Dewasa ini kita semua semakin merasakan perlunya peninjauan kembali asumsi-asumsi dasar yang selama ini di pakai dalam proses pembangunan di daerah. Kalau kita coba menukik lebih mendasar pada persoalan bangsa
Persoalan
ketergantungan yang meningkat kepada asing (investasi, privatisasi dan hutang
baru), kemiskinan missal (berdasarkan data dari BPS penduduk miskin di Indonesia mencapai 16,5% atau 37,1 juta
jiwa, sedangkan data dari Bank Dunia mencapai 49,5% atau 106 juta jiwa dan data
dari Askeskin mencapai 76,4 juta jiwa), pengangguran tertutup dan terbuka serta
ancaman penyempitan kesempatan kerja (angka pengangguran di Indonesia mencapai
angka 11, 4 juta jiwa), disparsitas pendapatan antar golongan dan antar lapisan
masyarakat, antar daerah, antar kota dan desa, lingkungan dan mutu hidup yang
terus mengalami kemerosotan, kerusakan dan dislokasi ekologis yang diakibatkan
oleh eksploitasi yang di bawa oleh kegiatan yang tujuannya membangun ekonomi,
dan seterusnya... Semuanya kini muncul dengan wajah baru yang menyentak kita
dan menantang kita.
Kita sebagai mahasiswa tentunya merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang
menimpa masyarakat Indonesia. Sebagai kelompok terdidik yang merupakan lapisan
kecil elite Indonesia yang sampai sekarang sarjana di Indonesia hanya sekitar
5% dari total penduduk Indonesia. Mereka lapisan masyarakat yang memiliki
kemampuan untuk berfikir dan berperan menjadi pendorong bergeraknya kehidupan
masyarakat. Padahal untuk mendorong dinamika dan perubahan sosial yang
berkaitan untuk penungkatan dan perbaikan kualitas hidup dan penghidupan
masyarakat diperlukan setidak-tidaknya 30% kelompok penduduk pada berbagai
keahlian, terutama sekali pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Peran mereka sungguh sangat menentukan
Sisanya di negeri ini dari keseluruhan penduduk, ada 85,7%, hampir
mendekati seluruh jumlah penduduk di negeri ini yang hanya mengenyam pendidikan
dasar, dan termasuk mereka yang drops out
dari sekolah dasar. Kalau kita lihat laporan data ESCAP population data sheet
tahun 2006 ada sebanyak 35,29% rakyat Indonesia tidak tamat SD. Ada sebanyak
34,22 % rakyat indonesia hanya tamat SD dan hanya 13% rakyat indonesia hanya
tamat SMP.
Persoalan yang melingkar
Pertanyaan sekarang ialah, apakah mahasiswa sudah berperan dalam proses
pemberdayaan masyarakat yang bersifat mencerdaskan dan memajukan taraf hidup
mereka? Masih adakah perhatian terhadap kampung halaman yang mengharapkan
uluran tangannya? Menjawab pertanyaan tersebut cukup susah karena beberapa
persoalan senantiasa melingkari realitas mahasiswa. Pertama, mengingat study dan serangkaian kegiatan kampus yang padat
sehingga sangat sedikit mahasiswa yang punya waktu untuk berkumpul dengan
masyarakat khususnya di daerah desa. Kesibukan
mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas kampus lambat laun menciptakan
keengganan untuk merasakan apalagi menyelesaikan persoalan di pedesaan.
Kesibukan mereka adalah bagaimana mahasiswa cepat selesai dengan nilai
memuaskan dan cepat mencari kerja. Jadi kapan mahasiswa memiliki waktu untuk
bercengkerama dengan orang-orang pedesaan?
Kedua, kita tahu bahwa
hampir semua universitas sekarang berada sangat jauh dari lingkungan pedesaan
atau sekarang cenderung berada ditengah kota
missal UGM, UI, ITB, UIN dan yang lain. Dulu lingkungan universitas
keberadaanya banyak diantara lingkungan masyarakat desa seperti UGM yang
memiliki citra “kampus ndesa”, sehingga lebih bisa merasakan langsung
penderitaan yang sedang dialami masyarakat desa. Sekarang ini, kalaupun ada
keluhan atau pengaduan langsung dari masyarakat masih harus menunggu karena ada
mekanisme birokrasi yang harus dipatuhi. Posisi universitas sekarang berada
ditengah kota
secara tidak langsung menjauhkan pergaulan mahasiswa dengan masyarakatnya.
Intensitas pertemuan dan pergaulan mahasiswa dengan budaya kota ketika menjadi dominan memungkinkan
mahasiswa menjadi lupa diri akan perannya dan lupa dengan tanggung jawab
moralnya.
Bermuncullah
kelompok-kelompok intelektual dengan kegemaran menjarah, merusak dan membinasakan
lingkungan pedesaan, hutan dan habitat makhluk hidup. Mereka rubah
budaya-budaya masyarakat menjadi obyek pasar dengan logika masyarakat konsumen.
Para mantan mahasiswa berbondong-bondong ke
desa dengan modal besar untuk menggusur mereka karena menjadikan citra buruk
pembangunan. Lingkungan pedesaan kemudian disulap menjadi bermacam mega proyek
untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Pangkat dan
keilmuan sebagai salah satu sebab yang menciptakan strata sosial dan menentukan
tingkat penghargaan di masyarakat, akan tetapi karena orientasi berfikir
mahasiswa dibentuk dengan logika masyarakat kota , akhirnya menjauhkan dan memisahkan
dirinya dengan kehidupan masyarakat. Ia bersikap masa bodoh terhadap persoalan
yang dihadapi bangsanya yang tinggal di pedesaan karena terbius dengan
kemegahan dan gemerlap kota
karena menyediakan fasilitas yang serba lengkap. Pengaruh pendidikan tinggi
sering menanamkan superiority complex sehingga
gengsi menghalangi mereka untuk bergaul dengan masyarakat yang masih serba sederhana
dan terbelakang. Sering terdengar mahasiswa yang cenderung bersikap oportunis
dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ketiga, kesalahan
universitas kurang memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk bisa
berkomunikasi dengan bahasa masyarakat pedesaan yang cenderung miskin
terbelakang dan buta huruf. Program kuliah kerja nyata (KKN) sebagai bagian
dari proyek keumatan universitas dipahami mahasiswa hanya sebagai bagian dari
mata kuliah. Dalam implementasinya, mahasiswa mencoba seoptimal mungkin meraih nilai
A dan mengindahkan muatan pemberdayaan, orientasi mereka adalah nilai bukan
bagaimana mampu mencerdaskan masyarakat. Sekarang ini sebagian besar masyarakat
pedesaan melihat kedatangan mahasiswa tetap diperlakukan sebagai orang kota yang perlu dilayani
bukan malah sebaliknya; mahasiswa yang melayani masyarakat pedesaan dengan
program-program dan misi universitas yang mencerdaskan.
Keempat, sekarang ini
mahasiswa bahkan menjadi salah satu bagian dari persoalan itu sendiri ditengah
masyarakat pedesaan dengan semakin meningkatnya pengangguran sarjana yang, dilihat dari angka pengangguran terdidik
di Indonesia telah mencapai angka 740 ribu, angka yang fantastis pada tahun
2007 (Republika, 13/02/2008). Meningkatnya jumlah
pengangguran sarjana erat dipicu ketidakmampuan mahasiswa untuk bersaing karena
keterbatasan skill dan lemahnya pembacaan potensi, kesempatan untuk
meningkatkan taraf hidup, ketahanan ekonominya di tengah masyarakat. Sementara
ini kemampuan universitas hanya memberikan teori-teori sedang aplikasinya masih
sangat minim. Akhirnya universitas seperti tempurung yang memenjarakan
mahasiswa dalam aplikasi intelektualnya ditengah masyarakat.
Kelima, ketika mahasiswa nampak mapan karena
mendapatkan pasokan modal kaum kapitalis dengan garis perjuangan
ekonomi-kompromis. Aktivis mahasiswa banyak terlena dengan kecukupan
ekonomi-material dan enggan berkonflik dengan penguasa modal dan penyedot aset
rakyat. Mereka menjadi lupa akan garis perjuangan dan hakekat mahasiswa sebagai
bentuk respon solutif berbagai persoalan dan realitas keumatan yang muncul.
Lebih parah apabila kemapanan normatif menjadi landasan gerak, mereka akan
melihat realitas menggunakan kacamata kuda. Semua serba hitam-putih, baik-buruk
dan tidak mampu berfikir dengan jernih.
Kedua, ketika mahasiswa disusupi tokoh-tokoh
”pejuang politik praktis” yang identik dan lebih dekat ke struktur elite
penguasa plus janji-janji bergula di kursi birokrasi. Maka beramai-ramailah
elite mahasiswa mensosialisasikan politik-kompromis dengan mau menukar idealisme
dan komitmen keumatan dengan kepentingan material-pragmatis.
Munculnya generasi yang
kabur
Kekacauan aktivitas mahasiswa sekarang ini lebih cenderung disebabkan
orientasi gerakan yang berubah dari awalnya yang merupakan gerakan intelektual
dan kultural menjadi gerakan politik. Dominasi warna politik ini bisa kita
lihat dari peran mahasiswa yang selalu mempersoalkan dasar legitimasi
mkekuasaan. Bukan satu kewajiban yang harus ditinggalkan, tetapi ketika
orientasi politik lebih dominan maka akan menghambat terwujudnya daya kreatif
yang tersimpan didalamnya (gerakan inteektual dan kultural). Juga mengutuk
mahasiswa dalam kestabilan yang mantap, stagnan dan mandul. Keadaan ini bisa
menimbulkan sikap pengunduran diri atau apatis, atau seperti yang dikatakan
David Reisman, ”privatisme”: penekanan nilai-nilai yang paling tipis
hubungannya dengan kehidupan sosial. Mahasiswa akan sibuk dengn diri sendiri
dan mempersetankan lingkungan sosial.
Sudah menjadi kelaziman bahwa mahasiswa akan menggantikan generasi
sebelumnya untuk berperan di tengah masyarakat. Karena pada tiap perubahan
masyarakat, generasi muda langsung terlibat didalamnya. Perubahan sosial memang
selalu di tandai dengan kegentingan hubungan antar generasi. Kegentingan ini
terjadi karena keampuhan sistem komunikasi yang efektif yang menyebabkan
prasangka-prasangka.
Kesadaran sejarah diperlukan untuk menentukan kontinuitas orientasi gerakan
merubah masa depan lebih baik dari sekarang dan agar kita tidak kembali memutar
sejarah. Kegagalan harus menjadi pelajaran jangan sampai terulang dan
kesuksesan harus dilanjutkan. Mahasiswa harus kerja keras dalam merumuskan
formula antisipasi mendepan. Bila angkatan ’08 berhasil membukakan mata bangsa
Indonesia bahwa selama berabad-abad kita telah berhasil dibodohi kaum penjajah.
Lalu angkatan ’28 berhasil meletakkan sendi dasar perjuangan bangsa menuju suatu
bangsa yang merdeka, berdaulat dan mandiri dengan ”sumpah pemuda” yang brilian.
Kemudian angkatan ’45 dengan gemilang mampu bahu membahu mempertahankan kemerdekaan
yang baru dicapai. Lalu apa peran mahasiswa sekarang?
Sejak reformasi ’98 gerakan mahasiswa mulai berkonsentrasi pada bisang
politik. Dominasi orientasi politik bisa kita ketahui dari kegiatan organisasi
mahasiswa yang dominan berisi pernyataan politik, mengeritik kebijakan
pemerintah dan menyampaikan nota politik. Saya kira gerakan intelektual dan
kultural harus sesegera mungkin diupayakan. Kemampuan intelektual memberikan
dasar kepada generasi penerus agar tidak terjebak pada pemutlakan satu kebenaran
yang bersumber dari prasangka suatu zaman. Zaman baru, selain selalu merumuskan
ide-ide baru juga tidak melupakan apa yang telah terbengkelai selama belasan
tahun yaitu keterbelakangan, kebodohan dan penindasan represif.
Upaya yang mungkin dilakukan
Dimanapun munculnya perubahan sosial di sunia ini selalu dimotori oleh
pemuda, sekelompok orang yang telah tercerahkan karena kemampuannya menguasai
ilmu pengetahuan. Sebagaimana
yang disabdakan junjungan kita Nabi Muhammad Saw, ”kalau kita ingin dicintai oleh Allah, maka setiap muslim haruslah
menjadi manusia yang kuat”. Kuat dalam artian iman dan taqwanya, kuat dalam
penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kuat secara ekonomi, kuat secara
jasmani dan mental spiritualnya, serta dalam budaya dan politiknya. Menurut
Samuel Huntington, tidak pernah ada masyarakat dhuafa (the haves not) di
dunia ini yang mampu meraih kekuasaan sosial dan politik. Masyarakat dhuafa akan selalu merupakan masyarakat
kelas bawah yang dengan mudah ditindas dan dimarjinalkan menjadi kaum mustadha’afin yang tidak berdaya.
Nabi Muhammad Saw memberikan contoh kepada kita ketika berhasil selama 23
tahun merubah bangsa yang semula jahiliyah menjadi bangsa yang menggemparkan ”umam, muluk wal tarich” (ummat sedunia,
kerajaan dan sejarah). Kenapa berhasil? Tiga jalur kepemimpinan Muhammad begitu
sederhana dan berhasil dalam dimensi yang total. Pertama, Nabi memperbaiki diri dan keluarga. Kedua, Nabi memperbaiki lingkungan dan ketiga, baru masyarakat luas. Sedang dalam metode dan tehniknya,
Nabi langsung memberikan contoh segala hal dari dirinya dulu. Pola kepemimpinan
itu terkenal dengan sebutan ”Ibda
binafsik”, mulailah dengan dan dari diri sendiri dulu.
Barangkali sudah saatnya bagi mahasiswa memikirkan kembali peran-peran yang
selama ini sudah dilakukan, mari kita budayakan gerakan intelektual masuk desa
dengan mahasiswa sebagai lokomotifnya sehingga kesadaran dari mahasiswa akan
membuka jalan bagi kemajuan masyarakat pedesaan. Dengan pengabdian yang
sepenuhnya dari mahasiswa kiranya berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi, akan mudah diserap masyarakat pedesaan sehingga daya kompetisi dan
kemampuan bertahan hidup masyarakat pedesaan meningkat. Cukuplah jangan terus menerus, desa merupakan peringatan sejarah
bahwa disana pernah dilahirkan manusia yang kini menjadi “Orang Besar”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar