Tanggal 2 November 2024, Presiden Prabowo mendeklarasikan Gerakan Solidaritas Nasional. Gerakan ini dipimpin oleh Rosan Ruslani yang juga Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN). Prabowo menjelaskan, perjuangan kita belum selesai, sehingga perlu melanjutkan gerakan TKN menjadi gerakan untuk bergerak mersama mewujudkan bangsa Indonesia rakyatnya hidup dengan baik, hidup dengan sejahtera. Ini adalah perjuangan yang dicita-citakan semua Ormas, semua partai.
Pesan penting Prabowo adalah kemauan, semua pengurus Gerakan Solidaritas Nasional menyumbang Rp 100.000 per orang, akan mampu menyekolahkan anak-anak miskin di Indonesia. Itulah satu semangat solidaritas, satu rasa senasib sepenanggungan.
Kata solidaritas nasional biasanya dekat dengan kejadian bencana dalam bentuk keterlibatan secara gotong royong. Solidaritas nasional biasanya muncul setelah mendefinisikan bencana yang ada di sekitar kita. Tidak hanya bencana alam, juga bencana sosial, seperti kemiskinan, kebodohan, tidak mampu sekolah, tidak dapat makan bergizi. Dalam kontek inilah Prabowo menekankan Gerakan Solidaritas Nasional.
Saya jadi ingat, membicarakan solidaritas nasional ketika gempa Yogyakarta 2006. Ketika itu muncul fenomena, dimana semua orang di desa-desa sekitar Yogyakarta, memberangkatkan semua yang mau untuk menjadi relawan di Yogyakarta. Dari desaku, Kalibeji, Kecamatan Sempor, Kebumen, memberangkatkan dua truk berisi ratusan orang. Mereka membawa bekal sendiri selama dua hari. Membawa peralatan bongkar puing dan material sendiri.
Semua bergerak bersama membantu warga DIY yang tertimpa bencana. Setelah menentukan lokasi yang perlu dibantu membersihkan puing bangunan yang hancur. Mereka bergerak serentak membersihkan rumah-rumah yang hancur. Setelah semuanya sudah dibenahi, pasukan relawan ini pulang. Penyintas bencana pun bisa bekerja yang lain untuk membangun sosial ekonominya.
Fenomena tersebut menjelaskan bahwa semangat ‘gotong royong’ masih sangat kuat. Yang kita tahu, gotong royong berakar jauh pada adat istiadat masyarakat Indonesia sebagai pola demokrasi tradisional khas budaya timur Indonesia.
Seperti penjelasan Mohammad Hatta, ‘di desa-desa, sistem yang gotong royong masih kuat dan hidup sehat sebagai bagian dari adat istiadat yang hakiki, dasarnya adalah kepemilikan tanah yang komunal yaitu setiap orang merasa bahwa ia harus bertindak berdasarkan persetujuan bersama, sewaktu mengadakan kegiatan sosial-ekonomi.
Setiap aktivitas mewujud dalam bentuk ‘solidaritas sosial’. Model lama dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia misalnya dalam bentuk memanen padi, hasil pertanian, atau membangun rumah, selalu dengan pola gotong royong. Sebagai bentuk gotong royong, maka partisipasi dalam Gerakan Solidaritas Nasional adalah aktivisme kemanusiaan dan kedermawanan.
Lebih jauh, dalam aktivisme kemanusiaan, solidaritas sosial ini kemudian menjadi basis kemanusiaan masyarakat Indonesia, khususnya pada saat terjadi bencana. Panggilan kemanusiaan, jika mampu mereka menyumbangkan tenaga, pikiran dan hartanya, atau hanya salah satunya.
Kedermawanan Indonesia diakui dunia sampai menjadi negara tertinggi angka kedermawanannya. Badan amal Inggris, Charities Aid Foundation (CAF), telah menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia tahun 2018. Diikuti oleh Australia di tempat kedua dan Selandia Baru di tempat ketiga.
Kita bisa melihat bersama fenomena saat awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia, semua orang, tidak membedakan kemampuan ekonomi, berpartisipasi semampunya membantu mereka yang terdampak. Tidak kita temukan akibat pandemi sampai terjadi bencana kelaparan.
Sudah seperti menjadi ‘gerakan sosial’ pada setiap bencana, tanpa komando dan contoh pimpinan, masyarakat bergerak sendiri membantu semampunya. Selain dipelopori oleh lembaga kemanusiaan dan lembaga filantropi yang menjamur, yang jumlahnya bisa jadi sudah ada ratusan sekarang, baik yang bersifat lokal, spesifik sesuai bidang tertentu, dikelola oleh lembaga profit, pemerintah atau lembaga kemanusiaan.
Kegairahan ‘solidaritas nasional’ kemanusiaan juga dipelopori oleh Organisasi Massa yang jumlahnya juga tidak sedikit dengan level dari yang bersifat lokal, jamaah, komunitas, kelompok hobi sampai level internasional seperti Muhammadiyah, Nahdlatul ‘Ulama, dan Gerakan Solidaritas Nasional.
Selain partisipasi pada setiap kejadian bencana alam, kesadaran masyarakat juga mulai tumbuh dengan terlibat pada program lingkungan, kemiskinan, kebodohan, program konservasi dan berbagai aktivitas sosial kemanusiaan yang spesifik. Energi kedermawanan dan kemanusiaan ini juga penting diarahkan pada bagaimana ikut bersama-sama mengurangi risiko bencana sehingga menjadi kesadaran bersama.
Hal yang masih belum menjadi perhatian penuh adalah ‘gerakan sosial’ kemanusiaan diarahkan untuk mengorganisasi dan memobilisasi manusia, masyarakat untuk mempersiapkan terjadinya bencana, mitigasi bencana, aktivitas pascabencana dan bersama-sama menyusun konsep manajemen bencana. Dengan modal penting ‘solidaritas sosial’ yang sudah sangat mengakar, saya kira hal ini akan mudah dilakukan.
Prabowo menantang semua orang yang menjadi kadernya, untuk peduli kepada anak-anak yang tidak pernah makan bergizi. Anak-anak yang masih belum memiliki seragam sekolah yang baik. Saya pernah menulis buku “Tepian Negeri” cerita tentang mimpi anak-anak di pulau-pulau terluar Indonesia. Cerita anak-anak sekolah di Pulau Pantar pulau kecil di depan Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyedihkan diceritakan. Ironis memang, sepatu mereka paling hanya dapat bertahan tiga bulan karena harus dipakai untuk berjalan berkilo-kilo meter di medan bebatuan. Makanan mereka adalah nasi titi, nasi dicampur jagung dengan lauk ikan hasil tangkap nelayan. Untuk melanjutkan ke SMP dan seterusnya harus menyebrang laut ke pulau lain.
Cerita ini mirip di Kabupaten Kepulauan Anambas, lalulintas utama anak-anak sekolah dengan kapal untuk sekolah.
Mimpi yang lain anak-anak sekolah di tepian negeri adalah perpustakaan yang hampir tidak ada, gedung sekolah yang tidak layak. Kepedulian Prabowo pada nasib anak sekolah ini membuat mimpi-mimpi mereka bisa jadi kenyataan. Dapat sekolah dengan layak, makan siang gratis, seragam yang baik, pendidikan berkualitas, kesehatan yang terjangkau.
Tidak hanya mimpi, ketika anak-anak sekolah di Pulau Kabetan salah satu pulau di atas Toli-Toli, Sulawesi Tengah ketika saya tanya apa mimpi mereka, “pengen liburan ke luar negeri di Palu.” Bayangkan, ibukota provinsi mereka di sebut luar negeri.
Wassalam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar