Akhirnya konser Lady Gaga yang rencananya akan diselenggarakan pada awal Juni
kemarin berhasil dibatalkan. Alasanya karena konser lady gaga akan mempertontonkan
porno aksi, bertentangan dengan nilai dan budaya ketimuran dan ajaran agama.
Semua media cetak dan elektronik menyuguhkan perdebatan akan datangnya idola
anak muda ini.
Hampir bersamaan kita disuguhkan
banyaknya terpidana, terdakwa dan tersangka korupsi yang melibatkan generasi
muda. Mereka sama idealisnya ketika satu suara menurunkan Soeharto dari
kekuasaan tiran dan banyaknya kasus korupsi. Idealisme jalanan para aktivis
hanya lantang didepan megaphone, namun langsung bungkam diatas kursi empuk.
Sementara yang masih bertahan tersingkir dalam kelompok minor dipinggiran kota.
Harapan kita menjadi bangsa yang
besar, bermoral, berbudaya, memiliki integritas dan ketauladanan adalah
ditangan generasi muda. Namun yang muncul sekarang ini adalah lahirkan generasi
hipokrit. Anak muda sekarang lebih bangga dengan musik yang datang dari luar,
sedangkan pelajarnya belajar tidak jujur dan mental pemimpin muda kita banyak
yang korup. Sedangkan para orang tua sudah kelelahan memberikan nasehat dan
ajaran tentang makna hidup.
Usaha membangkitkan kebudayaan nasional kita selalu dicederai ketika UN masih
banyak yang tidak jujur dengan mencontek. Oleh hasil UN bahasa Indonesia yang
terendah, sedangkan bahasa inggris selalu bagus. Ini memang ironis saat pemerintah
bersikukuh dengan mengebiri bahasa Indonesia lewat penyelenggaraan sekolah
internasional. Anak sekolah makin lancar ngomong inggris, ngomong Indonesia
makin kacau. Secara sistemik kita sudah mengebiri satu amanah penting sumpah
pemuda.
Pantas saja Lady Gaga sebagai ikon budaya asing malah diidolakan. Sedangkan
kesenian kita hampir sekarat menanti darah segar. Dimana-mana, pertunjukan
kesenian kita sepi peminat muda, tapi konser musik yang tiap pagi disiarkan
banyak stasiun tv selalu dipadati remaja. Apakah mereka tidak sekolah? Konser
musik yang hingar bingar bagi remaja kita menjadi trend dan identitas modern.
Wayang kulit hanya khusus bagi orang tua yang sudah bau tanah, saat bersamaan
diskotik kita berjejalan anak muda berjoget ria. Kebanggan ini makin melengkapi
kebrobokan generasi muda kita.
Padahal, generasi mendepan
(pemimpin) harus didasari dengan budaya, moral dan etika yang jelas. Sumber
budaya ada dua yaitu agama dan indigeniously knowledge yang berpijak pada identitas bangsa. Agama memberikan arah budaya yang dinamis-transendental
karena berpijak pada sesuatu yang berada diluar diri manusia. Inti nilai yang
bersumber pada common ground yang mutlak lebih dominan
memberikan isi dari pada bentuk kebudayaan itu sendiri. Sedangkan identitas
bangsa yang bersumber pada kearifan lokal memberikan wadah operasional yang dinamis dimasyarakat.
Persoalan tersebut menurut analisa Geertz,
karena kebudayaan Indonesia sebetulnya berada diantara dua gugus sosial-budaya.
Disatu fihak Indonesia tidak termasuk salah satu kebudayaan kontinental dengan
suatu inti kebudayaan yang luas, relatif seragam dan telah lama dibakukan,
seperti halnya kebudayaan China, India dan Rusia. Dipihak lain kebudayaan
Indonesia bukan pula kebudayaan dari suatu negara pulau yang homogen dan yang
berada jauh diluar jalur lalu lintas dunia, seperti Jepang misalnya. Kebudayaan
Indonesia adalah kebudayaan kepulauan yang berada justeru pada jalur lalu
lintas dunia semenjak zaman dahulu, terkena berbagai gelombang kebudayaan
besar, dan terpaksa berusaha melakukan penyesuaian budaya berulang kali, dan
tidak selalu berhasil mencapai suatu sintesa baru. Sebab itu agama yang
memberikan kontribusi terhadap isi budaya menjadi beragam walaupun substansinya
sama, karena mengejawantah pada kondisi lokal masyarakatnya masing-masing.
Karakter Modern
Seni dan bahasa sebagai identitas kebangsaan kita
seharusnya menjadi karakter generasi muda. Sehingga kita memiliki katalisator
masuknya budaya dari luar. Identitas bangsa kita memang tidak lahir murni.
Kebudayaan kita lahir dari kekuatan mencari alternatif bagi kewajiban
merumuskan hubungan dengan kebudayaan awal. Nilai yang berkembang merupakan
unsur kesementaraan yang kuat dalam kehidupan bangsa kita. Identitas kebangsaan
yang melekat ini merupakan usaha pencarian tanpa berkesudahan akan sebuah
perubahan yang lebih baik tanpa memutuskan dengan masa lalu. Secara historis,
identitas bangsa kita juga lahir oleh persinggungan dua kelompok berbeda antara
organisasi pemuda daerah yang banyak tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatra
Bond dengan organisasi pemuda Islam. Peleburan identitas inilah yang melahirkan
sumpah pemuda. Janji mulia sebagai identitas bangsa Indonesia.
Dengan reformasi 1998, saya
masih yakin bahwa pada tiap perubahan masyarakat, generasi muda langsung
terlibat didalamnya. Tetapi yang lebih terlibat lagi adalah mereka yang
termasuk golongan terpilih, berpendidikan dan memiliki kesadaran integritas akan perubahan itu sendiri. Sekelompok orang yang sudah tercerahkan karena
kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki kebangaan terhadap identitas bangsa.
Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad, ”kalau kita ingin dicintai oleh
Allah, maka setiap muslim haruslah menjadi manusia yang kuat” – kuat dalam artian iman dan taqwanya,
kuat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kuat secara ekonomi,
kuat secara jasmani dan mental spiritualnya, serta dalam budaya dan politiknya.
Tidak pernah ada masyarakat dhuafa (the haves not) didunia ini
yang mampu meraih kekuasaan sosial dan politik. Masyarakat dhuafa akan selalu merupakan masyarakat kelas
bawah yang dengan mudah ditindas dan dimarjinalkan menjadi kaum mustadha’afin yang tidak berdaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar