SIAPA ATAU DENGAN CARA APA BANGSA MELAYU DI ISLAMKAN, SAMPAI SEMUA BANGSA MELAYU MENJADI ISLAM..?? DARI SUMATERA, MALAYSIA, BRUNEI, PATANI, MORO DAN ROHINGYA MENJADI PENGANUT ISLAM KUAT
Judul
Buku: ISLAM Dalam Sejarah Dan Kebudayaan Melayu
Penulis:
Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Penerbit:
Mizan
Tahun
Terbit: 1990
Jumlah
halaman: 111 halaman
Buku
kecil dan tipis ini merupakan risalah Naquib Al-Attas tentang cara pandang baru
orang Melayu terhadap sejarah mereka. Secara umum juga meletakkan pondasi
bagaimana kita memperlakukan sejarah sebagai cabang filsafat memiliki pondasi
dan cara pandang yang kokoh. Tesis yang dikembangkan oleh Naquib Al-Attas
adalah meluasnya Islam pada bangsa Melayu karena menggunakan bahasa Melayu
sebagai pengantar, bukan karena perdagangan dan kekuasaan. Dua faktor terakhir
kemudian beriringan menjadi pendukung Islam meluas dengan cepat.
Dasar
pemahaman orang Melayu bahwa mereka lebih cenderung pada hal-hal seni dari pada
filsafat. Hal ini terbukti mereka tidak mampu menangkap kehalusan metafisika
Hindu atau dengan sengaja dan oleh sebab bawaan dirinya, mengabaikan filsafat
dan disesuaikan dengan keadaan jiwanya (hal: 30). Konsepsi ini menjadi dasar
dalam merunut perkembangan sejarah, yang dimulai dari zaman seni kemudian zaman
modern yang lebih lebih rasional dan ditandai dengan banyaknya melakukan
pengkajian alam semesta dengan mengikuti tata tertib akal.
Kritik
Naquib Al-Attas terhadap sejarah ajaran Hindu Budha di Sumatera dan Jawa,
menjelaskan bahwa kegagalan ajaran metafisika Hindu Budha karena tidak
menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar, malah menggunakan bahasa
Sansekerta yang notabene ini adalah bahasa impor dari India. Namun, Naquib
Al-Attas juga tidak sepakat bahwa ketika Islam kemudian menyebar di Sumatera
dan Jawa mengalami sinkretisme ajaran (hal: 35)
Menarik
jika kita menyimak penjelasan lebih lanjut Naquib bahwa ketika Islam masuk ke
Sumatera kemudian menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar akhirnya
mengalami sukses besar. Pendapat ini mengisyaratkan bagaimana keluesan Islam
dan bagaimana orang Melayu memiliki daya elastisitas dan kelenturan budaya. Pertanyaannya
adalah, kenapa mubaligh Islam tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa baku
agama dan pengantar dalam dakwah?
Bahwa
Islam masuk ke Melayu tetap membutuhkan penyesuian dengan budaya setempat. Bahasa
Melayu yang digunakan sebagai pengantar menjadi bahasa utama dakwah dan itu
yeng menyebabkan Islam menyebar dengan cepat dan menjadi agama orang Melayu. Kejayaan
agama Budha pada abad ke V-VII seperti tidak ada sisanya lagi. Jadi inilah yang
menjadi alasan dan sebab utama cepatnya proses Islamisasi bangsa Melayu. Sampai
menjadi pemahaman bersama bangsa Melayu adalah bangsa Islam. Mengenai bahasa
Melayu yang sejak awal menjadi bahasa seni, bahasa metafisika bangsa Melayu
kemudian mendapat sentuhan bahasa Arab yang lebih dominan pada bahasa “saintifik”
dibandingkan bahasa ‘estetik” dalam struktur gayanya. Inilah yang mendorong modernisasi
bangsa-bangsa dimana Islam masuk dan berkembang. Penekanan Naquib pada pokok
bahasa sebagai identitas kebudayaan Bangsa ini menarik. Bagaimana bahasa melayu
pada masanya sudah menjadi lingua franca seluruh kepulauan nusantara untuk
berdagang. Bahasa Melayu juga masih murni dari kontaminasi agama yang datang ke
Nusantara (Hindu dan Budha).
Pertanyaan
terakhir yang tidak dijelaskan Naquib adalah: siapa tokoh pembaharu modernisasi
bangsa Melayu..??
Syed
Naquib Al-Attas memang perlu menjelaskan bagaimana persinggungan filsafat
Yunani dan Helenisme dengan saintifik Islam yang kemudian melahirkan peradaban
modern Islam. Akal dalam Islam memang memiliki posisi sangat penting dan
menjadi sumber utama keyakinan agama. Agar akal menjadi sumber pengetahuan
perlu didukung oleh metodologi yang sudah kokoh dan mapan. Hal tersebut sudah
dikembangkan lama oleh pemikir Yunani dan Romawi sejak berabad-abad sebelumnya.
Islam kemudian mengalami zaman kemajuan pengetahuan yang luar biasa setelah
tiga komponen sumber pengetahuan digunakan secara maksimal. Konsep Bayani yang
bersumber pada teks Qur’an dan Hadist, Burhani yang bersumber pada akal murni
dan Irfani yang bersumber pada intuisi.
Selamat
membaca buku kecil ini. Bahasa adalah budaya.. pertanyaan mendasarku tentang
siapa yang melakukan Islamisasi bangsa Melayu dijawab sudah oleh Naquib..
terimakasih..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar