilahan basis kapitalisme dan sosialisme. Islam menjadi kutub lain dari polemik ekonomi antara sosialisme dan kapitalisme. Tapi sementara itu, kemampuan Islam mengembangkan basis ekonomi yang menjadi kekuatan dakwah masih sangat jarang dikembangkan. Mengembangkan basis ekonomi umat Islam dalam model yang sistemik antara simbol spiritual (masjid) dan dakwah harus diupayakan dalam bentuk kongkrit.


Hal ini perlu melibatkan banyak pemikir, cendekiawan muslim sehingga memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Usaha ini perlu digiatkan supaya Islam mampu menyentuh berbagai persoalan disemua lapisan masyarakat. Usaha ini bisa kita lihat pada gagasan almarhum Kuntowijoyo lewat gagasan yang disebutnya ilmu sosial transformatif atau ilmu sosial profetik. Mengapa beliau yakin perlu membangun paradigma baru ilmu sosial yang tepat untuk umat Islam ini, karena sejak awal Kuntowijoyo meyakini bahwa ilmu itu bersifat relatifatau dalam bahasa Thomas Khun paradigmatik. Ilmu itu juga bersifat ideologis (Marx), dan bersifat cagar bahasa (istilah Wittgenstein). Bagi Kuntowidjoyo, membangun ilmu sosial yang Islami adalah sah. Dengan kandungan nilai-nilai humanisasi, liberasi dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk merekayasa masyarakat menuju cita-cita sosio-etiknya di masa depan. Oleh karena itu secara umum bahwa istilah transformasi yang dipakai Kuntowijoyo, lebih tepat kita sebut perubahan sosial seperti yang sering muncul dalam khasanah ilmu sosial Durkheimian maupun Parsonian. Oleh karena itu secara global gagasan transformatif-nya Kuntowijoyo hampir sama dengan etos kerja-nya Nurcholish, yaitu suatu entitas yang mengacu pada perubahan sosial melalui modernisasi. Hanya bedanya titik tolak teori sosial yang dipakai berbeda.


Usaha tersebut sebenarnya sebagai bentuk ikhtiar menggabungkan pembentukan arah baru secara kreatif antara yang mutlak dan trandenden dengan yang otonom. Aspek sosial ekonomi dimaknai sebagai ruang kreasi umat untuk mengaktulasisasikan, menjalankan ritus agama. Masjid adalah simbol makna yang transenden, yang bisa mempersatukan aspek-aspek ritus dan budaya umat Islam. Budaya sebagai sistem ide dan nilai harus mempunyai mekanisme integrasi yang membuat baik keseluruhan maupun aspek-aspek satuan yang mebuatnya integral yang diwakili masjid. Ide ini perlu diturunkan menjadi simbol yang kongkrit, dalam bentuk struktur sosial ekonomi yang kongkrit dan empiris. Demikian juga lambang pasar menjadi kekuatan sejarah yang nyata yang menggerakkan perubahan dunia modern. Menggabungkan dua simbol yang berbeda ini menjadi usaha kreatif yang harus terus dikembangkan oleh umat Islam.


Konsep terpadu antara aspek ekonomi dan agama di Indonesia menjadi masalah yang kompleks. Populasi penduduk yang sangat besar di Indonesia, dengan kemampuan negara menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat rendah, mendorong sektor perdagangan informal berkembang dengan cepat. Kemampuan ini menjadi alasan bahwa usaha masyarakat untuk terus bertahan hidup. Sementara, masalah pedagang sektor informal pada pasar tiban Ramadhan sangat terkait dengan aspek jenis barang, tata ruang dan waktu. Pasar tiban Ramadhan yang memiliki karakteristik yang sangat dibatasi waktu berbeda dengan model pedagang pengecer formal yang tidak terkait dengan waktu.


Agama (Islam) sendiri yang secara ideal memiliki kemampuan mengembangkan model terobosan keserasian antara kegiatan perdagangan formal dan sektor informal. Etos kerja yang ditekankan dalam Islam sebagai kekuatan ekonomi umat harus dikembangkan menjadi kemampuan produksi, bukan saja kemampuan konsumsi. Usaha ini bisa berkaitan dengan fasilitas “spasial”, karena pasar tiban adalah fenomena perdagangan yang padat karya. Usaha mempertemukan penjual dan pembeli yang ditentukan oleh waktu, sedangkan golongan konsumen sangat bervariasi tergantung pada komoditi yang ingin dibeli. Jadi menyediakan space sangat memerlukan rotasi waktu yang disesuaikan dengan pola belanja konsumen.


Fenomena pasar tiban bukan hanya dilihat dari semakin besarnya konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan pokok sehari-hari, melainkan juga dilihat fenomena berkembangnya penjual tiban karena memanfaatkan momen Ramadhan. Ramadhan memberikan dorongan spiritual dan ekonomi yang lebih dominan dalam perkembangan masyarakat. Maka perlu dilihat juga kecenderungan kemampuan daya beli masyarakat dalam melakukan transaksi perdagangan.


Sebagai ritus ibadah dalam Islam, puasa Ramadhan yang memiliki semangat membentuk pribadi yang memiliki kesalehan sosial. Dorongan ini diwujudkan dalam berbagai bentuk kepedulian dan empati baik yang dirasakan masyarakat miskin maupun usaha melakukan pembinaan terus menerus untuk mensejahterakan masyarakat. Sehingga kesan meningkatnya konsumsi masyarakat dilihat sebagai ekses negatif puasa. Namun jika dilihat dalam perspektif berbeda, bagaimana muncul dan berkembangnya fenomena pasar tiban sebagai rantai distribusi terakhir dengan konsumen, mereka hanya muncul pada tempat dan waktu yang sangat spesifik. Maka kemampuan pedagang pasar tiban perlu dilihat sebagai fenomena usaha transformatif karena berkembang dengan media masjid. Semoga mendepan, masjid tidak hanya memfasilitasi pasar tiban tapi juga usaha ekonomi yang lebih berkelanjutan dan lebih mensejahterakan.

Tidak ada komentar: