Pages

Senin, 07 Januari 2013

ISLAM DI BALI

Sekitar Abad ke-16, Sunan Giri mengirim misi dakwah di bawah pimpinan Sunan Parapen untuk mengislamkan masyarakat Bali. Misi ini mendapat perlawanan dari Raja Agung Gelgel. Hampir bersamaan Raja Alauddin dari kerajaan Gowa Makassar juga datang untuk tujuan yang sama, melakukan Islamisasi di Bali, juga mendapat perlawanan gigih dari Raja Panji Sakti. Sehingga kedua misi ini kurang berhasil.

Ketika Raja Sutawijaya yang menduduki tahta Mataram, Bali mendapat perhatian juga dengan menjalin persahabatan. Raja Sutawijaya memberikan seekor gajah dengan tiga gembala yang beragama Islam. Hadiah gajah itu dibuatkan tempat di Petakan, kini bernama Banjar Petak dan dimandikan di Peguyangan. Sedang bekas tinggal ketiga orang penggembala (Jawa) tersebut dinamakan Banjar Jawa. Ketiga tempat tersebut sampai sekarang masih ada. 

Ketiga penggembala juga melakukan tugas dakwah. Karena arif dan pemberani banyak masyarakat yang simpatik. Hal tersebut menyebabkan Raja Panji Sakti khawatir. Raja lalu memerintahkan ketiga penggembala dan pengikutnya pindah ke sebelah barat dan selatan kota Singaraja. Yang kebarat banyak tinggal di Seririt dan sekitarnya. Yang keselatan pindah ke rimba raya yang banyak ditumbuhi pohon gatep, tempat tersebut kini bernama Pegayaman yang masyarakatnya seratus persen Islam.

Menurut informasi dari Anak Agung Rejeki Panji Tisna, salah satu keturunan Raja Panji Sakti, bahwa asal usul keturunan Islam di Bali bagian utara, khususnya Singaraja adalah keturuan Raja Panji Sakti sendiri yang bernama Gusti Nyoman Panji yang masuk Islam, dan Islam berhasil berasimilasi dengan penduduk setempat. Hal ini yang membuat Gusti Anak Agung Jelantik menghadiahkan sebuah pintu berukir sangat indah dan sebuah Al-Qur’an yang sampai sekarang masih ada.

Secara keseluruhan umat Islam di Bali tidak lebih dari 5,3 persen dari total penduduk. Walaupun Islam masuk sudah sejak 400 tahun yang lalu.

Tidak ada komentar: