KIRA-kira itu sikap kita melihat kenyataan Indonesia sekarang ini. Ikhlas dan sabar menerima. Karena kita yang memilih. Kita memang bukan memilih kucing dalam karung. Ketika kita berbicara kualitas kita memang memiliki banyak standard dalam memilih. Dan saya kita bukan hanya persoalan baik buruk saja. Tapi juga persoalan haq dan bathil, begitu kira-kira kata bijak yang para ulama-ulama kita sering menjelaskan. Maka, dalam persoalan haq dan bathil kita diajarkan satu metoda efektif oleh Rasul, shalat istikharah
Kucing
memang binatang, dengan tabiat binatang. Tidak bisa diukur dengan tabiat
makhluk Allah SWT yang lain. Sebagai binatang, yang gemar makan tikus, memang
tidak akan memilih jenis tikus yang sehat dan gemuk. Kucing akan langsung
menerkam tikus, baik yang kurus, kelaparan, belang-belang atau polos, tikus
yang buntung, berpenyakit atau tikus yang mau mati karena memakan pospit (racun tikus). Apakah itu tikus
sawah, tikus ladang tikus wirog, tikus got-got kota atau tikus rumahan. Mereka
adalah mangsa yang harus diterkam.
Juga
memang dasar kucing, kalau lapar, ada apapun diatas piring itu akan disikat,
makan saja. Apakah itu potongan teri yang sudah busuk. Apakah daging ayam, atau
gurame goreng di atas piring. Juga dalam melampiaskan libidonya, kucing memang
tidak memandang tempat dan kondisi lawan jenisnya. Asal ada kucing lain, tidak
pandang apa kudisan, apa buntung, apa bongkok apa pincang. Yang penting betina
maka langsung terkam, lampiaskan libidonya. Selesai..!! meong-meong lagi.
Ada
satu filosofi dari rakyat paling bawah yang selalu menjadi korban kebijakan
impor penguasa, yaitu para mbok-mbok pembuat tempe. Tempe selalu menjadi
konotasi karena merupakan mutiara terpendam. tempe adalah makanan kaya protein nabati
tapi namanya jelek untuk menyebut mental seseorang. Nah, dalam membuat tempe
ada dua hal yang terpenting yang selalu diperhatikan kualitasnya, yaitu bahan
dan proses. Bahan dalam membuat tempe, oleh mbok-mbok kita sangat diperhatikan
kualitasnya, walaupun harus impor. Biji kedelai harus terbaik dan tanpa cacat.
Ga boleh tercampur dengan kerikil, apalagi ranting atau sampah apapun. Campuran
adalah sampah bagi kedelai sebagai bahan tempe.
Juga
dalam proses pembuatan tempe harus dengan urutan yang benar. Tidak boleh ada
tangan-tangan kotor yang mencampuri. Dampaknya akan sangat berbahaya, proses
fermentasi akan gagal dan kedelai malah membusuk tanpa berguna. Jika kualitas
kedelai baik, prosesnya benar dan bersih maka hasil tempe akan enak, berkualitas
dan membawa maslahat. Jika kualitas kedelai jelek dan prosesnya melibatkan
tangan-tangan kotor maka masilnya akan sangat buruk, malah busuk. Salah-salah
kedelai malah ditumbuhi bakteri pseudomonas
coccovenanans yang mengeluarkan racun.
Nah,
bagaimana jika kita berbicara para elite negeri kita..?? BBM mau naik, korupsi
makin mengganas, penyuapan, sepak bola hancur total, premanisme kerah putih
makin menggila, impor hasil produksi rakyat makin meroket tajam. Dan masih
banyak problem lain. Akibatnya memang sangat mengerikan. Jika kita belajar dari
filosofi tempe, pastinya ada yang salah dalam memilih calon elite kita dan ada
tangan-tangan kotor yang ikut nimbrung dalam proses seleksi dan pemilihan.
Akhirnya, rakyat-lah yang jadi korban. Dan nasib bangsa Indonesia jadi taruhan
didepan negara lain. Kita negara kaya, jadi rebutan bangsa lain yang haus untuk
menguasai. Apa lagi dipimpin oleh wakil rakyat yang rakus harta,
tahta. Apa kita boleh protes?
Saya
jadi ingat waktu kecil, dengan ajaran nenek saya ketika berniat ke sekolah.
Nasehat itu selalu diulang-ulang sampai waktu saya mau ke Jogja. Pesannya
sederhana, “No, kalau ke Jogja, jangan senang berkelahi, memusuhi orang, dan
jangan minum miras. Jika dapat musibah sing sabar, ikhlas, terima saja”. Hal
ini sangat membekas di hati saya. Dan saya kira itu penting untuk mensikapi
kondisi sekarang. Sebagai orang timur, kita harus sabar dan ikhlas menerima
cobaan, musibah atau bahkan kesialan dari para PENGUASA kita yang haus harta
dan tahta.
Sial-nya
karena penguasa tidak berpihak kepada kita. Kita makin sabar, nrimo lan ikhlas
dalam menghadapi polah wakil rakyat dan penguasa. Sebagai rakyat kecil, ojo nglunjak. Jangan menuntut yang bukan
hak dan kewenangan kita. Tapi apa hanya itu budaya timur kita..??
Sejarah
mencatat juga, bahwa kita adalah bangsa agresor. Bangsa yang senang perang.
Bangsa yang pantang jika martabat dan harga diri kita diinjak-injak. Itu adalah
aib yang paling buruk yang menimpa kita. Jika itu terjadi, maka nyawa pun kita
berikan untuk menebus itu. Bahkan hanya dengan bambu runcing kita rela melawan
mortir, senapan tempur dan bom-bom tank. Jadi apa kita akan diam saja jika
persoalan negeri kita di injak-injak oleh orang yang tidak bertanggung
jawab..?? mana nilai-nilai budaya ketimuran kita yang kita banggakan? Bangsa
angresor, bangsa yang pantang jika harga diri diinjak-injak.
Nah,
apakah nasib, martabat dan kehormatan kita sebagai rakyat kecil sedang
diinjak-injak oleh elite penguasa dan wakil rakyat kita? Kita dimiskinkan oleh
polah korupsi dan penyuapan. Oleh impor yang menguntungkan hanya segelintir
pengusaha dan penguasa. Kalau benar, kenapa kita diam saja? Jangan-jangan kita
sudah melupakan budaya ketimuran yang pantang dinodai martabat kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar