Pages

Jumat, 05 Juli 2013

Semangat mahasiswa dalam pembangunan daerah berkelanjutan


Dewasa ini kita semua semakin merasakan perlunya peninjauan kembali asumsi-asumsi dasar yang selama ini di pakai dalam proses pembangunan di daerah. Kalau kita coba menukik lebih mendasar pada persoalan bangsa indonesia kita bias merasakan bahwa bangunan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan yang selama ini kita bina, mengandung elemen-elemen yang rapuh dan oleh karena itu memerlukan pemikiran yang mendasar.

Persoalan ketergantungan yang meningkat kepada asing (investasi, privatisasi dan hutang baru), kemiskinan missal (berdasarkan data dari BPS penduduk miskin di Indonesia mencapai 16,5% atau 37,1 juta jiwa, sedangkan data dari Bank Dunia mencapai 49,5% atau 106 juta jiwa dan data dari Askeskin mencapai 76,4 juta jiwa), pengangguran tertutup dan terbuka serta ancaman penyempitan kesempatan kerja (angka pengangguran di Indonesia mencapai angka 11, 4 juta jiwa), disparsitas pendapatan antar golongan dan antar lapisan masyarakat, antar daerah, antar kota dan desa, lingkungan dan mutu hidup yang terus mengalami kemerosotan, kerusakan dan dislokasi ekologis yang diakibatkan oleh eksploitasi yang di bawa oleh kegiatan yang tujuannya membangun ekonomi, dan seterusnya... Semuanya kini muncul dengan wajah baru yang menyentak kita dan menantang kita.

Kita sebagai mahasiswa tentunya merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang menimpa masyarakat Indonesia. Sebagai kelompok terdidik yang merupakan lapisan kecil elite Indonesia yang sampai sekarang sarjana di Indonesia hanya sekitar 5% dari total penduduk Indonesia. Mereka lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berfikir dan berperan menjadi pendorong bergeraknya kehidupan masyarakat. Padahal untuk mendorong dinamika dan perubahan sosial yang berkaitan untuk penungkatan dan perbaikan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat diperlukan setidak-tidaknya 30% kelompok penduduk pada berbagai keahlian, terutama sekali pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Peran mereka sungguh sangat menentukan

Sisanya di negeri ini dari keseluruhan penduduk, ada 85,7%, hampir mendekati seluruh jumlah penduduk di negeri ini yang hanya mengenyam pendidikan dasar, dan termasuk mereka yang drops out dari sekolah dasar. Kalau kita lihat laporan data ESCAP population data sheet tahun 2006 ada sebanyak 35,29% rakyat Indonesia tidak tamat SD. Ada sebanyak 34,22 % rakyat indonesia hanya tamat SD dan hanya 13% rakyat indonesia hanya tamat SMP.

Persoalan yang melingkar
Pertanyaan sekarang ialah, apakah mahasiswa sudah berperan dalam proses pemberdayaan masyarakat yang bersifat mencerdaskan dan memajukan taraf hidup mereka? Masih adakah perhatian terhadap kampung halaman yang mengharapkan uluran tangannya? Menjawab pertanyaan tersebut cukup susah karena beberapa persoalan senantiasa melingkari realitas mahasiswa. Pertama, mengingat study dan serangkaian kegiatan kampus yang padat sehingga sangat sedikit mahasiswa yang punya waktu untuk berkumpul dengan masyarakat khususnya di daerah desa. Kesibukan mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas kampus lambat laun menciptakan keengganan untuk merasakan apalagi menyelesaikan persoalan di pedesaan. Kesibukan mereka adalah bagaimana mahasiswa cepat selesai dengan nilai memuaskan dan cepat mencari kerja. Jadi kapan mahasiswa memiliki waktu untuk bercengkerama dengan orang-orang pedesaan?

Kedua, kita tahu bahwa hampir semua universitas sekarang berada sangat jauh dari lingkungan pedesaan atau sekarang cenderung berada ditengah kota missal UGM, UI, ITB, UIN dan yang lain. Dulu lingkungan universitas keberadaanya banyak diantara lingkungan masyarakat desa seperti UGM yang memiliki citra “kampus ndesa”, sehingga lebih bisa merasakan langsung penderitaan yang sedang dialami masyarakat desa. Sekarang ini, kalaupun ada keluhan atau pengaduan langsung dari masyarakat masih harus menunggu karena ada mekanisme birokrasi yang harus dipatuhi. Posisi universitas sekarang berada ditengah kota secara tidak langsung menjauhkan pergaulan mahasiswa dengan masyarakatnya. Intensitas pertemuan dan pergaulan mahasiswa dengan budaya kota ketika menjadi dominan memungkinkan mahasiswa menjadi lupa diri akan perannya dan lupa dengan tanggung jawab moralnya.

Bermuncullah kelompok-kelompok intelektual dengan kegemaran menjarah, merusak dan membinasakan lingkungan pedesaan, hutan dan habitat makhluk hidup. Mereka rubah budaya-budaya masyarakat menjadi obyek pasar dengan logika masyarakat konsumen. Para mantan mahasiswa berbondong-bondong ke desa dengan modal besar untuk menggusur mereka karena menjadikan citra buruk pembangunan. Lingkungan pedesaan kemudian disulap menjadi bermacam mega proyek untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Pangkat dan keilmuan sebagai salah satu sebab yang menciptakan strata sosial dan menentukan tingkat penghargaan di masyarakat, akan tetapi karena orientasi berfikir mahasiswa dibentuk dengan logika masyarakat kota, akhirnya menjauhkan dan memisahkan dirinya dengan kehidupan masyarakat. Ia bersikap masa bodoh terhadap persoalan yang dihadapi bangsanya yang tinggal di pedesaan karena terbius dengan kemegahan dan gemerlap kota karena menyediakan fasilitas yang serba lengkap. Pengaruh pendidikan tinggi sering menanamkan superiority complex sehingga gengsi menghalangi mereka untuk bergaul dengan masyarakat yang masih serba sederhana dan terbelakang. Sering terdengar mahasiswa yang cenderung bersikap oportunis dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Ketiga, kesalahan universitas kurang memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa masyarakat pedesaan yang cenderung miskin terbelakang dan buta huruf. Program kuliah kerja nyata (KKN) sebagai bagian dari proyek keumatan universitas dipahami mahasiswa hanya sebagai bagian dari mata kuliah. Dalam implementasinya, mahasiswa mencoba seoptimal mungkin meraih nilai A dan mengindahkan muatan pemberdayaan, orientasi mereka adalah nilai bukan bagaimana mampu mencerdaskan masyarakat. Sekarang ini sebagian besar masyarakat pedesaan melihat kedatangan mahasiswa tetap diperlakukan sebagai orang kota yang perlu dilayani bukan malah sebaliknya; mahasiswa yang melayani masyarakat pedesaan dengan program-program dan misi universitas yang mencerdaskan.

Keempat, sekarang ini mahasiswa bahkan menjadi salah satu bagian dari persoalan itu sendiri ditengah masyarakat pedesaan dengan semakin meningkatnya pengangguran sarjana yang, dilihat dari angka pengangguran terdidik di Indonesia telah mencapai angka 740 ribu, angka yang fantastis pada tahun 2007 (Republika, 13/02/2008). Meningkatnya jumlah pengangguran sarjana erat dipicu ketidakmampuan mahasiswa untuk bersaing karena keterbatasan skill dan lemahnya pembacaan potensi, kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup, ketahanan ekonominya di tengah masyarakat. Sementara ini kemampuan universitas hanya memberikan teori-teori sedang aplikasinya masih sangat minim. Akhirnya universitas seperti tempurung yang memenjarakan mahasiswa dalam aplikasi intelektualnya ditengah masyarakat.

Kelima, ketika mahasiswa nampak mapan karena mendapatkan pasokan modal kaum kapitalis dengan garis perjuangan ekonomi-kompromis. Aktivis mahasiswa banyak terlena dengan kecukupan ekonomi-material dan enggan berkonflik dengan penguasa modal dan penyedot aset rakyat. Mereka menjadi lupa akan garis perjuangan dan hakekat mahasiswa sebagai bentuk respon solutif berbagai persoalan dan realitas keumatan yang muncul. Lebih parah apabila kemapanan normatif menjadi landasan gerak, mereka akan melihat realitas menggunakan kacamata kuda. Semua serba hitam-putih, baik-buruk dan tidak mampu berfikir dengan jernih.

Kedua, ketika mahasiswa disusupi tokoh-tokoh ”pejuang politik praktis” yang identik dan lebih dekat ke struktur elite penguasa plus janji-janji bergula di kursi birokrasi. Maka beramai-ramailah elite mahasiswa mensosialisasikan politik-kompromis dengan mau menukar idealisme dan komitmen keumatan dengan kepentingan material-pragmatis.

Munculnya generasi yang kabur
Kekacauan aktivitas mahasiswa sekarang ini lebih cenderung disebabkan orientasi gerakan yang berubah dari awalnya yang merupakan gerakan intelektual dan kultural menjadi gerakan politik. Dominasi warna politik ini bisa kita lihat dari peran mahasiswa yang selalu mempersoalkan dasar legitimasi mkekuasaan. Bukan satu kewajiban yang harus ditinggalkan, tetapi ketika orientasi politik lebih dominan maka akan menghambat terwujudnya daya kreatif yang tersimpan didalamnya (gerakan inteektual dan kultural). Juga mengutuk mahasiswa dalam kestabilan yang mantap, stagnan dan mandul. Keadaan ini bisa menimbulkan sikap pengunduran diri atau apatis, atau seperti yang dikatakan David Reisman, ”privatisme”: penekanan nilai-nilai yang paling tipis hubungannya dengan kehidupan sosial. Mahasiswa akan sibuk dengn diri sendiri dan mempersetankan lingkungan sosial.

Sudah menjadi kelaziman bahwa mahasiswa akan menggantikan generasi sebelumnya untuk berperan di tengah masyarakat. Karena pada tiap perubahan masyarakat, generasi muda langsung terlibat didalamnya. Perubahan sosial memang selalu di tandai dengan kegentingan hubungan antar generasi. Kegentingan ini terjadi karena keampuhan sistem komunikasi yang efektif yang menyebabkan prasangka-prasangka.

Kesadaran sejarah diperlukan untuk menentukan kontinuitas orientasi gerakan merubah masa depan lebih baik dari sekarang dan agar kita tidak kembali memutar sejarah. Kegagalan harus menjadi pelajaran jangan sampai terulang dan kesuksesan harus dilanjutkan. Mahasiswa harus kerja keras dalam merumuskan formula antisipasi mendepan. Bila angkatan ’08 berhasil membukakan mata bangsa Indonesia bahwa selama berabad-abad kita telah berhasil dibodohi kaum penjajah. Lalu angkatan ’28 berhasil meletakkan sendi dasar perjuangan bangsa menuju suatu bangsa yang merdeka, berdaulat dan mandiri dengan ”sumpah pemuda” yang brilian. Kemudian angkatan ’45 dengan gemilang mampu bahu membahu mempertahankan kemerdekaan yang baru dicapai. Lalu apa peran mahasiswa sekarang?

Sejak reformasi ’98 gerakan mahasiswa mulai berkonsentrasi pada bisang politik. Dominasi orientasi politik bisa kita ketahui dari kegiatan organisasi mahasiswa yang dominan berisi pernyataan politik, mengeritik kebijakan pemerintah dan menyampaikan nota politik. Saya kira gerakan intelektual dan kultural harus sesegera mungkin diupayakan. Kemampuan intelektual memberikan dasar kepada generasi penerus agar tidak terjebak pada pemutlakan satu kebenaran yang bersumber dari prasangka suatu zaman. Zaman baru, selain selalu merumuskan ide-ide baru juga tidak melupakan apa yang telah terbengkelai selama belasan tahun yaitu keterbelakangan, kebodohan dan penindasan represif.

Upaya yang mungkin dilakukan
Dimanapun munculnya perubahan sosial di sunia ini selalu dimotori oleh pemuda, sekelompok orang yang telah tercerahkan karena kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang disabdakan junjungan kita Nabi Muhammad Saw, ”kalau kita ingin dicintai oleh Allah, maka setiap muslim haruslah menjadi manusia yang kuat”. Kuat dalam artian iman dan taqwanya, kuat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kuat secara ekonomi, kuat secara jasmani dan mental spiritualnya, serta dalam budaya dan politiknya. Menurut Samuel Huntington, tidak pernah ada masyarakat dhuafa (the haves not) di dunia ini yang mampu meraih kekuasaan sosial dan politik. Masyarakat dhuafa akan selalu merupakan masyarakat kelas bawah yang dengan mudah ditindas dan dimarjinalkan menjadi kaum mustadha’afin yang tidak berdaya.

Nabi Muhammad Saw memberikan contoh kepada kita ketika berhasil selama 23 tahun merubah bangsa yang semula jahiliyah menjadi bangsa yang menggemparkan ”umam, muluk wal tarich” (ummat sedunia, kerajaan dan sejarah). Kenapa berhasil? Tiga jalur kepemimpinan Muhammad begitu sederhana dan berhasil dalam dimensi yang total. Pertama, Nabi memperbaiki diri dan keluarga. Kedua, Nabi memperbaiki lingkungan dan ketiga, baru masyarakat luas. Sedang dalam metode dan tehniknya, Nabi langsung memberikan contoh segala hal dari dirinya dulu. Pola kepemimpinan itu terkenal dengan sebutan ”Ibda binafsik”, mulailah dengan dan dari diri sendiri dulu.

Barangkali sudah saatnya bagi mahasiswa memikirkan kembali peran-peran yang selama ini sudah dilakukan, mari kita budayakan gerakan intelektual masuk desa dengan mahasiswa sebagai lokomotifnya sehingga kesadaran dari mahasiswa akan membuka jalan bagi kemajuan masyarakat pedesaan. Dengan pengabdian yang sepenuhnya dari mahasiswa kiranya berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, akan mudah diserap masyarakat pedesaan sehingga daya kompetisi dan kemampuan bertahan hidup masyarakat pedesaan meningkat. Cukuplah jangan terus menerus, desa merupakan peringatan sejarah bahwa disana pernah dilahirkan manusia yang kini menjadi “Orang Besar”.

Tidak ada komentar: