Dari surau ini
Kudengar lirih derak janteramu, sayup dan
manis
Kubertanya dalam hati, untuk baju yang
bagaimana
Sehingga kau amat perlu akan benang sariku
Untuk segera siang hari ini menenunnya
Ditengah terik siang yang durjana
Lalu terdengar desah ujung jubahmu, ditikar
tua surau ini
Ku bertanya dalam hati, ketika aku sampai
kepada fajar
Setelah rampung sujud syahwi
Untuk keperluan yang bagaimanakah
Sehingga kau perlu sedemikian pagi
Menemuiku disini
Juga ketika surat An-Nas tengah menadahi
embun pagi
Engkau bergegas membentangkan fajar
Lalu sunyi tinggalah sebagai sunyi
Seperti ada yang kau tinggalkan untukku
Ternyata telah kau beri aku sehelai kain
sajadah
Untuk mensujudkan gerak hidup matiku disitu
Ia terbuat dari benang sariku
Dari kejujuran dan sandiwaraku
Dari hitam putih, dari segalaku
Lalu atas kebaikan yang tak terhingga ini,
Tuhanku
Aku tak punya apa-apa untuk-Mu, selain
kedua telapak tangan
Yang selalu tertengadah keatas langit-Mu
Dalam rinduku yang gemetar kutulis sajak
ini
Kuantar ke-Arsy-Mu yang fitri
Ampunilah pendo’a yang hina ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar