Pages

Rabu, 09 Januari 2013

Kekuatan Kebudayaan Nasional

Akhirnya konser Lady Gaga yang rencananya akan diselenggarakan pada awal Juni kemarin berhasil dibatalkan. Alasanya karena konser lady gaga akan mempertontonkan porno aksi, bertentangan dengan nilai dan budaya ketimuran dan ajaran agama. Semua media cetak dan elektronik menyuguhkan perdebatan akan datangnya idola anak muda ini.
Hampir bersamaan kita disuguhkan banyaknya terpidana, terdakwa dan tersangka korupsi yang melibatkan generasi muda. Mereka sama idealisnya ketika satu suara menurunkan Soeharto dari kekuasaan tiran dan banyaknya kasus korupsi. Idealisme jalanan para aktivis hanya lantang didepan megaphone, namun langsung bungkam diatas kursi empuk. Sementara yang masih bertahan tersingkir dalam kelompok minor dipinggiran kota.
Harapan kita menjadi bangsa yang besar, bermoral, berbudaya, memiliki integritas dan ketauladanan adalah ditangan generasi muda. Namun yang muncul sekarang ini adalah lahirkan generasi hipokrit. Anak muda sekarang lebih bangga dengan musik yang datang dari luar, sedangkan pelajarnya belajar tidak jujur dan mental pemimpin muda kita banyak yang korup. Sedangkan para orang tua sudah kelelahan memberikan nasehat dan ajaran tentang makna hidup.
           Usaha membangkitkan kebudayaan nasional kita selalu dicederai ketika UN masih banyak yang tidak jujur dengan mencontek. Oleh hasil UN bahasa Indonesia yang terendah, sedangkan bahasa inggris selalu bagus. Ini memang ironis saat pemerintah bersikukuh dengan mengebiri bahasa Indonesia lewat penyelenggaraan sekolah internasional. Anak sekolah makin lancar ngomong inggris, ngomong Indonesia makin kacau. Secara sistemik kita sudah mengebiri satu amanah penting sumpah pemuda.
        Pantas saja Lady Gaga sebagai ikon budaya asing malah diidolakan. Sedangkan kesenian kita hampir sekarat menanti darah segar. Dimana-mana, pertunjukan kesenian kita sepi peminat muda, tapi konser musik yang tiap pagi disiarkan banyak stasiun tv selalu dipadati remaja. Apakah mereka tidak sekolah? Konser musik yang hingar bingar bagi remaja kita menjadi trend dan identitas modern. Wayang kulit hanya khusus bagi orang tua yang sudah bau tanah, saat bersamaan diskotik kita berjejalan anak muda berjoget ria. Kebanggan ini makin melengkapi kebrobokan generasi muda kita.
       Padahal, generasi mendepan (pemimpin) harus didasari dengan budaya, moral dan etika yang jelas. Sumber budaya ada dua yaitu agama dan indigeniously knowledge yang berpijak pada identitas bangsa. Agama memberikan arah budaya yang dinamis-transendental karena berpijak pada sesuatu yang berada diluar diri manusia. Inti nilai yang bersumber pada common ground yang mutlak lebih dominan memberikan isi dari pada bentuk kebudayaan itu sendiri. Sedangkan identitas bangsa yang bersumber pada kearifan lokal memberikan wadah operasional yang dinamis dimasyarakat.
         Persoalan tersebut menurut analisa Geertz, karena kebudayaan Indonesia sebetulnya berada diantara dua gugus sosial-budaya. Disatu fihak Indonesia tidak termasuk salah satu kebudayaan kontinental dengan suatu inti kebudayaan yang luas, relatif seragam dan telah lama dibakukan, seperti halnya kebudayaan China, India dan Rusia. Dipihak lain kebudayaan Indonesia bukan pula kebudayaan dari suatu negara pulau yang homogen dan yang berada jauh diluar jalur lalu lintas dunia, seperti Jepang misalnya. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan kepulauan yang berada justeru pada jalur lalu lintas dunia semenjak zaman dahulu, terkena berbagai gelombang kebudayaan besar, dan terpaksa berusaha melakukan penyesuaian budaya berulang kali, dan tidak selalu berhasil mencapai suatu sintesa baru. Sebab itu agama yang memberikan kontribusi terhadap isi budaya menjadi beragam walaupun substansinya sama, karena mengejawantah pada kondisi lokal masyarakatnya masing-masing.

Karakter Modern
      Seni dan bahasa sebagai identitas kebangsaan kita seharusnya menjadi karakter generasi muda. Sehingga kita memiliki katalisator masuknya budaya dari luar. Identitas bangsa kita memang tidak lahir murni. Kebudayaan kita lahir dari kekuatan mencari alternatif bagi kewajiban merumuskan hubungan dengan kebudayaan awal. Nilai yang berkembang merupakan unsur kesementaraan yang kuat dalam kehidupan bangsa kita. Identitas kebangsaan yang melekat ini merupakan usaha pencarian tanpa berkesudahan akan sebuah perubahan yang lebih baik tanpa memutuskan dengan masa lalu. Secara historis, identitas bangsa kita juga lahir oleh persinggungan dua kelompok berbeda antara organisasi pemuda daerah yang banyak tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatra Bond dengan organisasi pemuda Islam. Peleburan identitas inilah yang melahirkan sumpah pemuda. Janji mulia sebagai identitas bangsa Indonesia.
     Dengan reformasi 1998, saya masih yakin bahwa pada tiap perubahan masyarakat, generasi muda langsung terlibat didalamnya. Tetapi yang lebih terlibat lagi adalah mereka yang termasuk golongan terpilih, berpendidikan dan memiliki kesadaran integritas akan perubahan itu sendiri. Sekelompok orang yang sudah tercerahkan karena kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki kebangaan terhadap identitas bangsa.
        Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad, ”kalau kita ingin dicintai oleh Allah, maka setiap muslim haruslah menjadi manusia yang kuat” – kuat dalam artian iman dan taqwanya, kuat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kuat secara ekonomi, kuat secara jasmani dan mental spiritualnya, serta dalam budaya dan politiknya. Tidak pernah ada masyarakat dhuafa (the haves not) didunia ini yang mampu meraih kekuasaan sosial dan politik. Masyarakat dhuafa akan selalu merupakan masyarakat kelas bawah yang dengan mudah ditindas dan dimarjinalkan menjadi kaum mustadha’afin yang tidak berdaya.

Tidak ada komentar: