
Sekitar Abad ke-16, Sunan Giri mengirim misi dakwah di bawah pimpinan Sunan
Parapen untuk mengislamkan masyarakat Bali. Misi ini mendapat perlawanan dari
Raja Agung Gelgel. Hampir bersamaan Raja Alauddin dari kerajaan Gowa Makassar
juga datang untuk tujuan yang sama, melakukan Islamisasi di Bali, juga mendapat perlawanan
gigih dari Raja Panji Sakti. Sehingga kedua misi ini kurang berhasil.
Ketika Raja Sutawijaya yang menduduki tahta Mataram, Bali mendapat
perhatian juga dengan menjalin persahabatan. Raja Sutawijaya memberikan seekor
gajah dengan tiga gembala yang beragama Islam. Hadiah gajah itu dibuatkan
tempat di Petakan, kini bernama Banjar Petak dan dimandikan di Peguyangan.
Sedang bekas tinggal ketiga orang penggembala (Jawa) tersebut dinamakan Banjar
Jawa. Ketiga tempat tersebut sampai sekarang masih ada.
Ketiga penggembala juga melakukan tugas dakwah. Karena arif dan
pemberani banyak masyarakat yang simpatik. Hal tersebut menyebabkan Raja Panji
Sakti khawatir. Raja lalu memerintahkan ketiga penggembala dan pengikutnya
pindah ke sebelah barat dan selatan kota Singaraja. Yang kebarat banyak tinggal
di Seririt dan sekitarnya. Yang keselatan pindah ke rimba raya yang banyak
ditumbuhi pohon gatep, tempat tersebut kini bernama Pegayaman yang masyarakatnya seratus persen Islam.
Menurut informasi dari Anak Agung Rejeki Panji Tisna, salah satu
keturunan Raja Panji Sakti, bahwa asal usul keturunan Islam di Bali bagian
utara, khususnya Singaraja adalah keturuan Raja Panji Sakti sendiri yang
bernama Gusti Nyoman Panji yang masuk Islam, dan Islam berhasil berasimilasi
dengan penduduk setempat. Hal ini yang membuat Gusti Anak Agung Jelantik
menghadiahkan sebuah pintu berukir sangat indah dan sebuah Al-Qur’an yang
sampai sekarang masih ada.
Secara keseluruhan umat Islam di Bali tidak lebih dari 5,3 persen dari total
penduduk. Walaupun Islam masuk sudah sejak 400 tahun yang lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar