Pages

Rabu, 09 Januari 2013

RESENSI BUKU


SIAPA ATAU DENGAN CARA APA BANGSA MELAYU DI ISLAMKAN, SAMPAI SEMUA BANGSA MELAYU MENJADI ISLAM..?? DARI SUMATERA, MALAYSIA, BRUNEI, PATANI, MORO DAN ROHINGYA MENJADI PENGANUT ISLAM KUAT


Judul Buku: ISLAM Dalam Sejarah Dan Kebudayaan Melayu
Penulis: Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 1990
Jumlah halaman: 111 halaman

Buku kecil dan tipis ini merupakan risalah Naquib Al-Attas tentang cara pandang baru orang Melayu terhadap sejarah mereka. Secara umum juga meletakkan pondasi bagaimana kita memperlakukan sejarah sebagai cabang filsafat memiliki pondasi dan cara pandang yang kokoh. Tesis yang dikembangkan oleh Naquib Al-Attas adalah meluasnya Islam pada bangsa Melayu karena menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar, bukan karena perdagangan dan kekuasaan. Dua faktor terakhir kemudian beriringan menjadi pendukung Islam meluas dengan cepat.

Dasar pemahaman orang Melayu bahwa mereka lebih cenderung pada hal-hal seni dari pada filsafat. Hal ini terbukti mereka tidak mampu menangkap kehalusan metafisika Hindu atau dengan sengaja dan oleh sebab bawaan dirinya, mengabaikan filsafat dan disesuaikan dengan keadaan jiwanya (hal: 30). Konsepsi ini menjadi dasar dalam merunut perkembangan sejarah, yang dimulai dari zaman seni kemudian zaman modern yang lebih lebih rasional dan ditandai dengan banyaknya melakukan pengkajian alam semesta dengan mengikuti tata tertib akal.

Kritik Naquib Al-Attas terhadap sejarah ajaran Hindu Budha di Sumatera dan Jawa, menjelaskan bahwa kegagalan ajaran metafisika Hindu Budha karena tidak menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar, malah menggunakan bahasa Sansekerta yang notabene ini adalah bahasa impor dari India. Namun, Naquib Al-Attas juga tidak sepakat bahwa ketika Islam kemudian menyebar di Sumatera dan Jawa mengalami sinkretisme ajaran (hal: 35)

Menarik jika kita menyimak penjelasan lebih lanjut Naquib bahwa ketika Islam masuk ke Sumatera kemudian menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar akhirnya mengalami sukses besar. Pendapat ini mengisyaratkan bagaimana keluesan Islam dan bagaimana orang Melayu memiliki daya elastisitas dan kelenturan budaya. Pertanyaannya adalah, kenapa mubaligh Islam tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa baku agama dan pengantar dalam dakwah?

Bahwa Islam masuk ke Melayu tetap membutuhkan penyesuian dengan budaya setempat. Bahasa Melayu yang digunakan sebagai pengantar menjadi bahasa utama dakwah dan itu yeng menyebabkan Islam menyebar dengan cepat dan menjadi agama orang Melayu. Kejayaan agama Budha pada abad ke V-VII seperti tidak ada sisanya lagi. Jadi inilah yang menjadi alasan dan sebab utama cepatnya proses Islamisasi bangsa Melayu. Sampai menjadi pemahaman bersama bangsa Melayu adalah bangsa Islam. Mengenai bahasa Melayu yang sejak awal menjadi bahasa seni, bahasa metafisika bangsa Melayu kemudian mendapat sentuhan bahasa Arab yang lebih dominan pada bahasa “saintifik” dibandingkan bahasa ‘estetik” dalam struktur gayanya. Inilah yang mendorong modernisasi bangsa-bangsa dimana Islam masuk dan berkembang. Penekanan Naquib pada pokok bahasa sebagai identitas kebudayaan Bangsa ini menarik. Bagaimana bahasa melayu pada masanya sudah menjadi lingua franca seluruh kepulauan nusantara untuk berdagang. Bahasa Melayu juga masih murni dari kontaminasi agama yang datang ke Nusantara (Hindu dan Budha).

Pertanyaan terakhir yang tidak dijelaskan Naquib adalah: siapa tokoh pembaharu modernisasi bangsa Melayu..??
Syed Naquib Al-Attas memang perlu menjelaskan bagaimana persinggungan filsafat Yunani dan Helenisme dengan saintifik Islam yang kemudian melahirkan peradaban modern Islam. Akal dalam Islam memang memiliki posisi sangat penting dan menjadi sumber utama keyakinan agama. Agar akal menjadi sumber pengetahuan perlu didukung oleh metodologi yang sudah kokoh dan mapan. Hal tersebut sudah dikembangkan lama oleh pemikir Yunani dan Romawi sejak berabad-abad sebelumnya. Islam kemudian mengalami zaman kemajuan pengetahuan yang luar biasa setelah tiga komponen sumber pengetahuan digunakan secara maksimal. Konsep Bayani yang bersumber pada teks Qur’an dan Hadist, Burhani yang bersumber pada akal murni dan Irfani yang bersumber pada intuisi.

Selamat membaca buku kecil ini. Bahasa adalah budaya.. pertanyaan mendasarku tentang siapa yang melakukan Islamisasi bangsa Melayu dijawab sudah oleh Naquib.. terimakasih.. 

Tidak ada komentar: